BEDA ....
(
Ketika
KAMI dipisahkan oleh sebuah KEYAKINAN )
Tatapanku lurus
memandang kedepan. Memadang luasnya pantai dewata bali. Ombak yang bergelombang
indah. Burung-burung yang bertebaran indah diatas langit sore. Ya, aku sengaja
berdiri disini untuk melihat matahari terbenam. Aku ingin menjadi saksi betapa
indah keajaiban-NYA. Sama seperti aku bersama dia, hari-hariku selalu indah.
Iya Dia, dia yang memegang tanganku saat ini. Dia yang tepat berada
disampingku. Aku meliriknya untuk kesekian kalinya. Begitupun dia, melirikku
dengan tatapan penuh rasa. Dan akhirnya kamipun terhenti dan saling memandang.
Cairan bening membasahi pipi kami berdua. Dia memelukku. Memelukku sangat erat.
“Sabar yah.” Dia menenangkanku. Tapi aku masih dikondisi yang
dulu. Kondisi dimana aku takut kehilangan kekasihku yang sedang aku peluk ini.
Seketika otakku bekerja kemasa lalu. Kemasa dimana kami dipertemukan dengan
cinta.
JJJ
Aku sibuk dikamar dengan beberapa barang bawaanku. Materi
kuliah, laptop serta beberapa alat tulis yang harus super duper lengkap. Hari
ini adalah jadwalku mencari kasus untuk sidangku nanti. Aku harus mencari
kasusnya di Puskesmas. Ya aku mahasiswa kesehatan, yang lebih tepatnya aku
mahasiswa kebidanan. Hari ini aku harus tiba di Puskesmas pukul 7 pagi. Tidak
sarapan serta pamitan dengan Mama Papa sambil teriak-teriakan.
“Mahhh!! Pah!! Ela berangkat yah. Doaiiiin!!.” tanpa
menghampiri mereka aku langsung nyelonong pergi. Mobil pribadikuu sudah
menunggu dihalteee, cihuyy 213 akuu dating. Diperjalanan aku terus melirik jam
tanganku. “Please jangan bergerak dulu yah jarum panjangnya. Biar gue gak
telat.” pintaku gelisah.
“Selamat Pagi Kakaaaaaa Irmaa.” sapaku saat tiba di Puskesmas.
Kebetulan kepala ruangannya belum datang dan aku wajib mengelus dada “allhamdulillah”.
Ketika dipintu masuk puskesmas gak sengaja aku melihat dua lelaki dengan tangan
dilaptop dan tas yang lumayan berat berada dipunggung mereka. Wajahnya? Ehmm
songong.
“Kak siapa tuh?” tanyaku
memonyong-monyongkan bibirku.
“Anak Keperawatan, kenapa?”
“Mukanya belagu yah? Sok kaya yah
ka?” celetukku dan diiyakan oleh Ka Irma.
“Kerjain aja La.” kata Ka Irma
dengan efek datar. Dan aku senyum-senyum dengan rencana besar.
Namanya Constantein Johanes Geruh.
Woww banget namanyaa. Aku tau nama itu dari catatan absen yang ada dimeja
kepala ruanganku. Aku sengaja tidak menghampirinya. Dan aku sengaja belagak sok
jadi senior didepan dia. Rasain kau !!!
“Kamu sini!!” aku menunjuknya dengan
muka jutek. Benar saja dugaanku, dia memanggilku kaka. Hahahaa .
“Iya Ka kenapa?” tanyanya sambil
menunduk.
Sejak panggilaan kasar itu, dari
pagi hingga sore si punya nama panjang aku kerjain habis-habisan. Dari mulai
tensi pasien, kasih obat, bahkan memandikan. Semua kerjaan yang harusnya aku
yang kerjakan hari ini dikerjakan semua olehnya. Yess!! Berhasil.
“Nama panggilan lw siapa?” tanyaku
saat itu sambil senyum-senyum lucu.
“Otez ka.”
“Jangan panggil gue Ka, gue juga
mahasiswa juga kok. Sorry buat hari ini. Haha.” Tawaku pun memecah ruangan. Aku
semakin tertawa ngakak setelah melihat mukanya Otez yang mirip cecep. Muka
kagetnya lucuu bangett. Huahahahahaaa. “Dasar dodol.”
JJJ
Pertemuan kemarin adalah awal aku
dekat dengan Otez. Kurang lebih kami dekat selama 6 bulan. Selama 6 bulan kami
berteman, akhirnya pada titik ini kami pun menjauh. Aku menjauhinya karena
sebuah alasan yang setelah aku pikir-pikir seperti anak SD. Dia tidak menepati
janjinya untuk mengajakku ke DUFAN. Saat itu aku menyesal menjauh darinya. Dan
kamipun benar-benar menjauh. Aku dengan
lelaki lain, dan Dia dengan wanita lain. Kami berpisah tanpa jejak.
“Irwan, aku mau tanya sama kamu.”
tanyaku kepada lelaki yang menjadi pacarku saat ini. Saat dimana aku dan Otez
saling menjauh. “Kenapa Otez juga ikut jauhin aku?” pertanyaan itupun keluar
dari mulutku. Aku melihat wajahnya berubah masam.
“Kalian
gak bisa pacaran. Karena kalian beda agama.”
Kalimat itu terus memutari otakku. Semalaman suntuk aku memikirkan kalimat kecil itu. Mulut Irwan
lancang!! Aku terus mengumpatnya didalam hatiku. Dan kini aku tau kenapa Otez
menjauhi akuu. Ini karena agama. Ya!!! Kalo membicaran soal yang satu ini memang
cukup sensitive. Dan aku sangat mengerti itu. Yang aku inginni sekarang adalah
bertemu dengan Otez lagi. Bagaimana dengan Irwan?? Kami sudah selesai sejak
tadi malam. Bukan karena hal semalam saja. Banyak hal-hal negatif yang tidak
aku suka.
JJJ
Singkat cerita aku dipertemukan
kembali dengan Otez. Lelaki yang dulu menjauhiku karena agama kami. Lelaki yang
diam-diam aku suka. Lelaki yang mempunyai hati tulus. Iya dia Constantein
Johanes Geruh. Kami bertemu kembali dan kami mengikat hubungan kami dengan
status “Berpacaran”. Kini aku tau sejak
kapan dia mulai menyukai aku. Dan pada saat dia menjauhi aku, ternyata dia
masih menyempatkan diri untuk mencari kabar keberadaanku. Kami menjalani
hari-hari tanpa memikirkan status agama kami. Kami menikmati hubungan kami.
Yang aku tau adalah. Aku sayang dia dan dia sayang aku.
Keseharian kami cukup menarik. Kami
saling bertoleransi dengan agama kami masing-masing. Dia menghormati agamaku,
dan begitu sebaliknya aku menghormati agamanya.
Kisah cinta kami banyak melewati
pasang surut. Putus Nyambung. Tetapi puncakn ya adalah hari ini. Dimana status
pacaran kami menginjak usia 2 tahun.
“Kamu mau kan sayang?” tanya Otez
kepadaku.
“Aku mau menikah dengan kamu tapi
aku gak mau pindah dari agamaku.” jawabku dengan penuh keyakinan. Otez
mengajakku menikah. Dan dia juga menyuruhku untuk pindah ke agamanya “Nasrani”.
Itu tidak mungkin dan tidak akan pernah. Aku masih kokoh dengan keyakinanku.
Mungkin begitu sebaliknya, Otez juga akan menolak pindah keagamaku bila aku memintanya.
Ini mustahil. Diantara kami tidak akan pernah ada yang mengorbankan agamanya.
PUTUS!!! Itu keputusan yang tepat
untuk saat ini. Kami mengakhiri hubungan ini diusia 2 tahun. Dia dengan
agamanya. Dan aku dengan agamaku.
Sekarang kami berjalan tidak
berdampingan. Tetapi berjalan membelakangi. Dia dengan jalannya dan aku dengan
jalanku. Aku masih belum bisa memejamkan mata sampai jarum jam menunjukkan
angka 1 malam. Perasaanku sakit. Aku belum bisa menerima keputusan ini. Aku
masih menyanyangi Dia. Hati ini sebenarnya mengatakan tidak mau berpisah. Hati
ini ingin selalu bersamanya. Tapi aku mengingat kembali tentang agamaku. Dalam
agamaku melarangku menikah dengan agama yang berbeda.
“Sabar yah... Kita akan tetep jadi
sahabat baik kok. Sahabat yang selalu ada kapanpun buat kamu.” Lagi-lagi dia
menenangkanku dan lagi-lagi aku menangisi kisah cintaku ini. Aku memegangi
dadaku yang mulai terasa sesak.
“Maaf....” Hanya kata maaf yang bisa
aku katakan untuknya saat ini. Maaf untuk semuanya. Maaf untuk keputusanku.
Maaf untuk pendirianku. Terima kasih untuk cintamu. Terima kasih untuk kasih
sayangmu selama ini. Terima kasih Constantein Johanes Geruh
Matahari terbenam sangat indah
didepan mataku.
Begitu juga kamu yang benar-benar
pergi dan takkan kembali bersama cintaku. Pada akhirnya kisah kamipun
dipisahkan oleh sebuah keyakinan.
the and ...