Mukena baru untuk Ibu
Matahari masih tenggelam dibalik awan. Angin yang bersemilir lembut segera menyambut datangnya fajar. Angin yang meman tajam menyengat kulit. Dingin. Terus menusuk dalam-dalam kulit.
Aku disini sudah duduk dengan sarung yang menyelimuti tubuhku. Menghalangi angin yang masuk kedalam tubuhku. Duduk diantara bongkahan sampah. Sampah bekas sisa-sisa sayuran. Baunya. Bau busuk. Sangat busuk.
Aku masih duduk disana, menanti truk-truk pengangkut sayuran. Bukan hanya aku saja yang menunggu, tetapi semua sebagian besar penduduk sini menunggu kedatangan truk pembawa uang. Begitu kebanyakan orang mengatakan. Aku juga berfikir seperti itu. Dari anak yang berumur tiga tahun sampai sudah lanjut usia pun ikut menantikan truk pembawa uang itu. Aku yang masih berumur lima tahun, tidak mau kalah dengan orang dewasa yang mempunyai tenaga lebih besar.
“Budak liwar, sana gih balik. Entong kerja iye. Bahaya. Ini berat.” kata seorang kakek tua menasehatiku dengan bahasa sunda.
Tapi aku tidak menghiraukan kata-katanya. Aku mau kerja. Kerja apapun. Demi Ibuku.
Akhirnya berjam-jam menunggu mobil truk pun datang dengan membawa bongkahan-bongkahan karung besar yang berisi bermacam-macam sayuran dan buah. Aku mencoba memaksa masuk dihimpitan kuli-kuli pasar itu yang bertubuh besar-besar. Aku mencoba menarik paksa karung-karung yang melebihi tubuhku.
AKUUU DAPAAAAT… !!! teriakku girang.
Aku mendapat satu karung yang berisi kangkung. Karung itu akan aku antarkan ke blok C, milik Pak Haji Ramli.
Dengan keringat dan tenaga yang seadanya, aku menggendong karung tersebut menuju tempat tujuan. Kakiku sempat goyah karena letih. Aku menaiki satu persatu anak tangga sambil menahan beratnya satu karung kangkung. Sangat berat. Keringatku ini untuk Ibu. Ibu ku sayang. Keringatku membuktikan bahwa aku benar-benar bekerja keras untuknya.
“Pak Haji ini kangkungnya.” kataku saat tiba tepat didepan warung Pak Haji Ramli. Penjual kangkung yang sudah menjadi langgananku.
“Oiya, Ini Ahmad ambil uangnya. Terima kasih ya nak.”
Pak Haji Ramli memberi upah panggulku dua ribu rupiah. Alhamdulillah. Uang itu aku selipkan disaku celana kananku. Dipaling dalam. Setelah mengantar kangkung, aku segera turun ketempat dimana tadi aku mengambil satu karung kangkung. Aku ingin mendapatkan uang lagi.
Aku menjadi kuli panggul dipasar dari jam 6pagi sampai jam enam sore. Rasa lelah sangat terlihat dari wajahku. Hari ini aku mendapatkan 10ribu rupiah. Uang yang cukup banyak bagiku. Uang ini akan aku berikan kepada Ibuku.
Aku berlari pulang menuju rumah gubuk ku. Rumah yang hanya terbuat dari sisa-sisaan kardus yang sudah rapuh. Tapi bagi kami masih sangatlah berguna.
“IBUUUUUUU….!!!” Teriakku didepan pintu.
“Ahmaad !! Kamu sudah pulang nak? Uhuk uhuk.” tanya Ibu dengan batuknya yang tak kunjung sembuh. Belakangan ini Ibu memang lagi sakit-sakitan. Katanya hanya batuk dan pusing biasa saja. Aku pun hanya bisa mengiyakannya, ibu tidak pernah cerita-apa-apa tentang penyakitnya.
“Sudah maghrib. Ayuk nak kita shalat.” ajak Ibu yang sudah siap ingin berwudhu.
“Baik buuu.. Oiya bu, ini.” Aku memberikan uang kerja jadi kuli panggul dipasar kepada Ibuku. Ibu pun menerimanya dengan senyuman. Dan mengembalikannya 5ribu. Katanya untuk aku tabung atau jajan.
“Kamu pegang 5ribu yah Mad.” kata Ibu dengan batuknya.
Saat aku dan Ibu sudah selesai shalat magrib, aku melihat mukena Ibu sudah lusuh. Warnanya sudah tidak putih lagi. Baunya juga sudah tidak jelas. Bau bermacam aroma. Aroma yang gak enak dicium oleh dihidung.
Didalam shalatku tadi. Aku berdoa hanya untuk Ibu. Kesehatan Ibu dan doa agar kami selalu bersama.
Doa untuk Ayah?
Untuk apa?
Ibu dan aku ditinggalkannya saat aku berumur satu tahun. Sejak saat itu, aku menganggap tidak ada seorang Ayah untukku didunia ini.
CCC
Setiap hari. Setiap habis shalat. Pikiranku terbayang dengan “mukena” ibu. Aku harus kerja lebih keras lagi. Kumpulkan uang yang banyak. Aku ingin memberikan kado dihari special Ibu. Hari dimana Ibu dilahirkan didunia.
Sejak fajar telah menyapa. Aku sudah mulai bekerja. Dari menjadi kuli panggul dipasar, tukang cuci piring di warung-warung nasi, jadi penjaga parkir, jual rokok dan sampai aku jual Koran. Semuanya HALAL. Kegigihanku semakin kuat, karena aku anak lelaki yang meskipun baru berumur enam tahun. Tapi aku memiliki jiwa dan semangat seperti orang dewasa. Yang akan melindungi dan menjaga Ibu.
Malam hari aku bersandar dipojok dapur. Aku menghitung lembar demi lembar uang hasil kerjaku selama tiga hari ini. Aku melirik kalender, “Ibu besok ulang tahun. Ya Allah mudah-mudahan uangku cukup untuk membeli mukena baru untuk Ibu.” Doaku saat itu. Aku menyimpan uangnya dikaleng susu yang memang sengaja aku buat. Aku menyimpan kaleng iu didalam lemari yang aku tutupi dengan baju-baju lusuhku.
Keesoakan paginya tanpa pamitan dengan Ibu, aku bergegas pergi kepasar. Kali ini tujuannku bukan untuk bekerja. Kali ini tujuanku kepasar untuk membelikan mukena baru untuk Ibu. Aku menyusuri took demi took didalam pasar. Nafasku sampai terpogoh-pogoh. Langkah kaki ku pun terus menyusuri setiap sudut pasar. Mencari took yang menjual mukena.
“Umiii !!! Mukena itu sabaraha? Ahmad mau kasih Ibu kado. Hari ini Ibu Ahmad ulang tahun.” teriakku saat melihat mukena yang terpajang cantik didepan toko Umi Munaroh. Hiasan warnanya hijau, pas sekali. Warna hijau adalah warna kesukaan Ibu.
“60 ribu Mad.” kata Umi Munaroh.
Aku mengeluarkan seluruh uangku dari dalam sakuku. Ku hitung uangku lembar demi lembar. “Yaaaaaaahhh….” desahku dengan wajah kecewa. Ternyata uangku tidak cukup.
“Kenapa Mad?? Kok tiba-tiba sedih wajahnya?”
“Uang Ahmad Cuma ada 40ribu Mi.” ucapku tanpa memalingkan wajah ke Umi.
Umi terdiam sejenak. Umi mengambil mukenanya yang tergantung diatas dengan kayu yang diberi paku. “Yaudah gak apa-apa. Umi kasih diskon buat Ahmad. Spesial.” ucap Umi sambil menggodaku.
“Bener Umi?” tanyaku masih belum yakin.
Umi hanya tersenyum. “Ini ambil. Umi nitip salam yah buat Ibu kamu Mad.”
“Iya Mi pasti. Terima kasih Mi. Ini uangnya.” Aku memberikan uangnya kepada Umi dengan bentuk yang gak beraturan.
Tetapi Umi langsung menepisnya. “Tidak usah, lebih baik kamu simpan uangnya. Atau kamu belikan keu untuk Ibumu.”
“Umiii…” cairan bening mengalir begitu aja dari mataku. Umi seperti Ibuku sendiri. Aku memeluk Umi dengan erat dan mengucapkan terima kasih. Umi sangat mengerti aku.
Aku langsung berlari meninggalkan Umi dan berteriak. “Umi terima kasih. Uangnya mau Ahmad belikan kue aja. Terima kasih Umi. Assalamualaikum.” Aku melambaikan tanganku kepada Umi. Umi pun membalas lambaiannya padaku.
“Hati-hati Mad.”
CCC
Malam hari tepat pukul 7, aku tiba dirumah gubuk ku tercinta. Aku tidak mengetuk pintu. Sengaja. Aku ingin buat kejutan. Aku memasuki rumah dengan langkah perlahan. Berharap Ibu tidak mendengar kedatanganku.
Aku mencari sosok Ibuku keseluruh ruang. Didapur gak ada. Ehm… dimana yah?? Aku berfikir sejenak.
Oia !!!
“Ibuuuu.” Aku mencoba memanggil nama Ibu. Berkali-kali. Namun, tanpa sahutan sama sekali. Aku mulai gelisah. Aku terus mencari Ibu keseluruh sudut.
Nahh itu dia !!! Desahku saat aku melihat Ibu sedang tertidur diatas sajadah dengan mukena lusuhnya. Aku sudah siap dengan kue ulang tahun dan kado dikedua tanganku.
“Ibu selamat ulang tahun.” teriakku sambil menyodorkan kue dan kadonya. “Ibu, Ahmad pulang. Ahmad bawa mukena baru untuk Ibu.” panggilku sekali lagi. Aku mencoba mengguncang-guncangkan tubuh Ibuku.Terus dan terus. Berharap Ibu bangun dari tidurnya.
Aku curiga. Aku merasa aneh dengan sikap Ibu. Sudah aku goyang-goyangkan tubuhnya, tapi kenapa tidak bangun-bangun. Kenapa Ibu belum menyadari kedatanganku. Aku ragu untuk membalikkan tubuh Ibuku. Takut kalau Ibu sudah mat……
Astagfurullah ala’azim. ucapku dalam hati penuh kekhilafan.
Aku pun membalikkan tubuh Ibuku dengan rasa takut dan keberanian tinggi. Aku melihat itu. Begitu nyata. Aku melihat darah. Darah yang keluar dari mulut Ibuku. Mukena lusuhnya pun dibanjiri oleh darah. Darah yang memang masih segar.
Air mataku mulai banjir kali ini. Tak tertahankan lagi. Ibuku, orang yang satu-satunya aku lihat diselama hidupku kini benar-benar pergi. Pergi menemui sang pencipta. Pergi untuk selama-lamanya. Pergi dihari ulang tahunnya.
Satu kecupan terakhir aku berikan dikening Ibuku. Kecupan untuk terakhir kalinya. “Selamat ulang tahun Ibuku. Hiks hiks.” bisikku sesegukan saat mencium kening Ibuku. Aku mencoba menyanyikan sebait lagu ulang tahun untuk Ibuku.
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun
Hiks…hiks…hiks…hiks…hiks…
“Ini mukena baru untuk Ibu.” masih dengan air mata, Aku membuka mukenanya dan menaruhnya ketubuh Ibuku. Sampai tubuh Ibuku terselimuti oleh mukena barunya. Aku memeluk Ibu dengan mukena barunya yang hanya menempel. Aku yakin Ibu pasti senang dengan kadoku ini. Aku makin larut dengan pelukan terakhir Ibu. Ibuku sayang.
Ya ALLAH, terimakasih karena telah memberikanku seorang ibu yang begitu kuat dan sabar, saat figur seorang Ayah yang telah tiada di kehidupanku……..
Ya ALLAH lindungilah ibuku dari semua marabahaya yang datang menghampirinya…..
semoga ibu tegar menjalani hidup ini..dan mendapat ridha dari ALLAH, amiiin…..






























