Cinta Sang Penulis
Pagi yang cerah untuk bumi pertiwi. Keep smile. Good morning everybody !!
Aku membuka mata dengan diiringi do’a. Semoga hari ini jauh lebih baik dari hari kemarin. Amin. Aku mengamini doaku pagi ini. Aku membuka selimut yang sejak malam melindungi tubuhku dari dinginnya malam.
Hoaaaammmm. Mulutku terbuka lebar. Memang aku masih mengantuk pagi ini. Semalam aku tidur terlalu larut. Aku mengusap-ngusap kedua mataku untuk memperjelas pandanganku. Tapi aku terdiam sejenak. Ada yang ganjal. Apa yaahh? Aku terus mengotak-atik isi kepala ku. Nyawa ditubuhku belum menyatu sepenuhnya. Apa yaahhh?
Seakan-akan ada sebuah lampu yang menyala diatas kepalaku. Yawaku pulih. Otakku bekerja.
Lappy !!!
Iya itu dia. Lappy kesayanganku. Dia dimana yah?? Semalaman aku memang sengaja tidak membukanya. Karena tugas sekolah yang menumpuk. Aku langsung bangkit dari tempat tidurku. Hampir saja aku ambruk karena tersangkut oleh selimut. Aku mencarinya dilemari, dimeja belajar, bahkan dikamar mandi pun sampai aku periksa. Yaaaa siapa tau aja ada. Kamarku sekarang sudah seperti kapal pecah. Aku tidak menemukan lappy ku. Mentang-mentang kecil. Pasti keselip nih. Pikirku positif.
”Ridaaa !!!” suara Mama bersua.
”Iya Mah aku udah bangun. Udah rapih.” teriakku kemudian. Aku memang to the point, karena pasti Mama menanyakan ”Kamu udah bangun belum?” ”Kamu dah mandi belum.” ”Cepetan yah!!” Setiap pagi pasti menanyakan itu. Jadi aku tau persis jawaban apa yang akan aku berikan kepada Mama.
Suara pintu diketuk. ”Rida !!!” Mama menghampiri kamarku. Nanti aku ketahuan nih kalo aku berbohong. Padahal aku belum ngapa-ngapain. Nyentuh air aja belum.
”Iyaa Mah, ada ap....” Aku menghentikan kata-kataku saat Mama menunjukkan Lappy didepanku. Itu dia Lappy ku. Aku langsung merampasnya dari tangan Mama sambil jingkrak-jingkrakan. ”Kok sama Mama?” tanyaku kemudian sambil menggenggam Lappyku.
”Sama Mama. Kamu sendiri yang naronya sembarangan. Mama nemuin HP kamu dibawah meja deket ruang tamu. Makannya kamu jangan selebor gini dong Da.” Mama terus menasehatiku.
Dan aku? Hanya ber ”O” saja.
”Kok kamu belum rapih? Katanya udah rapih?” Mama mulai mencurigaiku. Mama menoleh kedalam kamarku. ”Kamar kamu juga berantakan banget.” Mama memelototiku.
Aku hanya ber ”Hehe” ria dan langsung menutup pintu.
”RIDAA !!! Mama tunggu kamu lima belas menit yah dibawah. Awas kalo masih belum rapih juga.” ancam Mama dibalik pintu kamarku.
”Yesss Maaaammmm!!” teriakku yang langsung menuju kamar mandi.
Okeh sebelum aku melanjutkan ceritanya, aku mau menceritakan dulu tentang Lappy kesayangan Rose Ridawati, yang biasa dipanggil Rida ini. Yang dimaksud Lappy disini adalah Handphone 6630. Hahaaha. Mungkin sebelumnya pasti teman-teman mengira Lappy itu Laptop yah? Ehm... itu salah besar. Kenapa Rose memberi nama Lappy untuk Handphonenya? Karena Hpnya lebar seperti layar laptop ( alasan yang gak masuk akal). Terus bentuknya yang montok , bohay bak biola tak berdawai ini juga sangat menggemaskan.
Aku sudah berada dimeja makan bersama Mama saja. Kebetulan Papah sedang dinas diluar kota. Jadi kami hanya berdua dirumah ini.
”Rida, makan dulu donk. Jangan main Hp mulu.” tegur Mama.
”Bukan Hp Mah, tapi ini Lappy.” Aku menggoda Mama. Yang pertama aku buka Lappyku adalah Facebook. Aku menuju ke home. Ehm...ada 1 friend request. Pagi-pagi facebook ku sudah ada yang nge add. Aku tersenyum datar. Sudah biasa…. #sombongnyaaaa. Aku mengcomfrimnya. Dan temanku pun bertambah satu. Aku tersenyum kemudian sambil melahap nasi goreng buatan Mama tercinta.
”Air terjun?”
”Apa? Air terjun?” Mama langsung menyambar.
”Ah gak Mah. Ini temanku besok mau lihat air terjun.” Aku terpaksa berbohong. Habis Mama kebiasaan, telinganya cepet banget nangkepnya. Teman yang baru saja aku confrim namanya ”Elfgar Aunitala.” dengan profil picture Air terjun, airnya sangat jernih berwarna biru, dengan latar belakang pepohonan yang rindang.
”Thanks for add me. Sepertinya saya orang pertama nih. Hehe.” kataku di wallnya. Tapi memang kenyataannya seperti itu, aku lihat di friend listnya cuma berteman dengan aku saja. Mungkin dia baru buat kali.
JJJ
Hari kedua setelah aku mencomfrim “Elfgar Aunitala.” Tidak ada perubahan dalam hidupku dan tidak berarti apa-apa.
”Pagi Pah, Mah.” sapaku saat menuruni anak tangga terakhir.
”Pagi juga ” balas Mama Papa menyapaku.
”Hari ini ada teman yang masuk Da?” tanya Mama yang sudah sangat mengenal tingkah ku. Mengenai Facebook yang aku punya Mama pun tau segalanya. Semua teman-teman yang ada didalam Facebook ku mama pun tau. Aku memang tidak mau ada rahasia antara aku dan Mama. Mama bagiku bisa jadi apa saja. Selain tugasnya sebagai orang tua, Mamaku juga tempat keluh kesahku selama ini. Mama tempat yang tidak akan pernah membuatku bosan. Mama segalanya bagiku.
”Ada Mah satu. Elfgar Aunitala.” jawabku sambil melahap roti bakar isi cokelat yang baru saja dibikin Mama.
”Apa? Elfgar Autal?” Mama malah balik bertanya.
”Namanya aneh.” Papa menyambar untuk berkomentar.
”Bukan begitu namanya. Namanya Elf-gar Au-ni-tala.” Aku mengeja satu-persatu namanya. Untuk memperjelas Mama dan Papa yang telinganya sudah terpengaruh oleh faktor ”U”. Memang aku menyadari namanya sedikit aneh dan bikin lidahku keriting menyebut namanya. Tapi namanya sangat indah bila dibaca dengan fasih. Seperti terselip makna yang dalam. Orang tuanya pasti gak asal memberikan nama itu.
Awal perkenalanku dengannya sangat biasa dan wajar-wajar saja. Dia menanyakan sekolahku, nama panjangku, hobby, bla...bla...bla. Pokoknya dia aktif banget dah nanyanya. Udah seperti wartawan yang lagi ngeliput para artis dengan penceraiannya. Ya aku masih menanggapinya, memang awalnya aku menganggap dia lelaki yang tidak jelas. Aku sama sekali tidak nyambung berbicara dengannya. Aku bicara ini, dia malah melencong. Seperti Bumi dan langit yang tidak bisa disatukan. Yang bikin tambah aku sedikit ilfil, wallnya seperti syair yang jarang aku mengerti maksudnya.
Karena aku sangat penasaran dengan wajahnya aku mencoba menggodanya untuk menampilkan foto aslinya. ” taro dong fotonya, payah nih.” ejekku kepadanya.
Dia membalas wall ku beberapa menit kemudian. ” Masih menunggu konfirmasi dari Dimas Beck. Boleh gak fotonya disimpan di fb ku?” pertanyaan yang membuatku terkejut.
Dimas Beck?
Kenapa dia sampai bisa menyebutkan nama itu?
Dimas Beck memang idolaku sejak aku duduk di bangku SMP. Terus kenapa dia bisa tau? Ehm...aku memang pernah menulis notes di Facebook yang khusus untuk idolaku itu. Tapi masa dia masih sempat-sempatnya baca notesku.
”Yahh kok gitu si?”
”Apakah penting? Gini Fren, memang sih fisikly mungkin bisa dipakai modal untuk nampang. Tapi alhamdulillah aku bukan tipe penjual tampang. Hehehe.” ini salah satu dari sebagian wall yang ia kirim dan aku tidak mengerti maksudnya.
Kata ”Fren” itu yang membuatku tertawa sejadi-jadinya. Fren? Hwahahahahah. Ada-ada saja dia. Aku membacanya saja sepertinya dia tidak pantas mengucapkannya, kaku banget.
Wall yang dikirim Elfgar kemarin masih terfikir dibenakku. Aku benar-benar tidak mengerti yang dia maksud.
Tampangnya punya modal?
Memang maksudnya apa?
Misterius banget sih tuh orang!!
Aku terus menghela nafas panjang. Bodo akh !!! Umpatku kesal. Apapun bentuk wajahnya gak akan membuatku rugi atau sampai membuatku sengsara. Aku hanya ingin berteman yang memang mau berteman dengannku.
Malam ini aku tidak membuka facebook dulu. Tugas sekolah sudah menanti dari tadi pagi. Dan aku harus menyelesaikannya dengan cepat, karena jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Oetoriya ... oetoriya ... lagu dari CNBLUE mengiringi sms yang berdering dari Lappyku.
Aku merampas Hp ku yang tergeletak diatas kasur. Nyunyun? Ngapain nih anak malam-malam telepon.
”Halo. Ada apa Nyun?” tanyaku yang agak jutek. Habis gak ada kerjaan telepon malem-malem. Sebenarnya namanya bukan Nyunyun, nama itu hanya nama panggilan lucu-lucuan aja. Nama aslinya Yuna.
”Lagi ngapain? Gak belajar?”
Tumben dia perhatian, pake nanya-nanya udah belajar atau belum. Kesambet setan apa nih anak. ”Nih mau belajar. Lw sendiri gak belajar?”
”Males akh, pusing gue. Gak ngerti.” suara Nyunyun sepertinya sedang putus asa. ”Gue nyontek sama lw aja deh besok.” katanya dibalik telepon. Terdengar suara tertawa kecil.
”Lho kok malah ketawa? Gitu doang lw telepon gue?” tanyaku mulai memanas.
“Iyaaa. Hahahaha.” tuuttt tutttt tutt. Nyunyun langsung menutup teleponnya.
Sedangkan Rida hanya terdiam tanpa kata. Pas banget seperti lagunya D’massiv. Sialan lw Nyun!!! Enggak ada kerjaan amat. Gak sopan pula lagi asal nutup. Maki Rida penuh emosi.
Krrriinggggg !!!!
Jam beker berbunyi tepat diangka 6.
Fisika fisika fisika... Teriakku gak karuan ketika mendengar dering jam yang tepat disamping telingaku. Sangat keras dan membuat kontraksi jantungku meningkat.
Aku tiba disekolah jam 7 kurang beberapa menit. Hampir saja gerbangnya mau ditutup. Dengan rayuan mautku, Pak Udin akhirnya membukakan gerbangnya.
”Jangan telat lagi ya neng.” kata Pak Udin saat aku melewati gerbang yang ia buka.
Aku menunjukkan jempolku. ”Sipp Pak. Makasih yaaa!”
Pak Udin selain tampan juga baik hati. Haahaha #maaff Pak itu fitnah, sumfah dahh.
Aku melangkahkan kakiku secepat kilat. Aku berlari kecil melewati lorong-lorong sekolah yang warnanya tampak sudah pudar. Aku baru menyadari kalau sekolah ku sangat luas. Padahal aku sudah mempercepat langkahku, tapi tidak kunjung sampai juga. Ternyata kelasku paling jauh dan paling pojok. CAPEK!!!
”RIDAAA dataaang!!!” teriak Yoko sang ketua kelas saat aku baru melangkahkan satu kaki kekelas.
Yaa ampun teman-teman, aku sangat terharu dengan sambutan kalian. Whahaha. Sambutan yang penuh maksud licik.
”Rida Rida Rida cantik, sini gw bawain tasnya.” kata Nyunyun gombal abiss. Baek ada maunya. Dasar!!
”Aduuuhh pasti capek bangett yah tadi lari-larian?” Ina teman paling sedeng dikelas juga ngegombal. Dia mengusap keningku yang memang kebetulan berkeringat.
Tasku sudah tak tau lagi nasibnya gimana. Tasku dan buku PR ku sudah disandra oleh mereka. Dibolak-balik. Diputar kekanan kekiri. Geser kanan geser kiri. Dan aku hanya pasrah terdiam didepan kelas. Kebiasaan buruk teman-teman dan sangat menghiburku.
Aku teringat Hp 6630 ku alias si Lappy mungilku. Aku mengambilnya dari kantong. Tempat yang paling aman dari segala tempat yang ada.
Okehhhh buka facebook again. Kataku yang sangat fokus pada layar Hp. 3 notification. Weww!! Semua Notif ku dari orang yang sama. Si ”Elfgar Aunitala.”
”Malam, kamu sudah tidur?” wall pertamanya. Malam itu aku lagi belajar dan memang tidak buka facebook dulu.
”Kok gak dibales si wall ku?”
”Selamat pagi Rose. Met beraktifitas.” ini wall yang baru saja ia kirim beberapa menit lalu. Mungkin saat itu aku lagi dijalan.
ROSE???
Seumur-umur baru kali ini ada yang manggil aku ROSE. Seperti difilm titanic. Ada Rose dan Jack. Sedikit canggung si, tapi entah kenapa aku sangat senang dia memanggil namaku Rose. Panggilan baru yang luar biasa.
”Pagi juga ^^. Maaf tadi malam aku belajar. Jadi gak bisa online dulu. Kamu lagi apa?” kataku membalas wallnya. (dari sini awalnya dimulai...)
Ok, ditunggu lanjutannya. Krn blm kelar ya blm afdol kalau harus dikomenin kan... hehe...
BalasHapus