Yunisarang

Yunisarang

Jumat, 21 Agustus 2015

24 JAM PERTAMA



Udah seminggu yang lalu gue liat video diatas. Tentang perjalanan bayi yang hanya punya berat kurang dari 1 gram. Sedih, takjub, dan mata gue berkaca-kaca, secara gue pernah ngalamin kayak gitu. Maksud gue, gue pernah ngerawat bayi kecil yang emaknye kejang. Dan itu cuma pake alat yang terbatass. Amat sangat terbatas. NO CPAP.. Just O2 headbox. Begadang begadang. Mata bener-bener melek ngeliatin monitor. Tapi gak penting si begadangnya, yang penting bayinyaaa sehatttt, pulangg kerumah sama emaknyeeee dengan selamat.. ‪#‎alhamdulillahh‬ ‪#‎sukses‬... ( dapet kuee selametan dari dokternyaa )

Ini bayi yang pernah gue rawat

Buat bayi kecil kayak gini selain keajaiban dari kuasaa ALLAH, jugaa kudu pegang duitt banyak. 107 days di NICU gak sebentar. LAMA meenn...!!!! 1 hari disitu ajah sekitar 50jutaan. Gimanaa kalo yang "maaf" gak punyaa duit??? Cumaa pasrahh anaknya harus dipanggil cepat oleh Maha Kuasaa... (Gue pernah diceritain sama temen, gegara gak punya duit akhirnya bayi dibawa pulang paksa dalam keadaan badan biruu.)

Gue doain semogaaa semuaaa bayi bayii diseluruhhh duniaaa lahir dalam keadaan SEHATT.. Buat orang tuanyaa mending  "NABUNG" yang banyakk sebelum tuh bayi berojol.. Karena setelah bayi lahir, bayi belum tentu sehat , normal 100%. Karena ada yang namanya 24 JAM PERTAMA pada bayi. Dimana setelah bayi lahir kita harus kudu wajib yang namanya observasi. Dari pernafasannya, HRnya dalam 30 menit pertama. Bahkan BAB BAK nya diobservasi lhooo guyss!!!. Karena masa-masa 24 jam pertama masa paling ristan untuk bayi.
 

Seadanya aje yehh, semoga bermanpaat ... Aminnn ..!!!!

Minggu, 10 Agustus 2014

SAN dan DAL



Kami sangat berguna untuk semua orang. Khususnya untuk kalangan bawah. Kalangan bawah? Ya itu menurut kami. Kami sangat murah. Kami sangat empuk. Murah meriah dan jika kami dipakai tidak akan membuat kaki kapalan dan sangat berguna untuk penyakit Diabetes tipe basah. Kami takkan terpisahkan. Dimana ada SAN disitu ada DAL. Kenapa?? Karena kami SANDAL...

Sejak awal kami memang sudah bersama. Sejak kami dibeli oleh salah satu kakek tua yang dengan setia memakai kami hingga usia senja saat ini 80 tahun. Tetapi takdir memisahkan kami ditengah malam. Iya takdir. Tidak ada yang bisa menunda takdir. Takdir datang dari kehendak-Nya. Kami terpisah tanpa jejak. Kami saling mencari satu sama lain. “Dimana...dimana...kamuu??”

Tepat malam takbiran kami dibawa oleh Pak Tua ke Masjid. Langkah Pak Tua sangat rentan dan hati-hati. Iya karena kami sudah lusuh. Karena karet yang ada dikami sudah menipis. Tapi Pak Tua setia memakai kami. “Terima kasih Pak Tua

Kami berbaris rapih diantara deretan sandal-sandal cantik. Kami berbaris rapih diantara deretan sandal-sandal mahal. Kami sedikit minder. Tidak lama kumpulan anak laki-laki mendekati kami. Dia mengambil SAN dengan paksa dan tidak berperasaan. SAN dilempar kedalam selokan. Dan aku ketengah jalan. Mereka menjadikan kami mainan. Mereka melempar kami ketengah jalan. Kalian jahat. Aku benci kalian!!!

Aku segera mencari SAN didalam selokan. Berharap dia tidak terbawa arus air selokan. Selokan itu bau. Bau busuk dan berwarna hitam. Aku yang disini saja mau pingsan. Bagaimana dengan dia yang didalam?? Bagaimana??. Harapanku pupus. Aku sudah mencarinya kesemua sudut. SAN ku menghilang. Pasanganku menghilang terbawa arus.

“DAAALLLL!!!” terdengar teriakan mirip SAN. Bukan mirip tapi itu benar-benar suara SAN. Aku celingukan mencari sumber suara.. Yupp!! Itu dia. SAN terbawa arus air selokan. Aku langsung mengejarnya. Mengejar sampai nafas penghabisan. Aku mengejarnya. Aku akhirnya melompat dari atas ke selokan. Badanku sengaja mengikuti arus agar jejak SAN tidak menghilang. Aku mendengar SAN terus memanggil manggil namaku. Aku tau pasti dia sangat ketakutan. “SAN tunggu aku. Aku pasti akan menolongmu.”

Diujung selokan kamipun TERPISAH. SAN kekanan dan aku kekiri. Saat itu aku tidak bisa menahan diriku untuk berhenti. Aku terbawa arus tanpa arah. Tanpa ujung. Begitupula dengan SAN. Semakin jauh jarak kami semakin tidak terdengar suara SAN. “SAAAN kamu dimana??”

Sekian menit mataku terpejam. Ternyata aku sudah berada didaratan. Daratannya asing. Seumur-umur aku belum pernah menjejakkan kakiku disini. Mataku menyebar kesetiap sudut kampong. Tidak berapa lama anak laki-laki kira-kira berusia 5 tahun mendekatiku. Aku khawatir. Aku takut. Aku takut dilempar seperti saat itu. Dan aku takut dia akan menjadikanku mainan seperti dulu. Seperti dulu saat Aku dan SAN masih bersama.

“Umiii... Enang nemuin sandal Mii.” teriak anak laki-laki itu antusias. Akupun menghela nafas. Ternyata dia anak baik. Aku dibawa pulang olehnya. Oleh “maaf” pemulung. Dirumahnya aku diberi lem disetiap sudut badanku. Memang kondisiku saat ini amat sangat lusuh. Enang nama anak laki-laki yang mengambilku, menaruhku dirak dekat belakang pintu. Ini waktunya aku istirahat. Terima kasih Enang.

Pagi ini aku melihat Uminya Enang sangat senang. Wajahnya ceria tidak seperti biasanya. Aku melihat moment itu masih didalam rak belakang pintu.

“Umi kenapa senyam senyum  sendiri?” tanya Enang penasaran. Aku terus memperhatikan mereka berdua dibalik pintu. Tangan Umi yang sedari tadi dibelakang kini dikedepankan. Ditangan kanannya ada sebungkus kado yang hanya dibungkus oleh koran bekas.

“Umi ini apa?”
“Buka saja Nak, Umi cuma bisa ngasih ini ajah sama kamu.” ucap Umi sambil mengelus kepala Enang. Enang sangat antusias saat menerima kadonya. Enang membuka kadonya dengan cepat. HOREE!!! Aku kanget ketika mendengar teriakan Enang. Kado apa yang dia dapat dari Umi?? Mainan? Atau benda yang memang bagus?? Aku sangat penasaran.
Enang menghampiriku. Dia mengambilku dari rak. Dia memakaiku dikaki mungilnya? Untuk apa? Aku hanya sebelah. Pasanganku menghilang. Aku tidak mungkin bisa dipakai untuk sehari-hari lagi. Aku tidak berguna tanpa San.

“DAL...” suara itu?? Aku mengenalnya. Sangat amat mengenalnya. Aku mencari sumber suara suara. Aku tercengang. SAN ada didepanku “saat ini”. Benar-benar didepanku dengan jarak 5cm. Aku mencubit pipiku. Ternyata kado yang diberikan Umi kepada Enang adalah SAN. Pasanganku.

“Umi ini sangat cocok. Terima kasih Umi. Tapi bagaimana Umi bisa menemukannya sama persis?” tanya Enang penasaran.
“Umi tidak sengaja menemukannya dikampung sebelah nak saat Umi sedang mencari botol bekas. Allahamdulillah ternyata cocok. Ini rezeky kamu Nak. Maaf Umi hanya bisa ngasih ini sama kamu Nang.”
“Tidak apa-apa Umi. Enang sudah senang sekali. Nanti Enang pakai ke Masjid yah Mi.” kata Enang sambil memeluk Umi

Kami yang melihat itu seraya tidak bisa menahan haru. Kami bersyukur dipertemukan oleh orang yang baik hati. Oleh keluarga yang baik hati. Kini KAMI sudah bersama lagi. Kini kami sepasang sandal yang siap dipakai kapan saja dimana saja. Allhamdulillah. Enang menaruh kami kembali dirak yang masih berada dibelakang pintu. Aku dan SAN saling menatap. Kami benar-benar bersyukur. Sekarang mereka keluarga baru KAMI.

 “SAN dan DAL akan selalu bersama selamanya.” Ucap janji KAMI bersamaan.

THE AND .. Thanks for reading my Short Story

Jumat, 03 Januari 2014

Aku dan Baby Bala-Bala

                     


Lo tau gak sih kenapa bayi itu wangi?
Bayi itu lucu?
Bayi itu imut?
Meskipun emak bapaknya jelek, tapi pas bayi pasti cantik banget.
Ada yang tau????
HAHAHAHAA... Gak ada yang tau yah?? SAMA kalo gitu dah.

Alasan kenapa gue seneng banget sama bayi-bayi mungil, anak-anak kecil yak karena itu. Karena mereka menggemaskan. Awal mula gue seneng sama mereka dari jaman kuliah di AKPER. Kebetulan juga ada mata kuliah keperawatan anak. Dan juga ada praktek ruangannya yang khusus dibidang bayi dan anak-anak. Jujur dulu gue paling dodol sama keperawatan anak. Dari ngitung dosis obat buat anak-anak yang emang beda banget sama orang dewasa. Belom lagi ngitung berat badan normalnya, gizinya. Yang lebih sulit malah pasang infus. Gileeee itu kecil-kecil sekeles venanya. Oalaaahh nilai gue paling jatohh dahh dimateri ini. Tapi gue bertekat kelak gue lulus nanti, gue mau jadi perawat anak. Dan impian gue tercapai ditempat kerja gue sekarang. ( Mari berucap allhamdulillah ) .

Iya tempat gue kerja membebaskan gue memilih dimana gue mau ditempatin. Dan dari awal gue wawancara gue selalu bilang “Saya mau diruang anak.” Begitu banyak pertanyaan kenapa gue mau ditempatin di ruang anak.
Salah satunya ini :
“Kok mau si diruang anak? Anak-anakan cengeng, apalagi bayi.”
“Anak-anak kan cuma bisanya nangis. Laper nangis. Sakit nangis. Pipis nangis.”
SO WHAT GITU LHO??!!! 

Gue pengen dinas di ruang anak bukan karena gue ibu-ibu, secara umur masih twenty two years old git lho. Masih unyu-unyuu. Hahaha.... Semenjak gue dines diruang anak gue allhamdulillah happy-happy ajah. Kalo lagi BT dirumah tinggal cubit baby-babynyaaa pas diruangan. Positifnya gue dikeperawatan anak adalah melatih kesabaran guee dan menahan emosi. #ASEKKASEKKKJOS

 
Lucu-Lucu kaann?? Menggemaskan bukan?? Berkat mereka gue awet muda. Hwkwkwkw. Paling seneng kalo mereka sudah sehatt dan pulang dengan berat badan yang menigkat serta pipi yang gembil mirip sustelnya. HAHAHA 

Mau dikerjaan atau diluar l love baby .. Ini salah satu babynya temen guee yang lucu jugaa. Sudah bisa merangkak lhoo. Pipinya juga sangat gembil

Kegiaatan favoritt bangett bangeettt ini. Gue butuh waktu berbulan-bulan belajar mandiin bayi. Ternyata sulit. Dan gue ngelakuin itu diawasi sama senior guee. Thank senior :) . Jangankan orang dewasa yang suka air, bayipun demikian. Pas ditaro didalem air langsung diem seketikaaa. Iihhh lucuuu :)

BEST MOMENT !!! Wajah lucuu baby yang spontan. Smile, sleep and bengongg semuaa spontan begitu saja. Dan gue juga gak nyangka bayi-bayi itu pada sadar kameraa. HAHAHAHA

Buat ibu-ibu yang sudah punya bayi maupun yang akan mejadi calon ibu berbahagialah kalian semuaa. Rawatlah mereka dengan penuh kasih sayang  ... #kissandhug





Rabu, 01 Januari 2014

BEDA ( Ketika KAMI dipisahkan oleh sebuah KEYAKINAN )



BEDA ....
( Ketika KAMI dipisahkan oleh sebuah KEYAKINAN )

Tatapanku lurus memandang kedepan. Memadang luasnya pantai dewata bali. Ombak yang bergelombang indah. Burung-burung yang bertebaran indah diatas langit sore. Ya, aku sengaja berdiri disini untuk melihat matahari terbenam. Aku ingin menjadi saksi betapa indah keajaiban-NYA. Sama seperti aku bersama dia, hari-hariku selalu indah. Iya Dia, dia yang memegang tanganku saat ini. Dia yang tepat berada disampingku. Aku meliriknya untuk kesekian kalinya. Begitupun dia, melirikku dengan tatapan penuh rasa. Dan akhirnya kamipun terhenti dan saling memandang. Cairan bening membasahi pipi kami berdua. Dia memelukku. Memelukku sangat erat.
“Sabar yah.” Dia menenangkanku. Tapi aku masih dikondisi yang dulu. Kondisi dimana aku takut kehilangan kekasihku yang sedang aku peluk ini. Seketika otakku bekerja kemasa lalu. Kemasa dimana kami dipertemukan dengan cinta.

JJJ
Aku sibuk dikamar dengan beberapa barang bawaanku. Materi kuliah, laptop serta beberapa alat tulis yang harus super duper lengkap. Hari ini adalah jadwalku mencari kasus untuk sidangku nanti. Aku harus mencari kasusnya di Puskesmas. Ya aku mahasiswa kesehatan, yang lebih tepatnya aku mahasiswa kebidanan. Hari ini aku harus tiba di Puskesmas pukul 7 pagi. Tidak sarapan serta pamitan dengan Mama Papa sambil teriak-teriakan.
“Mahhh!! Pah!! Ela berangkat yah. Doaiiiin!!.” tanpa menghampiri mereka aku langsung nyelonong pergi. Mobil pribadikuu sudah menunggu dihalteee, cihuyy 213 akuu dating. Diperjalanan aku terus melirik jam tanganku. “Please jangan bergerak dulu yah jarum panjangnya. Biar gue gak telat.” pintaku gelisah.
“Selamat Pagi Kakaaaaaa Irmaa.” sapaku saat tiba di Puskesmas. Kebetulan kepala ruangannya belum datang dan aku wajib mengelus dada “allhamdulillah”. Ketika dipintu masuk puskesmas gak sengaja aku melihat dua lelaki dengan tangan dilaptop dan tas yang lumayan berat berada dipunggung mereka. Wajahnya? Ehmm songong.
            “Kak siapa tuh?” tanyaku memonyong-monyongkan bibirku.
            “Anak Keperawatan, kenapa?”
            “Mukanya belagu yah? Sok kaya yah ka?” celetukku dan diiyakan oleh Ka Irma.
            “Kerjain aja La.” kata Ka Irma dengan efek datar. Dan aku senyum-senyum dengan rencana besar.
            Namanya Constantein Johanes Geruh. Woww banget namanyaa. Aku tau nama itu dari catatan absen yang ada dimeja kepala ruanganku. Aku sengaja tidak menghampirinya. Dan aku sengaja belagak sok jadi senior didepan dia. Rasain kau !!!
       “Kamu sini!!” aku menunjuknya dengan muka jutek. Benar saja dugaanku, dia memanggilku kaka. Hahahaa .
            “Iya Ka kenapa?” tanyanya sambil menunduk.
          Sejak panggilaan kasar itu, dari pagi hingga sore si punya nama panjang aku kerjain habis-habisan. Dari mulai tensi pasien, kasih obat, bahkan memandikan. Semua kerjaan yang harusnya aku yang kerjakan hari ini dikerjakan semua olehnya. Yess!! Berhasil.
            “Nama panggilan lw siapa?” tanyaku saat itu sambil senyum-senyum lucu.
            “Otez ka.”
            “Jangan panggil gue Ka, gue juga mahasiswa juga kok. Sorry buat hari ini. Haha.” Tawaku pun memecah ruangan. Aku semakin tertawa ngakak setelah melihat mukanya Otez yang mirip cecep. Muka kagetnya lucuu bangett. Huahahahahaaa. “Dasar dodol.”

JJJ
            Pertemuan kemarin adalah awal aku dekat dengan Otez. Kurang lebih kami dekat selama 6 bulan. Selama 6 bulan kami berteman, akhirnya pada titik ini kami pun menjauh. Aku menjauhinya karena sebuah alasan yang setelah aku pikir-pikir seperti anak SD. Dia tidak menepati janjinya untuk mengajakku ke DUFAN. Saat itu aku menyesal menjauh darinya. Dan kamipun benar-benar menjauh.  Aku dengan lelaki lain, dan Dia dengan wanita lain. Kami berpisah tanpa jejak.
       “Irwan, aku mau tanya sama kamu.” tanyaku kepada lelaki yang menjadi pacarku saat ini. Saat dimana aku dan Otez saling menjauh. “Kenapa Otez juga ikut jauhin aku?” pertanyaan itupun keluar dari mulutku. Aku melihat wajahnya berubah masam.

          “Kalian gak bisa pacaran. Karena kalian beda agama.”
Kalimat itu terus memutari otakku. Semalaman suntuk  aku memikirkan kalimat kecil itu. Mulut Irwan lancang!! Aku terus mengumpatnya didalam hatiku. Dan kini aku tau kenapa Otez menjauhi akuu. Ini karena agama. Ya!!! Kalo membicaran soal yang satu ini memang cukup sensitive. Dan aku sangat mengerti itu. Yang aku inginni sekarang adalah bertemu dengan Otez lagi. Bagaimana dengan Irwan?? Kami sudah selesai sejak tadi malam. Bukan karena hal semalam saja. Banyak hal-hal negatif yang tidak aku suka.

            JJJ

        Singkat cerita aku dipertemukan kembali dengan Otez. Lelaki yang dulu menjauhiku karena agama kami. Lelaki yang diam-diam aku suka. Lelaki yang mempunyai hati tulus. Iya dia Constantein Johanes Geruh. Kami bertemu kembali dan kami mengikat hubungan kami dengan status “Berpacaran”.  Kini aku tau sejak kapan dia mulai menyukai aku. Dan pada saat dia menjauhi aku, ternyata dia masih menyempatkan diri untuk mencari kabar keberadaanku. Kami menjalani hari-hari tanpa memikirkan status agama kami. Kami menikmati hubungan kami. Yang aku tau adalah. Aku sayang dia dan dia sayang aku.
      Keseharian kami cukup menarik. Kami saling bertoleransi dengan agama kami masing-masing. Dia menghormati agamaku, dan begitu sebaliknya aku menghormati agamanya.
     Kisah cinta kami banyak melewati pasang surut. Putus Nyambung. Tetapi puncakn ya adalah hari ini. Dimana status pacaran kami menginjak usia 2 tahun.
       “Kamu mau kan sayang?” tanya Otez kepadaku.
     “Aku mau menikah dengan kamu tapi aku gak mau pindah dari agamaku.” jawabku dengan penuh keyakinan. Otez mengajakku menikah. Dan dia juga menyuruhku untuk pindah ke agamanya “Nasrani”. Itu tidak mungkin dan tidak akan pernah. Aku masih kokoh dengan keyakinanku. Mungkin begitu sebaliknya, Otez juga akan menolak pindah keagamaku bila aku memintanya. Ini mustahil. Diantara kami tidak akan pernah ada yang mengorbankan agamanya.
      PUTUS!!! Itu keputusan yang tepat untuk saat ini. Kami mengakhiri hubungan ini diusia 2 tahun. Dia dengan agamanya. Dan aku dengan agamaku.
     Sekarang kami berjalan tidak berdampingan. Tetapi berjalan membelakangi. Dia dengan jalannya dan aku dengan jalanku. Aku masih belum bisa memejamkan mata sampai jarum jam menunjukkan angka 1 malam. Perasaanku sakit. Aku belum bisa menerima keputusan ini. Aku masih menyanyangi Dia. Hati ini sebenarnya mengatakan tidak mau berpisah. Hati ini ingin selalu bersamanya. Tapi aku mengingat kembali tentang agamaku. Dalam agamaku melarangku menikah dengan agama yang berbeda.
           
     “Sabar yah... Kita akan tetep jadi sahabat baik kok. Sahabat yang selalu ada kapanpun buat kamu.” Lagi-lagi dia menenangkanku dan lagi-lagi aku menangisi kisah cintaku ini. Aku memegangi dadaku yang mulai terasa sesak.
   “Maaf....” Hanya kata maaf yang bisa aku katakan untuknya saat ini. Maaf untuk semuanya. Maaf untuk keputusanku. Maaf untuk pendirianku. Terima kasih untuk cintamu. Terima kasih untuk kasih sayangmu selama ini. Terima kasih Constantein Johanes Geruh

       Matahari terbenam sangat indah didepan mataku.
      Begitu juga kamu yang benar-benar pergi dan takkan kembali bersama cintaku. Pada akhirnya kisah kamipun dipisahkan oleh sebuah keyakinan.
            

 the and ...