Yunisarang

Yunisarang

Rabu, 23 Maret 2011

BLACK SWAN “MOVIE”

Awalnya gue tau ini film dari dosen gue. Waktu itu kita nonton bareng-bareng dikelas. Udehh kaya bioskop, cuma bedaya gak ada popcorn doangMySpace  Gue pun bertanya tanya. Ini film apa??? Kok balet-balet gitu?? Akhh paling romantis-romantisan... Gue kan sukanya film-film horor ( muka lo aja udah horor yun ) #bangke lo!!! Film pun di play. Lampu dimatikan , hordeng ditutup rapet. YeaaayyyyMySpace




Black Swan
Intuisi Kurnia Meter: 10/10
Disutradarai Darren Aronofsky
Dibintangi Natalie Portman, Mila Kunis dan Barbra Hershey
Produksi Fox Searchlight Pictures

Nina Sayers (Natalie Portman) memiliki sebuah ambisi untuk menjadi ballerina yang profesional. Seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk balet hingga ia bisa dibilang terobsesi. Di bawah asuhan ibunya yang keras, yang juga merupakan mantan ballerina, Nina tumbuh menjadi gadis yang perfeksionis, dan pada saat yang bersamaan rapuh, tertutup dan anti-sosial. ( Saking ibunya yang sangat perfeksionis, setiap saat ditelepon. Dimanjain banget deh si Nina ). Ketika Thomas Leroy (Vincent Cassel) membuat audisi untuk memerankan Ratu Angsa di resital Swan Lake karena ballerina prima sebelumnya Beth MacIntyre (Winona Ryder) 'terpaksa' pensiun. Nina disini sangat mengharapkan peran tersebut, ibunya pun terus mendukung. Awalnya Nina tidak dipilih memerankan Ratu Angsa, tetapi saat dia menemui dan berbicara sedikit dengan Thomas, dia diterima. Mungkin nih kalo Thomas melihat Nina bukan cewek murahan. ( soalnya pas mau dicium dia langsung menghindar )

Nina dibebani peran yang tidak mudah. Untuk menjadi Ratu Angsa ia harus bisa memerankan kedua sisinya yaitu Angsa Putih dan Angsa Hitam. Nina kandidat sempurna untuk Angsa Putih; cantik, rapuh, dan penuh ketakutan. Tetapi Angsa Hitam? Nina memang seorang ballerina dengan teknis menari yang handal, tetapi Thomas selalu mengeluh karena ia tidak bisa melepaskan diri ketika menari. Sesuatu yang dibutuhkan untuk menjadi Angsa Hitam. Ditambah Lily (Mila Kunis), ballerina baru yang memiliki persona yang sangat cocok untuk Angsa Hitam; menggairahkan, santai, dan menyenangkan. Sesuatu yang Nina tidak punya. Sehingga membuat ini permulaan dari rival yang mengerikan.
Karena obsesinya untuk mendapatkan kemistri menjadi Angsa Hitam, pikirannya terus dihantui oleh Angsa Hitam. Dalam hatinya tertanam kalo dia harus bisa memerankan Angsa Hitam. HALUSINASI pun datang. Ia sering mendapati jarinya berdarah secara tiba-tiba. Dan kemudian hilang. Dipunggungnya juga dia memiliki sedikit luka cakaran dan lama kelamaan semakin membesar. Ibunya menganggap kalau luka itu adalah ulah dari Nina yang sengaja menggaruknya. ( kukunya langung dipotongin sama ibunya lho!!!)

Nina berlatih sangat keras. Dia pun sempat putus asa. Thomas sang pelatih selalu tidak puas dengan latihan Nina. Thomas selalu bilang bahwa disetiap gerakannya tidak ada gairah. ( yang bikin gue ngakak niyeee. Si Thomas nanya sama ballerina cowok yang dipasangin ama Nina ) "Apakah kamu mau menidurinya??" ( WHAT?? Hahahaha ) Eh ballerina cowok itu langsung geleng-geleng.

Akhirnya si Thomas ( sang pelatih ) ngajarin gimana cara ningkatin gairah saat menari. Gue gak bisa ngejelasin banyak, nonton aja sendiri dahMySpace



Nah semenjak dilatih sama pelatihnya ( liat gambar diatas ) dia terus melatih gairahnya dirumah ( dan itu nonton aja sendiri yahhh. hahaha) Dan selain mendapatkan dri pelatihnya , dia juga mendapatkan dari temannya Lily ( Mila Kunis ). Lily melakukannya dengan memberikan obat mabuk atu perangsang yang sejenisnya. Nina pun meminumnya. Nina benar-benar dibuat brutal oleh obat itu. Ibunya pun sampai dilawannya. :AKU BUTUH PRIVASI BU !!!" kata Nina sambil menahan pintu yang mau dibuka Ibunya.
PENTAS pun dimulai. Nina membuka mata. Dan Lily sudah tidak ada. Pagi itu Nina sakit, tapi ia memaksa untuk tetap pentas. Ia mendorong ibunya yang mencoba menahannya keluar. Setibanya di ruang latihan, ia melihat Lily sedang menggantikannya menari. Sontak Nina pun geram. Ia meminta kepada Thomas untuk menggantikan peran penggantiny. Tapi Thomas tetap pada pendiriannya. Nina pun berbicara pada Lily. 
( kurang lebih kaya begini percakapannya, soalnya gue udah lupa )  "Kenapa kamu tidak membangunkan ku??"
Lily yang mendengar pertanyaan Nina malah bingung. "Apa?"
"Bukannya semalam kita???" ( iyaa Nina dan Lily semalam melakukan "itu" Lagi lagi gue cuma bisa bilang "Nonton aja sendiri")MySpace
Lily yang mendengarnya malah semakin bingung. Nina yang melihat ekspresi Lily yang aneh langsung pergi meninggalkan Lily.

Pentas sudah benar-benar dimulai. Nina menjadi sosok angsa putih terlebih dahulu.


Ini dia si angsa putih. Cantik kan???MySpace

Setelah selesai jadi angsa putih, Nina kembali ke ruang ganti untuk berdandan menjadi Angsa Hitam atau Black Swan. Ternyata di ruang tunggu itu ada Lily yang menunggu. Nina yang melihat wajah Lily yang mencibir dan mengejeknya sejak pentas tadi sangat kesal. Mereka pun bertengkar hebat. Kaca pecah karena Nina mendorong Lily dengan keras. Lily ditusuk dengan pecahan kaca tadi. MAYAT Lily disimpan di kamar mandi. Dan dia berubah menjadi BLACK SWAN ...



Pas seasion ini sumpah KEREN bangett. Nina bener2 jadi angsa hitam. Ada sayapnyee segala. Dia berubah jadi Angsa Hitam sambil muter-muter ala ballerina ( emang dia ballerina yun! )MySpace




Sumpah gue pun terharu pas liat dia bener2 berubah jadi angsa hitam. Ada sayap yang lebarrr. KEREN!!!
Nina pun mendapatkan tepuk tangan yang sangat meriah. Semua penonton sangat antusias dan sangat kagum dengan aksi Nina. ( selamat yah Nina ). Selesai pertunjukkan, sontak Nina langusng mencium sang pelatih Thomas. Thomas yang sangat terkejut mendapatkan ciuman dari Nina hanya bisa terpaku saja. ( cieelaahhh Thomas, selamat yahhh!!)

Nina kembali keruang make-up nya untuk mengganti baju menjadi Angsa Putih lagi. Ia sangat terkejut saat melihat darah yang keluar dari kamar mandi. Dia pun panik, lalu mengambil handuk untuk menutupi darah itu agar tidak mengalir lagi. Tapi beberapa saat kemudian dia mengecek lagi handuk itu, tapi apa yang dilihat??? Ternyata tidak ada sama sekali yang namanya DARAH!!! Tidak ada juga yang namanya PENUSUKAN atau PERKELAHILAN dengan Lily !! Semua HALUSINASI belaka !!! Nina tidak pernah menusuk Lily. Nina tidak pernah menyimpan mayat Lily dikamar mandi. Nina tidak pernah tidur bareng dengan Lily. Yang tadi manas-manasin dia dipanggung ternyata bukan Lily. Dan semua hanya HALUSINASI !!!

Nina melihat perutnya sudah berdarah-darah. Dan yang ditusuk bukanlah Lily, melainkan dirinya sendiri. Nina tidak mengabaikan itu. Dia pokonya harus menyelesaikan drama ini. HARUS!!! Nina keluar dengan Angsa Putih. Darah itu dia tutupi dengan bulu-bulu yang menempel dibajunya. Nina benar-benar ingin menyelesaikan drama ini. Diakhir pentas, Nina naik ke atas puncak yang dibuat dari kayu. Disana dia harus terjun. Tiba diatas puncak, air matanya pun sudah tak terbendung lagi. Matanya langsung tertuju pada sosok ibunya. ( sumpah pas adegan ini gue nangis, tapi gak nangis lebay. Sedih banget soalnyaMySpace Nina pun terjun. Dibawah sudah ada kasur yang menantinya. Sambil menahan sakit diperutnya, kata yang terakhir diucapnya adalah "INI SANGAT SEMPURNA."


tamat dehMySpace

Kamis, 03 Maret 2011

Dibalik "Cinta Sang Penulis"

Yesss !!
Oh noh !!
Alhamdulillah Wasyukurilah, thanks mom, daddy, dan teman-teman yang telah mendukung dan mensuport saya untuk menyelesaikan cerpen saya yang sangat saya cintai ini ( lebay lo yu! ). Terima kasih sebanyak-banyaknya yaahh MySpace Berkat kalian semua akhirnya cerpen gue yang berjudul "CINTA SANG PENULIS" bisa rampung di blog ini. Tadinya mau gue taro di Pacebook, tetapi karena blog gue masih sepi kaya kuburan, jadi gue sengaja taro cerpen ini di blog. Biar rame, terus banyak yang visit. HhahaMySpace

Sebelumnya gue mau cerita sejak kapan nih cerpen nongol disini. Dan dari mana otak gue bisa nulis nih cerita sampe 4part. Padahal yang namanya cerpen itu, gak boleh lebih dari 7halaman. Tapi gue buat jadi 14 halaman yang gue jadiin 4 entry dalam blog ini. Gue mulai cerita yah. ( iyee yun, cepetan dah!! ) Cerpen itu sejujurnya adalah pengalaman salah satu sahabat karib gue. Gue gak bisa nyebutin namanya ( akh pelit lo yun! ). Dan itu benar-benar real, tapi adalah sedikit-sedikit gue kembangin. Tapi gak sedikit juga, lumayan banyak yang gue kembangin. Ini cerpen gue tulis sejak gue masa SMU ( gila cing lama amat!! ) dan selesai baru sekarang. Gue udah kuliah, umur 19 tahun ( salut gue yun sama lo!! ). Dalam 4 hari gue nerusin ini cerpen. Ngebut cing. Udah kaya kerja rodi aja gueMySpace Tapi gue capek gue gak sia-sia,, banyak teman-teman dan sahabat gue yang ngasih respon positif tentang cerpen yang gue buat. Oia !! ini juga salah satu cerpen ter romantis yang pernah gue buat ( najong banget lo yun! Kaya ngerti aja apa itu romantis )MySpace Yee bukannya gue asal ngomong, tapi kenyataan. Nih liat kalo gak percayaMySpace

Betul kan romantis?? Gue gak bohong dahMySpace 
Selain yang komentar-komentar romantis diatas,, nih ada beberapa komentar yang positif juga :


 



Sama-sama om Adjie. Tetap jadi pembaca setia cerpen-cerpe ku yahhMySpace






Yahhh pokoknyaa gue banyak-banyak terima kasih buat teman-teman semua yang udah nyempet-nyempetin baca cerpen gue itu. Insyaallah gue akan terus menulis. Belajar menulis yang benar juga. Makasi supportnya jugaa. Gue jadi lebih SEMANGATMySpace

Cooming Soon  
Alhamdulillah lagi nih yaaa. Cerpen gue dibikin buku. Mudah-mudahan LARIS!! Jangan lupa pada beli yah teman-teman. Dijamin gak bakal nyesel deh lo. ( Wahh yuni hebat!! )


Dapatkan buku ini di toko MATRIAL terdekatMySpace
Udah yahhh ,,, ( mau kemana yun?? ) 
Mau TIDUR !!! ( yaaaah )
Ntar gue posting lagi cerpen yang terbaru dah. ( yaudahh )
Daadaaaahh semuaMySpace

Rabu, 02 Maret 2011

Cinta Sang Penulis ( part 4 )

Cinta Sang Penulis (4)
 
“l know l shouldn’t but l miss you. You know why? Because you make me miss you.” Itu pesan terakhirku di inboxnya saat dia suda kembali ke Pekanbaru. Sudah 2 minggu ini aku resah memikirkan dia. Aku benar-benar buta dengan kondisinya saat ini. Aku gak tau pasti gimana keadaannya sekarang. Aku juga gak tau penyakit apa yang terserang dalam dirinya. Aku menangisinya. Entah apa yang membuat aku jadi gampang mengeluarkan air mata seperti saat ini.
            “Say kamu dimana?? Gimana keadaan kamu disana?” tanyaku di inboxnya penuh khawatir.
            Dia membalasnya dengan penuh bijak. “Tenang aja say, sebagaimana dalam knowing segala hal akan berjalan sesuai ketetapan yang satu. Yang senantiasa memiliki rancangan terbaik bagi kita semua. Tenang aja yah say, insyaallah semuanya akan baik-baik saja. Sayang kamu banget.”
            Kata-kata El memberiku ketenangan. Aku yakin dia kuat dengan kondisinya saat ini. Tapi disetiap kata-katanya ada beberapa yang tidak aku pahami. Itulah kekuranganku semenjak berhubungan dengannya, aku tidak mampu menafsirkan setiap makna dalak kata-katanya yang ditulis.
            “Gak apa-apa say, tadi si nyunyun kirim message ke aku , katanya kamu khawatir gitu. Aku gak apa-apa kok.”
            Air mataku sudah membanjiri kelopak. “Gimana gak mau khawatir say, tadi aku searching tentang resiko orang lahir premature dan disitu aku lihat. Aku takut El.” Ceritaku di inbox itu. El memang pernah cerita tentang kelahirannya yang premature. . Badannya sangat kecil, jari-jarinya hanya sekepal tangan dewasa. Tubuhnya penuh dengan alat-alat medis. Nafasnya dikontrol oleh oksigen. Belum lagi ia berada didalam incubator untuk waktu yang cukup lama.
            “Yaahhh kamu say ada-ada aja. Ngapain juga yang kaya begitu pake dilihat. Hehehe. Lagi apa kamu say? Dah lunch? Aku gak jumatan.”
            El benar-benar memutuskan pembicaraanku tadi. Dia benar-benar tidak membahas yang tadi inbox ku. Mungkin dia gak mau aku terlalu khawatir dengannya. “Kan aku bia tau say. Huhuuu. Aku lagi ngumpul aja sama teman-teman. Aku belum lunch say, nanti aja. Kenapa gak jumatan? Lagi dibandara yah??”
            “Body ku lagi gak mau kompromi say. Aku masih dirumah. Kebandaranya tunggu ayah dari masjid.”
            Yups bandara, El rencanaya siang ini ingin meluncur ke Singapura. Dia mau medical check up. Yaa mudah-mudahan gak ada-apa nanti disana. Amin.
            “Oh gitu. Yaudah sebelum berangkat mendingan temenin aku aja online. Hehe… say aku lagi liatin monas nih, kapanyahh emasnya jatoh.” Kataku dengan sedikit lelucon. Yah biar suasananya ngbosenin juga.
            “Kan Mas El nya uda jatu dari kemarin-kemari say. Heheh.”
            “Jiaahhhh ada-ada aja kamu. Hahaha. Yahh say hp batree ku lowbet nih. Huhu.. tapi aku belom mau off. Gimana yah? Ehm.. pinjem sama nyunyun aja deh. Tunggu yah say.. iya lagi apa kamu say?”
            “Aku lagi bahagia say. Ternyata hidup ini begitu indah yah say. Hehhe.”
            “Oh ya?? Yaa kalo dinikmatin memang indah banget say J
            “Dihadapi saja juga sudah cukup indah kan say.”
            “Iyaa sayaaaaanggg J
            “Heheheh.”
            “Ikhh kamu ketawa mulu. Ntar jadi gila lho!! Hahaha. Say aku lagi dengerin lagunya titi kamal. Resah tanpamu nih.” Azeeeekkk bias romantic juga aku. Hahaha
            “Kalo aku tidak pernah resah lagi say. Karena sudah merasa bersamamu selalu. Karena itulah aku tertawa mulu. Hehehe.”
            Oh no !! Kata-katanya bikin aku terbang. So sweet dan romantic abisss. Senyumku semakin lebar. Dan pipi pembemku sudah seperti tomat. Merah banget. Kayaknya aku deh sekarang yang jadi gila. Aku balas inboxnya yang bikin jantungku mau copot. “Gitu ya say.” Jawaban singkat, padahal sih sumringah. Hahaha. “Kamu udah makan say? Kalo ada obat, sekalian tuh diminum obatnya yaaaa.”
            “Makasi ya saying. Iya neh say, ibu mau nyuapin aku. Aku disuapin biar bias online sama kamu. Hehhe.”
            Aduuuhhh makin merah dah nih pipi. Kataku yang terus memegangi pipiku. “Sama-sama sayangku. Kalo aku yang nyuapin mau gak?? Hehehe. Eh jangan deh, yang ada ntar malah aku yang ngabisin lagi.”
            “Hahahah, bias aja kau! J Say aku off dulu yah, salam untuk teman-teman semua dan mohon ikhlas atas semua kesalahan saya ya say. Sayang kamu banget Rose.”
            “Yaaahhh kok off, yaudah gak apa-apa deh say. Nanti aku sampein salam kamu. Tapi kamu jangan ngomong gitu akh. Aku gak suka kamu ngomong begitu. Sayang El banget. Miss you so much.”
            Inbox itu terkirim dan aku langsung gtertidur. Memang tadi obrolanku dengannya mulai dari sekolah sampai siang ini aku baru pulang. Dan sumpah capek banget. Selamat tidur. ZzzZzzZzz.

            JAM 3 SORE …
            Mataku terbuka lebar melihat jam tepat berada disamping tempat tidurku. Aku meliriknya dengan datar. Dan kemudian mataku mencari si mungil 6630. Kemana dia???
            Hupp!!! Aku menemukannya dibawah bokongku. Adeeehhh siapa si yang naro disini?? Untung nih HP gak remuk. Yang pertama saat aku melihat si 6630, aku langsung membuka Facebook dan meluncur ke inbox. Inbox siapa lagi yang aku tunggu kalo bukan dari Elfgar Aunitala. Hehehe . Pipiku kaya tomat lagi.
            “Aku juga selalu merindukanmu say. Ya kalo orang pamitan kan bahasanya memang harus gitu say. Udah dirumah say? Kamu udah lunch? Kami sudah boarding say. Kalo tiba-tiba gak bias bales message kamu, berarti sudah siap take off ya say.”
            “Maaf say baru bales. Aku ketiduran L. Kamu lagi apa? Uda sampe balum??” Wajahku mirip banget benang kusut saat ngirim message tadi. Kenapa harus ketiduran sih aku. Kenapa gak langsung aku bales aja messagenya.
            Sambil menunggu messageku dibales olehnya, aku membaca beberapa puisi yang ditulis oleh El. Ini puisi yang salah satu tidak akau mengerti maksudnya. Dan puisi yang paling aku benci sepertinya. Aku benci El menulis puisi ini.

bila sampai waktuku
kawan-kawanku tentu akan melanjutkan apa yang mereka anggap pantas untuk dilanjutkan
ada pun berbagai kesalahan dan kekuranganku, tak perlu dimaklumi atau dimaafkan karena memang hanya sebatas itu yg bisa aku lakukan

bila sampai waktuku
kawan-kawanku pasti akan mengenang apa yang pantas mereka kenang dan melupakan apa yang dengan sendirinya akan terlupakan

bila sampai waktuku
aku tahu, karena itu aku berusaha untuk tidak sampai melukaimu
tapi jika akhirnya kamu tetap terlukai olehku, memang begitulah sesungguhnya aku, yang ternyata hanya bisa melukaimu

bila sampai waktuku...

Aku melirik jam yang ada dimeja belajarku. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.57. Tapi kenapa sampai sore gini El belum sama sekali membalas messageku. Padahal aku sangat menunggunya. Aku mencoba mengirim message kepadanya lagi. Siapa tau dia kecapean, jadi dia gak sempet balas message ku. Aku terus berfikir positif. Dan harus positif.
            “Sayang, lagi apa kamu? Udah sampe belum?”
Entah kenapa saat mengirim message tadi, aku benar-benar gelisah. Aku terus membaca puisi yang aku benci tadi. Aku ingin benar-benar mengerti isinya. Hingga sampai jam menunjukkan pukul 24.00, mataku tidak mau terpejam sama sekali. Dan puisi itu masih ada didepan mataku. Dengan berjalannya jarum jam, matakupun terpejam kemudian. Dan tanganku masih menggenggam lembaran kertas yang berisi puisi yang aku benci tadi.

            Pagi ini hujan turun sangat lebat. Tanpa petir juga tanpa angin. Begitu juga denganku. Menunggu pesan tanpa kabar dan kepastian. Aku sama sekali belum mendapatkan balasan darinya. Aku terus berfikir positif. Hal itu aku tanamkan sejak kemarin sore. Aku mencoba mengirim kembali pesan ke inboxnya. Aku tiba di profilnya. Dan apa yang aku lihat disana. Satu pesan yang membuat badanku lemas tiba-tiba. Dan dadaku sesak, nafaspun sangat sulit. Wall dari salah satu sahabat karibnya. Air mata beningku pun sudah membasahi pipi. Air mata yang tidak bisa aku tahan lagi. Kemarin benar-benat pesan terakhir yang ia kirim di inbox ku. Dan puisi itu?? Ternyata ini yang dimaksud dalam puisinya itu.

Engkau lebih dulu melangkah ke dalam kehidupan yg lebih kekal...

Tapi kami, sahabat2mu akan mengenangmu hingga kami juga akan menyusulmu pada waktunya....

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun...
elfgar aunitala menghembuskan nafas terakhir pada pukul 13.30 setelah mengalami koma beberapa hari sebelumnya.

***** amanah dari keluarga el *****
BAgi temen-teman yang merasa kenal dengan elfgar aunitala mohon bersedia memaafkan segala dosa-dosanya kepada temen-teman atau pun apabila almarhum meninggalkan hutang, mohon kesediaan untuk mengikhlaskan. Semoga arwahnya mendapatkan kedudukan yang mulia disisinya. Amin



            Aku terlelap dalam tidurku. Tubuhku berselimutkan kain hangat. Bukan menghindar dari dingin. Bukan menghindar dari cahaya lampu kamarku. Tapi aku menghindar dari kesedihan. Aku berharap saat aku membuka mata dan membuka selimutku, aku berharap semuanya akan kembali normal. Matahari bersinar terang. Kicauan burung menyambut pagiku. Udara hangat menyelimutiku. Dan satu hal yang paling penting saat aku membuka mata. Berita duka itu cuma mimpi. Wall itu PALSU. Dia akan membalas message ku. Itu pasti. INI HANYA MIMPI !!! Aku terus meyakini diriku sendiri.
            Drrtttt drrrttt drrtttt ...
            Panggilan dari Nyunyun.
            Aku mengangkat teleponnya tanpa suara.
            ”Rida...” aku mendengar panggilan Nyunyun. Tapi aku masih tidak mengeluarkan suara. ”Da, El da. Lw udah baca wall di profilnya?” Aku masih diam, aku hanya menangis tanpa suara. Aku mau menjawab pertanyaan Nyunyun tapi aku takut, aku takut ini cuma bohongan. Wall itu hanya kerjaan orang iseng. ”Da, sabar yaahhh.” Telepon pun terputus.
            Ini nyata??
            Dia benar-benar pergi?
            Selamanya??
            Gak ada lagi panggilan Rose untukku
            Gak ada lagi panggilan say untukku
            Gak ada lagi sapaan pagi saat aku membuka mata
            Gak ada lagi kata-kata indah di inbox ku
            Gak ada lagi puisi-puisi indah untukku
            GAK ADA LAGI !!!



Cinta Sang Penulis ( part 3 )


Cinta Sang Penulis (3)


           Sudah sekitar 4bulan aku berhubungan dengan Elfgar. Aku merasa nyaman dengannya. Tapi entah kenapa ada satu yang mengganjal dihatiku. Iyaaa... Rasa penasaran. Sudah 4 bulan aku mengenalnya, tidak sekalipun aku melihat wajahnya. Seperti apa rupanya. Rambutnya hitam atau bule, kulitnya hitam atau putih, matanya belo atau sipit, entahlah aku tidak mengetahui itu semua.
            ”Terus da?” tanya Rina penuh antusias dengan cerita Rida pagi ini.
            ”Akh Rida rese, cerita jangan setengah-setengah donk!” Umpat Nyunyun manyun.
            Yahh pagi ini aku bercerita tentang kedatangan El ke Jakarta. Rencananya dia dan beberapa temannya ingin mengunjungi kota jakarta. Katanya liburan. Liburan kok ke jakarta??? Bukan bikin fress otak, malah bikin sumpek iyaa.
            ”KETEMU aja daaaa!!” Nyunyun berteriak tepat didepan telingaku. Busset nih anakkk, keturunan kuntilanak kali yahh. Cempreng banget suaranya.
            ”Kita temenin dah.” timpal Ina bersemangat.
            Aku tidak mengiyakan atau mentidakan. Aku bisu. Bingung. Takut.
            ”Da...Rida!! Kok malah bengong sih?” Ina membangunkan lamunanku.
            ”Yahh gak bisa lah. Besok kan kita ada try out. Gue udah bilang kok ama El, kalo gue emang mau try out. Mau fokus dulu. Dia juga ngerti kok.” Yess!! Aku mendapatkan alasan tepat untuk mereka. Nyunyun dan Ina pun langsung tutup mulut dengan jawabanku.

            Inbox malam ini ..
            ”Alhamdulillah, sebuah penantian yang tidak sia-sia. Terimakasih doanya say, malam ini Jakarta terasa cerah dan indah. Hahaha. Dasar manusia yah. Hahah. Sekali lagi terima kasih yah say. Selamat memfokuskan konsentrasi yah. Semoga usaha kamu tidak sia-sia.”
            Alhamdulillah El sudah sampai di Jakarta. Rasa penasaranku pun semakin menjadi. Ingin rasanya aku menemuinya. Melihatnya dengan kesat mata. Face to face. Berbicara langsung. Lebih terbuka. Owaaaaaaa otakku berputar hebat.
            ”Pagi ini aku merinduimu, tapi kali ini aku tak berani mengusikmu. Sesuai rencana, insyaallah siang ini aku balik. Aku berharap kamu sempat baca statusku ini dan berkenan kembali menuliskan message untukku. Tapi ini hanyalah sebuah harapan, sama sekali bukan sebuah permintaan, apalagi paksaan. Banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu, tapi aku sudah berkomitmen terhadap diriku sendiri, setidaknya sampai 3 minggu ke depan aku hanya akan membalas message-message mu yang kamu masukkan ke inboxku ( jika memang masih ada tentunya ).”
            Begitulah isi message El di inbox ku. Aku kaget sekaligus merasa bersalah dengannya. Aku pun langsung mereplay messagenya. ”Aku gak kirim message ke kamu bukan berarti aku marah sama kamu, tapi aku gak baca status yang kamu maksud. Dan aku benar-benar gak tau kalo hari ini kamu mau balik ke Pekanbaru. Sekali lagi maff. Maafin aku yah.

“l know l shouldn’t but l miss you. You know why? Because you make me miss you.” Itu pesan terakhirku di inboxnya saat dia suda kembali ke Pekanbaru. Sudah 2 minggu ini aku resah memikirkan dia. Aku benar-benar buta dengan kondisinya saat ini. Aku gak tau pasti gimana keadaannya sekarang. Aku juga gak tau penyakit apa yang terserang dalam dirinya. Aku menangisinya. Entah apa yang membuat aku jadi gampang mengeluarkan air mata seperti saat ini.
            “Say kamu dimana?? Gimana keadaan kamu disana?” tanyaku di inboxnya penuh khawatir.
            Dia membalasnya dengan penuh bijak. “Tenang aja say, sebagaimana dalam knowing segala hal akan berjalan sesuai ketetapan yang satu. Yang senantiasa memiliki rancangan terbaik bagi kita semua. Tenang aja yah say, insyaallah semuanya akan baik-baik saja. Sayang kamu banget.”
            Kata-kata El memberiku ketenangan. Aku yakin dia kuat dengan kondisinya saat ini. Tapi disetiap kata-katanya ada beberapa yang tidak aku pahami. Itulah kekuranganku semenjak berhubungan dengannya, aku tidak mampu menafsirkan setiap makna dalak kata-katanya yang ditulis.
            “Gak apa-apa say, tadi si nyunyun kirim message ke aku , katanya kamu khawatir gitu. Aku gak apa-apa kok.”
            Air mataku sudah membanjiri kelopak. “Gimana gak mau khawatir say, tadi aku searching tentang resiko orang lahir premature dan disitu aku lihat. Aku takut El.” Ceritaku di inbox itu. El memang pernah cerita tentang kelahirannya yang premature. . Badannya sangat kecil, jari-jarinya hanya sekepal tangan dewasa. Tubuhnya penuh dengan alat-alat medis. Nafasnya dikontrol oleh oksigen. Belum lagi ia berada didalam incubator untuk waktu yang cukup lama.
            “Yaahhh kamu say ada-ada aja. Ngapain juga yang kaya begitu pake dilihat. Hehehe. Lagi apa kamu say? Dah lunch? Aku gak jumatan.”
            El benar-benar memutuskan pembicaraanku tadi. Dia benar-benar tidak membahas yang tadi inbox ku. Mungkin dia gak mau aku terlalu khawatir dengannya. “Kan aku bia tau say. Huhuuu. Aku lagi ngumpul aja sama teman-teman. Aku belum lunch say, nanti aja. Kenapa gak jumatan? Lagi dibandara yah??”
            “Body ku lagi gak mau kompromi say. Aku masih dirumah. Kebandaranya tunggu ayah dari masjid.”
            Yups bandara, El rencanaya siang ini ingin meluncur ke Singapura. Dia mau medical check up. Yaa mudah-mudahan gak ada-apa nanti disana. Amin.
            “Oh gitu. Yaudah sebelum berangkat mendingan temenin aku aja online. Hehe… say aku lagi liatin monas nih, kapanyahh emasnya jatoh.” Kataku dengan sedikit lelucon. Yah biar suasananya ngbosenin juga.
            “Kan Mas El nya uda jatu dari kemarin-kemari say. Heheh.”
            “Jiaahhhh ada-ada aja kamu. Hahaha. Yahh say hp batree ku lowbet nih. Huhu.. tapi aku belom mau off. Gimana yah? Ehm.. pinjem sama nyunyun aja deh. Tunggu yah say.. iya lagi apa kamu say?”
            “Aku lagi bahagia say. Ternyata hidup ini begitu indah yah say. Hehhe.”
            “Oh ya?? Yaa kalo dinikmatin memang indah banget say J
            “Dihadapi saja juga sudah cukup indah kan say.”
            “Iyaa sayaaaaanggg J
            “Heheheh.”
            “Ikhh kamu ketawa mulu. Ntar jadi gila lho!! Hahaha. Say aku lagi dengerin lagunya titi kamal. Resah tanpamu nih.” Azeeeekkk bias romantic juga aku. Hahaha
            “Kalo aku tidak pernah resah lagi say. Karena sudah merasa bersamamu selalu. Karena itulah aku tertawa mulu. Hehehe.”
            Oh no !! Kata-katanya bikin aku terbang. So sweet dan romantic abisss. Senyumku semakin lebar. Dan pipi pembemku sudah seperti tomat. Merah banget. Kayaknya aku deh sekarang yang jadi gila. Aku balas inboxnya yang bikin jantungku mau copot. “Gitu ya say.” Jawaban singkat, padahal sih sumringah. Hahaha. “Kamu udah makan say? Kalo ada obat, sekalian tuh diminum obatnya yaaaa.”
            “Makasi ya saying. Iya neh say, ibu mau nyuapin aku. Aku disuapin biar bias online sama kamu. Hehhe.”
            Aduuuhhh makin merah dah nih pipi. Kataku yang terus memegangi pipiku. “Sama-sama sayangku. Kalo aku yang nyuapin mau gak?? Hehehe. Eh jangan deh, yang ada ntar malah aku yang ngabisin lagi.”
            “Hahahah, bias aja kau! Say aku off dulu yah, salam untuk teman-teman semua dan mohon ikhlas atas semua kesalahan saya ya say. Sayang kamu banget Rose.”
            “Yaaahhh kok off, yaudah gak apa-apa deh say. Nanti aku sampein salam kamu. Tapi kamu jangan ngomong gitu akh. Aku gak suka kamu ngomong begitu. Sayang El banget. Miss you so much.”
            Inbox itu terkirim dan aku langsung tertidur. Memang tadi obrolanku dengannya mulai dari sekolah sampai siang ini aku baru pulang. Dan sumpah capek banget. Selamat tidur. ZzzZzzZzz.


Cinta Sang Penulis ( part 2 )

Cinta Sang Penulis (2)

           Sejak pagi itu adalah awal aku mengenalnya dengan baik. Dia sangat hangat. Dia sangat membuatku nyaman. Memang aku belum pernah melihat wajahnya, mungkin ini bisa dibilang cinta maya bukan cinta buta lagi. Tapi sungguh aku merasakan rasa yang berbeda. Ingin rasanya aku melhat sosoknya lebih nyata. Sempat aku memberikan nomor Hp ku padanya. Berharap aku bisa lebih mengenalnya lebih jauh dan dekat. Namun apa jawabannya di message itu.
            ”Aku manahan untuk mencatat nomer handphonemu . Aku sebenarnya ingin sekali, tapi aku benar-benar tidak bisa.”
            Aku semakin bingung dengan wallnya itu. Sejenak aku berfikir positif. Mungkin ada sesuatu hal yang tidak aku ketahui dari dirinya.
Aku sangat heran dengannya. Dia sungguh misterius. Banyak kata-katanya yang tidak aku mengerti. Kenapa aku bisa ngomong seperti itu? Dari semua notes yang ia buat, sangat menyentuh hatiku. Setiap kata penuh arti dan makna. Dia ”Sang Penulis Sejati” begitu aku menyebutnya. Lambat laun hubunganku semakin dalam. Mungkin sudah dalam pendekatan yang bisa dibilang cinta. Sebenarnya akupun tidak begitu mengerti apa itu CINTA sebenarnya. Dengan usiaku yang baru saja menginjak 17 tahun apakah ini sudah bisa dibilang cinta? Tapi kalau memang cinta kenapa cinta yang aku dapatkan dari seseorang didunia maya, yang sangat mustahil terjadi sebuah ikatan.        
            Kalau boleh jujur, dia Sang Penulis ku adalah cinta pertamaku. Dia Elfgar Aunitala laki-laki pertama yang menemani hatiku diusiaku yang baru saja menginjak 17tahun ini. Dia yang membuatku berbunga-bunga disetiap notesnya. Salah satu notenya yang paling aku suka adalah ” Sekuntum Mawar Dikamar Hatiku”

Kelopakmu yang merah merona
menginspirasiku akan sebuah makna yang tersimpan dalam warna.
Sedikit duri halus dalam tangkaimu
mentahbiskan realita keindahan.
Seberapa besar arti keberadaanmu ditaman hatiku,
tidak akan pernah aku verbalkan ,
bahkan sebagai puisi sekalipun. Karena tanpa itu semua,
engkau akan tetap bisa merasakan.

            Aku membuka facebook dan kemudian menuju tempat rahasiaku di inbox. Semua obrolanku dengannya hijrah ke inbox, karena si para ms.Jahil, Nyunyun dan Inatul sungguh lebbeh alias lebayy. Semua percakapanku dengannya selalu di comment oleh mereka berdua, si makhluk-makhluk jahil. Banyak juga comment-comment yang bikin aku kaget dan sedikit kesal.
            ”Cieeee Rose nih sekarang panggilannya.”
            ”Siapa da si Elfgar itu?”
            ”Elfgar pacar lw yah? Kayaknya sering banget nongol di wall.”
            ”Da .. prikitiwwww. Hahahaha.”
            Hoaaaaaaaa... bisa gila kalo dicengin terus kaya begitu. Semua wall mereka tidak aku respons, kalo direspons pasti semakin menjadi. Aku biarkan saja.

            Kebetulan hari ini El ( nama panggilannya dariku ) lagi berada di Pekanbaru. Aku ingin tau akh kabarnya. Aku mengambil si Lappy dan langsung membuka message di facebook. ”Lagi apa say? Gimana di Pekanbaru?” kataku di messagenya. Panggilan ”say” yang baru-baru ini saja aku dan El pakai. Rada maksa, tapi happy. Sebenarnya panggilan itu gak sengaja aku lontarkan. Fikirku waktu itu kata ”say” biasa aku berikan pada teman-temanku sekolahku. Mungkin kata ”say” bagiku hanya untuk memperhalus kata. Tapi ini malah beda ditanggapi olehnya. Dan kata itu sampai sekarang kami ucapkan.
            ”Aku lagi makan. Disini baik-baik saja.” kata El di message. Sepertia biasa, kata-katanya baku.
            ”Kamu benar kan lagi di Pekanbaru? Kok gak ada perbedaan waktunya si??” tanyaku kemudian. Saking bingungnya mau nanya apa, akhirnya terlontarlah pertanyaan bodoh itu.
            ”Ahaaaaa.... Pekanbaru kan juga WIB non. Kalau di Papua atau di Bali baru tuh beda. Soalnya WIT sama WITA. Gimana si kamu say. Hahahah.”
            Aku langsung bercermin. Terdiam sejenak. Kemudian ulah gila ku pun keluar. Aku mengucek-ngucek rambutku. Maluuuuu. Adeeeeehhh ketahuan begonyaa dah gue. Sengitku dalam hati. Aku langsung log out dan aku menghindar sementara darinya.


“Cieeeeee.”
“Prikitiwwwww. Ehem ehem…”
Nyunyun dan Natul sudah menggodaku sejak aku menginjakkan kaki kesekolah. Ada apa dengan mereka???
            ”PJ doongg!!!” pinta Nyunyun membuat aku stop jantung.
            ”PJ??? Maksudnya? Gue kan belum tau juara kelas lagi atau enggak.” kataku menyombongkan diri.
            ”Somboonggg. Uhhfff.”
            ”Yaeelaahh gitu aja marah.” Aku tertawa kecil. ”Emang PJ apaan sih?” tanyaku sekali lagi.
            ”Yahhh pura-pura bego dah. Ituuu...”
            ”Itu apa?? Kalo ngomong yang jelas kenapa.”
            ”Ituuu si el el.”
            ”Jadian kan lw sama dia? Pake say say segala. Weeeeehhhh.” goda Nyunyun semakin menjadi.
            Aku pun tertawa terbahak-bahak. Ini anak pada mabok kali yahh. Pagi-pagi udah nanyain gue udah jadian apa gak. Pada stress akh!! Kataku masih menahan tawa. ”Wooo sok tau kaya dukun kalian. Udah akh masuk kelas yuk.” Aku langsung memotong pembicaraan, tujuannya sangat jelas. Menghindari gosip yang berkepanjangan.
            Aku langsung menceritakan semua pertanyaan yang diajukan si manyun tadi pagi sama El. Dia pun tertawa ngakak mendengarnya. Sebenarnya bukan mendengarnya, lebih benarnya membacanya. Membaca inbox ku.
            ”PJ?? Apa itu?” tanya El di inboxnya saat aku menceritakan bahwa si manyun dan si natul minta PJ.
            ”Pajak jadian. Mereka mah sedeng El,,, jadi jangan diseriusin. Hahaha. Kamu lagi apa say?” Aku sengaja memotong pembicaraan, biar tidak menjalar jauh. Yang ada si El malah makin bingung dengan pembicaraanku.
            ”Aku lagi ol aja sama kamu J” kata El sambil memberikan emotion smile.
            Emotion itu menandakan pasti dia baik-baik saja disana. Pikirku saat itu. Yang aku senang dari seorang El adalah selain setiap kata-katanya yang indah dia juga selalu melapor jika teman-temanku ngeadd fbnya atau memberikan wall. Hahaha ( padahal se gak harus gitu juga ).