BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bronko Pneumonia adalah inflamasi akut bronklolus dan jaringan paru penyakit infeksi mengenai bagian-bagian yang tersebar dalam paru yang sering dijumpai pada orangtua dan anak kecil. Pneumonia disebabkan oleh bakteri, virus, mycoplasma pneumonia, jamur, aspirasi pneumonia ( masuknya cairan atau benda padat ke dalam saluran pernafasana ) dan bakteri streptococcus pneumonia. Hal ini sering ditandai dengan deman 39,5 – 40,5 C. Sesak nafas, nyeri dada, napas dan nadi cepat, dahak berwarna kehijauan, Retraksi dinding torak, pernafasan cuping hidung, patuk proksimal mirip perfusi.
Dilihat dari keadan kota Jakarta yang padat penduduk serta kemacetan kota Jakarta dan banyaknya kendaraan serta pabrik-pabrik yang aktivitasnya selalu mengeluarkan asap yang sangat banyak, seringnya beraktifitas diluar rumah mengakibatkan kita sellau bertataap langsung dengan debu dan asap kendaraan, karena kekebalan tubuh anak masih sedikit atau belum kuat maka anak yang paling sering terjangkit. Jika Bronko Pneunomia ini tidak ditangani maka bisa terjadi emplema, otitis media akut, emfisema, meningitis.
Dalam kasus ini peran perawat sangat penting dalam penyembuhan klien. Perawat berperan secara promotif , preventif, rehabilitative, advokasi dan sebagainya. Karena pentingnya kasus ini maka kelompok kami tertarik untuk membuat Asuhan Keperawaan Pada Anak Dengan Bronko Pneunomia ( Sylvia Andersom 2002 )
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Bronko Pneunomia adalah inflamasi akut bronklolus dan jaringan paru. Penyakit infeksi mengenai bagian-bagian yang terbesar dalam paru sering dijumpai pada orangtua dan anak kecil. ( Kamus Keperawatan Ed 31 : 2001 )
Bronko Pneunomia adalah radang paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate. ( whelley and wong, 2002 )
Bronko Pneunomia disebut juga pneumonia lobularis yaitu radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri virus, jamur dan benda-benda asing. ( Sylvia Andersom 2002)
Pneumonia adalah radang parenhim paru. Banyak macam klasifikasi mengenai pneumonia, tetapi klasifikasi ini dianggap kurang memuaskan. ( Nursalam, 2005, hal : 114 )
B. Etiologi
Beberapa penyebab dari Pneunomia yaitu :
1. Bakteri
2. Virus
3. Mycoplasma pneumonia ( pentuk peralihan antara bakteri dan virus )
4. Jamur
5. Aspirasi pneumonia ( masuknya cairan atau benda padat kedalam saluran
pernapasan)
6. Hypostatic akibat imobilitas / tidur yang terlentang dan terlalu lama.
7. Sindrom Loeffler terjadi yaitu bakteri streptococcus pneumonia.
A. Manifestasi Klinis
1. Demam ( secara khas diawali dengan menggigil, demam timbul dengan cepat 39,50 – 40,50 )
2. Sesak napas
3. Nyeri dada yang terasa seperti ditusuk-tusuk saat bernafas dan batuk
4. Napas dan nadi cepat
5. Dahak berwarna kehijauan
6. Retraksi dinding torak
7. Pernapasan cuping hidung
8. Batuk proksimal mirip pertusis ( umum terjadi pada anak yang lebih kecil )
B. Patofisiologi
Bronco Pneumonia selalu didahului oleh infeksi saluran napas bagian atas yang disebabkan oleh bakteri staphylococcus, Haemophillus atau karena aspirasi makanan dan minuman. Awalnya terjadi edema reaktif yang mendukung multiplikasi organism. Organisme ini serta penyebarannya kebagian paru lain yang berdekatan. Umumnya bakteri ini mencapai alveoli melalui percikan mucus atau saliva dan tersering mengenai lobus bagian bawah paru karena adanya efek gravitasi. Organisme ini setelah mencapai alveoli akan menimbulkan respon yang khas yang terdiri dari 4 tahap, yaitu :
1. Kongesti
Eksudat serasa masuk kedalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor.
2. Hepatisasi merah ( 48 jam berikutnya )
Paru-paru tampak merah dan bergranula karena sel-sel darah merah, fibrin dan leukosit folimorfonuklear mengisi alveoli.
3. Hepatisasi kelabu ( 3 s/d 8 hari )
Paru-paru tampak kelabu karena leukosit dan fibrin mengalami korulidasi didalam alveoli yang terserang.
4. Resolusi ( 7 s/d 11 hari )
Eksudat mengalami lisis direabsorbsi oleh makrofag sehingga kembali pada strukturnya semula.
Bercak-bercak infiltrate yang terbentuk adalah bercak-bercak yang difus, mengikuti pembagian dan penyebaran bronkus dan ditandai dengan adanya daerah-daerah konsdidast terbatas yang mengelilingi saluran-saluran napas yang lebih kecil.
- Komplikasi
1. Pengumpulan nanah didalam jaringan paru yang merdang
2. Pengembangan paru yang tidak sempurna merupakan akibat kurangnya mobilisasi / reflex batuk hilang
3. Infeksi sistemik
4. Infeksi yang menyerang selaput otak
5. Pengumpulan cairan pada rongga pleura
F. F. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resisten. Akan tetapi hal itu perlu waktu dan pasien perlu terapi secepatnya maka biasanya yang diberikan :
a. Penisilin 50.000 U/kg/hari , ditambah dengan kloromfenikol 50-70 mg/kg BB/hari atu diberikan antibiotic yang mempunyai spectrum luas seperti ampisilin. Pengobatan ini diteruskan samapi bebas demam 4-5 hari
b. Pemberian oksigen dan cairan intravena ; biasanya diperlukan campuran glucose 5% dan NACL 0,9% dalam perbandingan 3 : 1 ditambah larutan KCL 10 mEq/500 ml/botol infuse.
c. Karena sebagian besar pasien jatuh kedalam asidosis metabolic akibat kurang makan dan hipoksia, maka dapat diberikan koreksi sesuai dengan hasil analisa gas darah arteri.
d. Pemeriksaan Diagnostik :
1) Foto toraks, pada foto toraks bronkopneumonia terdapat bercak-bercak infiltrate pada satu atau beberapa lobus. Jika pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu / beberapa lobus.
2) Laboratorium, gambar darah tepi menunjukkan leukositasis dapat mencapai 15.000-40.000/mm3 dengan pergeseran kekiri. Kuman penyebab dapat diblok dari usapan tenggorok, dan mungkin juga dari darah. Urine biasanya berwarna lebih tua, mungkin terdapat albuminuria ringan karena suhu yang naik dan sedikit torax hialim. Analisa gas darah arteri dapat menunjukkan asidosis metabolic dengan atau tanpa retensi C02.
2. Penatalaksanaan Keperawatan
Masalah klien yang perlu diperhatikan ialah menjaga kelancaran pernapasan, kebutuha istirahat, kebutuhan nutrisi / cairan, mengotrol suhu tubuh, mencegah komplikasi dan kurangnya pengetahuan orang tua mengenal penyakit.
a. Menjaga kelancaran pernapasan
Pasien pneumonia berada dalam keadaan dispnea dan sianosis karena adanya radang dan banyaknya lender didalam bronkis / paru. Agar pasien dapat bernapas secara lancar lendir tersebut harus dikeluarkan dan dan untuk memenuhi kebutuhan O2 perlu dibantu dengan memberikan O2, 2 L/ menit secara rumat. Pada anak yang agak besar berikan sikap baring setengah duduk, longgarkan pakaian yang menyekat seperti ikat pinggang, kaos baju yang agak sempit. Ajarkan agar bila ia batuk lendirnya dikeluarkan dan katakan kalau lendir tersebut tidak dikeluarka sesak napasnya tidak akan segera hilang. Beritahukan kepada anak agar ia tidak selalu berbaring kearah dada yang sakit, boleh duduk atau miring kearah bagian dada yang lain.
Pada bayi baringkan dengan letak kepala ekstensi dengan memberikan ganjal dibawah bahunya. Bukalah pakaian yang ketat seperti celana yang menggunakan karet, isaplah lendirnya dan berikan O2 secara rumat sampai 2L/ menit. Pengisapan lendir harus sering, yaitu pada saat terlihat lendir didalam mulut, pada waktu memberikan minum, mengubah sikap baring atau tindakan lain.
b. Kebutuhan istirahat
Pasien pneumonia adalah pasien payah suhu tubuhnya tinggi, sering hiperpireksia maka pasien perlu cukup istirahat, semua kebutuhan pasien harus ditolong ditempat tidur. Usahakan pemberian obat secara teratur . usahakan keadaan tenang dan nyaman agar pasien dapat istirahat sebaik-baiknya.
c. Kebutuhan nutrisi dan cairan
Pasien pneumonia hampir selalu mengalami masukan makanan yang kurang. Suhu tubuh yang tinggi selama beberapa hari dan masukan cairan yang kurang dapat menyebabkan dehidrasi. Pada bayi yang masih minum ASI, bila tidak terlalu sesak ia boleh menyusu selai memperoleh infus. Beritahu ibu bahwa pada saat menyusui puting susu harus sering-sering dikeluarkan untuk memberikan kesempatan bayi bernapas.
d. Mengontrol suhu tubuh
Pasien pneumonia sewaktu-waktu dapat mengalami hiperpireksia. Untuk itu maka suhu harus dikontrol setiap jam selain diusahakan untuk menurunkan suhu dengan memberikan kompres dingin, satu jam setelah dikompres dicek kembali apakah suhu telah turun.
e. Mencegah komplikasi/gangguan rasa aman dan nyaman
Komplikasi yang terjadi terutama disebabkan oleh lendir yang tidak dapat dikeluarkan sehingga terjadi atelektasis atau bronkiektasis. Untuk menghindarkan terjadinya lendir yang menetap (mucus plug) maka sikap baring pasien, terutama bayi harus diubah posisinya tiap 2 jam dan pengisapan lendir sering dilakukan setiap mengubah sikap lakukan sambil menepuk-nepuk punggung pasien. Bila lendir tetap banyak, dapat dilakukan fisioterapi dengan postural drainage.
Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
- Bunyi Pernapasan : Batuk, suara serak, mengorok, stidor, mengi.
- Sakit tenggorokan : Anak akan menolak untuk minum atau makan per oral. Sifat elastis dari jaringan pada anak kecil dapat menyebabkan kurangnya tekanan pada ujung-ujung saraf.
- Demam : Suhu dapat mencapai 39,5⁰ - 4o,5⁰ bahkan dengan infeksi ringan. Dapat Mencetuskan kejang febris. Bicara dengan kecepatan yang tidak biasa.
- Anoreksia : Menetap sampai derajat yang lebih besar atau lebih sedikit melalui tahap demam. Seringkali merupakan bukti awal dari penyakit.
- Muntah : Anak kecil mudah muntah bersamaan dengan penyakit. Biasanya berlangsung singkat, tetapi dapat menetap selama sakit.
- Nyeri Abdomen : Spasme otot karena muntah dapat menjadi faktor timbulnya nyeri abdomen, terutama pada anak yang tegang atau gugup.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa Keperawatan yang lazim terjadi ( Dikutip dari Buku Rencana asuhan Keperawatan, Marilyn E, Doenges, Edisi ke 3 ).
a. Bersihan jalan nafas, tak efektif, berhubungan dengan : inflamasi trakeabranchial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum, nyeri fleuritik. Penurunan energi, kelemahan.
b. kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan ; perubahan membran alveolar – kapiler ( efek inflamasi ), gangguan kapasitas pembawa oksigen darah.
c. intoleransi aktifitas kemungkinan berhubungan dengan : ktidak seimbangan anatar suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum, kelelahan.
d. intoleransi aktifitas kemungkinan berhubungan dengan : ktidak seimbangan anatar suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum, kelelahan.
3. Intervensi Keperawatan
a. Bersihan jalan nafas, tak efektif, berhubungan dengan : inflamasi trakeabranchial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum, nyeri fleuritik. Penurunan energi, kelemahan.
Tujuan : Menunjukkan prilaku mencapai bersihan jalan nafas, menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih, tak ada dispnoe.
Kriteria hasil : Sekret dapat keluar
Intervensi
Tindakan Mandiri
1) Auskultasi area paru, catat area penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi nafas, misalnya : krekels, mengi.
Rasional : Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan, bunyi nafas bronchial ( normal pada bronchus ) dapat juga terjadi pada area konsolidasi. Krekels dan ronchi dan mengi terdengar pada inspirasi dan / atau ekspirasi pada respon terhadap pengumpulan cairan, secret kental dan spasme jalan nafas / obstruksi.
2) Bantu pasien latihan nafas sering. Tunjukkan / Bantu pasien mempelajari melakukan batuk, missal menekan dada dan batuk efektif sementara posisi duduk tinggi.
Rasional : Nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/jalan nafas lebih kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami, membantu silia untuk mempertahankan jalan nafas paten.
3) Pengisapan sesuai indikasi
Rasional : Merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas secara mekanik pada pasien yang tak mampu melakukan karena batuk tak efektif atau penurunan tingkat kesadaran.
4) Berikan cairan sedikitnya 2500 ml ml/hari ( kecuali kontraindikasi ). Tawarkan air hangat dari pada dingin.
Rasional : Cairan kususnya yang hangat memobilisasi dan mengeluarkan sekret.
Kolaborasi
1) Bantu mengawasi efek pengobatan
Rasional : Memudahkan pengenceran dan pembuangan sekret.
2) Berikan obat sesuai indikasi, mukoliti, ekspentoran, bronchodilator & analgesik Rasional : Alat untuk menurunkan spasme bronchus dengan mobilisasi sekret. Analgesik untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyaman tapi harus digunakan secara hati-hati karena dapat menekan pernafasan.
b. kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan ; perubahan membran alveolar – kapiler ( efek inflamasi ), gangguan kapasitas pembawa oksigen darah.
Tujuan : Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tak ada gejala distress pernafasan.
Kriteria hasil : Klien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas secara optimal dan oksigenisasi jaringan secara adekuat
Intervensi
Tindakan Mandiri
1) Kaji frekwensi, kedalaman dan kemudahan bernafas.
Rasional : manifestasi distress pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum.
2) Obnservasi warna kulit, membran mukosa dan kuku, catat adanya sianosis perifer ( kuku ) atau sianosis sentral.
Rasional : Sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi atau espon tubuh terhadap demam / menggigil.
3) Kaji status mental
Rasional : Gelisah, mudah terangsang, bingung dan somnolen dapat menunjukkan hipoksemia / penurunan oksigenasi serebral.
4) Awasi suhu tubuh sesuai indikasi
Rasional : Demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan metabolik dan kebutuhan oksigen dan mengganggu oksigenasi selular.
Kolaborasi
1) Berikan terapi oksigen dengan benar.
Rasional : Tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg. Oksigen diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pasien.
c. Intoleransi aktifitas kemungkinan berhubungan dengan : ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum, kelelahan.
Tujuan : Melaporkan / menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dispnoe, kelemahan berlebihan dan tanda vital dalam rentang normal.
Kriteria hasil : peningkatan suplai oksigen
Intervensi
Tindakan Mandiri
1) Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas.
Rasional : menetapkan kemampuan kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi.
2) Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi .
Rasional : menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.
3) Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat.
Rasional : Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolic, menghemat energi untuk penyembuhan.
4) Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan / atau tidur
Rasional : Pasien mungkin nyaman dengan kepala lebih tinggi.
d. Nutrisi kurang dari kebutuhan kemungkinan berhubungan dengan ; peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi, anoreksi dan distensi abdomen / gas.
Tujuan : Menunjukkan peningkatan nafsu makan, mempertahankan atau meningkatkan Berat badan.
Kriteria Hasil : Klien dapat mempertahankan/meningkatkan pemasukan nutrisi.
Intervensi
Tindakan Mandiri
1) Indentifikasi factor yang menyebabkan mual / muntah misalnya : sputum banyak, pengobatan aerosol, dispnoe berat, nyeri.
Rasional : pilihan intervensi tergantung pada penyebaran masalah
2) Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin
Rasional : Menghilangkan tanda bahaya, rasa, bau dari lingkungan pasien dan dapat menurunkan mual.
3) Jadwalkan pengobatan pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan.
Rasional : menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini
4) Auskultasi bunyi usus , observasi / palpasi distensi abdomen
Rasional : Bunyi usus mungkin menurun / tak ada bila proses infeksi berat/memanjang.
5) Berikan makan porsi kecil tapi sering termasuk makanan kering
Rasional : Tindakan ini dapat meningktkan masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali.
6) Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar.
Rasional : adanya kondisi kronis seperti PPOM atau keterbatasan keuangan dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap infeksi.
Daftar Pustaka ( Menyusul!! )