Yunisarang

Yunisarang

Sabtu, 27 Agustus 2011

Kisah Klasik Mr. AduL

Kisah Klasik Mr. AduL


tergoda aku ’tuk berpikir
dia yang tecinta
mengapa t’lah lama tak nampak
dirimu disini

jangan inginku tersenyum
tak ada gairah
kuingin selalu bersamamu

kini kuresah
diriku lemah tanpamu.. ohh

gapai semua jemariku
rangkul aku dalam bahagiamu
kuingin bersama berdua selamanya

jika kubuka mata ini
kuingin selalu ada dirimu
dalam kelemahan hati ini
bersamamu aku tegar

Mungkin lirik diatas menggambarkan kondisi ku saat ini. Aku disini sendiri, dimalam yang mungkin kelam bagiku. Aku mengharapkan dia datang. Aku mengharapkan dia hadir. Entah hadir dalam bentuk nyata atau hanya dalam mimpi belaka. Aku ingin DIA. Ingin DIA selamanya. Full Stop !!!
"KIAAAA ,, kamu belum tidur??? besok gak kekampus?" teriak Mama dibalik pintu sambil terus mengedor pintu kamarku.
"iyaaa .. iyaa mah." jawabku dengan suara rada sengaw. Iya aku habis menangis. Tapi aku gak cengeng. Aku gak merasa aku cengeng. lebih tepatnya aku melankolis.
"Kamu kenapa??" tanya mama mulai curiga dengan suaraku yang sedikit serak.
"Gak ada apa-apa mah. Aku tidur yaahhhh." kataku langsung mematikan lampu kamar. tapi mataku masih belum mau terpejam sama sekali. Aku mengambil handphone yang tergeletak diatas meja. Aku meraihnya. Aku membuka galeri. Aku buka folder foto. Siapa yang aku lihat disana??? Foto Dia ... Dia yang aku harap hadir malam ini. Lagi-lagi aku tidak dapat menahan air mataku ini. Dasar memang aku kelewat melankolis atau cengeng si atau malah GOFAR??? ( Goblok Farahh )

Pagi ini aku sangat malas untuk ngampus. Yaiyalah malas, pasti aku jadi bahan ledekan teman-temanku. Dibilang habis irigasi matalah, begadanglah, mungkin lebih blak-blakan lagi "Lo nangis ( lagi ) Ki????" Aku memasang ajah melas didepan cermin. Aku berusaha melakukan message dimataku, berharap mata bengkakku bisa kembali seperti semula. GAGAL !! Mata tetep bengep. Pipi semakin pembem. Muka masih pucat pasih. Begitulah kondisiku saat ini.

Aku langkahkan kakiku menuju kampus. Dengan langkah gontai aku sudah tiba didepan gerbang. Cepat sekali sampainya?? Pikirku saat itu. Waktu sepertinya tidak dapat diajak kompromi. Aku terus tertunduk saat memasuki kelas. Terus melangkah dengan mata melihat ketanah. Duduk ditempat biasa yang aku tempati. Benar saja dugaanku semalam. Baru  pantatku nempel udah disodori pertanyaan yang sangat hebohh.

"Kenapa lo?"
"Nangis lagi?"
"Gara-gara dia??"
"Si mr Kribo??"
“Apa sama ade lw yang bongsor itu?”
"Kalo sama di kribo mendingan lw lupain aja se dia. Cari lagi ,, banyak cowok cowok kribo diJakarta yang pasti gak bakal nolak lw."
"Apa perlu gue cariin??"

TERIMA KASIH TEMAN-TEMAN sudah menjadi kompor hatiku. "LEBAAAAAAAAYYYY." aku langusung bangkit dari tempat dudukku. Aku kabur dari kerumunan wanita aneh dan sok jadi wartawan itu. Menutup telinga dengan rapat, berharap aku tidak akan mendengar para kompor meleduk itu. Aku banting pintu dan langkahku sangat dipercepat.
Entah kemana langkahku pergi. Perpustakaan?? Terlalu sepi, yang ada aku nanti irigasi mata lagi. Taman?? Mungkin bisa membantu menenangkan hatiku. Aku pun menuju taman tang tidak jauh dari kelasku. Tiba disana suasanya gak mendukung, rame banget. Kebanyakan lagi pada mojok. Lagi-lagi pasti aku nanti menangis. Aku pun terdiam sejenak. Otakku berfikir mencari tempat yang memang dapat buat hatiku tenang dari para wartawan gadungan kompor itu.
Tempatnya gak terlalu ramai, juga tidak terlalu sepi. Menurutku sangat nyaman. Pas buat aku “menangis” tentunya. Aku berada di balkon kampus lantai 2. Agak pojok dan tidak terlihat oleh banyak mahasiswa yang lalu lalang. Aku masih mengenggam handphone ku dengan wallpaper si kribo, begitu aku menyebutnya setiap kali aku melihatnya atau memikirkannya.
Mr. Kribo yang mungkin sering aku dan teman-temanku sebut adalah sosok yang mungkin membuatku benar-beanr jadi melankolis. Dia laki-laki yang kata teman-teman ku gak beraturan bentuknya. Gak banget sikapnya. Gak banget wajahnya. Dan yang paling penting GAK BANGET RAMBUTNYA. Shut up your toak!!! Took my heand !!! Dia bagiku segalanya. Dia bagiku sempurna. Dia bagiku perfecto, gak ada yang bisa ngalahin kulit hitam dan rambut kribonya. Singkat cerita aku dan dia memang sudah berteman lama. Sangat lama. Suatu hari disuatu kesempatan dan disuatu tempat, dia mengungkapkan perasaannya padaku. Aku sangat WAW mendengarnya. Kenapa orang yang cuek begini bisa juga yah romantis???
“Ki …” panggilnya sedikit ragu.
Aku hanya ber “ehm..” saja tanpa menatap wajahnya.
“Liat kesini napa Ki. Gue mau ngomong serius nih sama lw.”
Aku pun benar-benat menatap si Kribo itu. Aku lihat setelah aku menatapnya, wajahnya menjadi seperti buah jambu air. Hahahaa. “Tuh katanya gue suruh liat lw, tapi lw nya malah kemana-mana matanya. Emang mau ngomong apaan?” tanyaku meyakinkan Kribo untuk segera berbicara.
“Gue ….”
“Iyaaa? Gue kenapa?”
“Gue… ehm… SUKA SAMA LW. Gue boleh jadi pacar lw Ki?”
Apaaaahhh???? Haaaaaa??? Jantungku benar-benar berhenti kayaknya. Ini orang lagi mabok kali yah?? Apa lagi ngantuk makannya ngomongnya jadi ngaur. Tanganku menyentuh kening si Kribo. Gak panas dan gak dingin juga. Kondisi normal-normal aja. Tapi kenapa tiba-tiba dia ngomong itu.
“Ikhh apaan si. Emang gue gila. Terus gimana Ki?”
Aku mencoba mengeles. “Terus apanya? Gimana maksudnya apa?”
“Akhh lw mah sok bego. Tadi gimana sama pertanyaan gue?”
Aku hanya diam. Diam seribu bahasa. Mungkin aku diam sudah mencapai angka 20 menit. Entahlah aku harus menjawab apa. Aku benar-benar bingung. Sampai saat ini aku masih fine-fine aja dengan status pertemanan yang seperti ini.
Kribo bangkit dengan wajah sedikit kecewa. “Yaudah gue balik!!” Dia merampas tasnya dan nyelonong pergi, saat badannya hamper menjauh, aku mencoba memanggilnya.
“GUE BUKANNYA NOLAK LW, GUE MASIH NYAMAN SAMA HUBUNGAN KITA SEKARANG. Kribooo !!!!” teriakku sekencang-kencang, berharap dia mendengarnya.
Dan yang aku teriyakki hanya mengangkat satu jempol kanannya. Entahlah itu isyarat apa bagiku. Semoga dia mengerti dengan kondisiku saat ini. Aku memang benar-benar gak bisa buat ke langkah yang lebih serius. Aku masih nyaman dengan pertemanan dengannya. Aku mengela nafas panjang, mungkin hanya kata “maaf” yang bisa aku katakana padanya.
“ADUUUUULLLL MAAAAFFF !!!”
“Heyy !!! Helloo !!”
Sepertinya ada suara yang memangilku. Karena telingaku sangat jelas mendengar panggilan itu. Aku mencoba membuka mata, aku membuka mata agak sedikit sayu. Aku mengusap mataku untuk memperjelas pandanganku yang sedikit buram.
“HHaaaa??” Tubuhku tersungkur tiba-tiba melihat wajah laki-laki yang hanya sejengkal dari mataku. “Siapa lw?!” tanyaku sedikit nafsu.
“Tadi lw panggil nama gue. Kok lw bisa tau si nama gue? Padahal gue kan baru aja sehari kuliah disini?”
Whatt?? Pede banget nih anak namanya gue panggil. Berasa namanya limited edition kali yah. “Emang nama lw siapa?”
“Muhammad Aduliansyah. Biasanya dipanggil Adul.”
Aku hanya bisa ber “oh” saja. Kenapa bisa jadi begini si? Kenapa nih anak pake nama Adul juga. Gak ada panggilan lain apa yah. Muhammad kek. Atau Ali, mungkin juga bisa liansyah. Kenapa harus panggilan Adul yang dimau. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Aku bangkit dan mengebas-ngebaskan bokongku untuk membersihkan kembali kondisi celanaku. Warna putih terlihat jelas kalau kotornya. “Sekarang gak usah pake nama itu lagi !!!” ancamku langsung memalingkan wajahku dengan jutek.

JJJ
Ternyata memang benar penyesalan selalu datang belakangan. Itulah yang aku rasakan sekarang. Kenapa dulu aku tidak menjawab “iya” saja?? Kenapa kata “tidak” yang keluar dari mulutku. Aku menoyor kepalaku sendiri. Tiba-tiba wajah anak baru itu terlintas difikiranku. Aiiiissshhh kenapa gue jadi mikirin mahasiswa baru itu?? Nama boleh sama, tapi fisik gak sama sekali. Rambutnya gak ada kribo-kribonya sama sekali. Cepak iya. Ukhhhhh kenapa harus sama sih nama panggilannya. Hidup gue udah gak tentram malah ditambah lagi sama kedatangan mahasiswa itu.
Kribo Nangkring : Lagi apa???
Satu pesan terdaftar di inbox ku. Mataku langsung mengeluarkan kilat ( lebay ) . Aku mengusap-ngusap mataku, berusaha mencoba apakah ini kenyataan atau hanya sebuah mimpi belaka.
Aku : Heyyy apa kabar Dul? Gue lagi gak ngapa-ngapain. Kenapa?
Kribo Nangkring : besok ketemu yuk? Mau gak?
Aku membaca ulang sms dari si Kribo. Terus aku baca berulang kali. Siapa tau itu bukan sms darinya. Sampai ke sepeuluh kalinya aku baca, ternyata memang dia yang mengirimkan pesan itu. Tanpa fikir panjang aku langsung membalas pesannya.
Aku : “Tumben , ada apa?”
Kribo Nangkring : “Besok di Tamen yah Ki jam 3 sore.”
Aku hanya bisa terpaku didepan cermin. Aku mencubit pipi ku sekeras mungkin. AWWW !!! Sakit, berarti ini nyata, ini bukan mimpi. Horreeeee !!!!

Singkat cerita tepat pukul tiga sore diTamen aku menunggu si Krino menampakkan rambutnya. Sore itu aku berdandan agak beda dari biasanya. Aku mengenakan Dress sedengkul dengan sandal temple yang berpita warna merah. Dandananku, aku sengaja bikin sesederhana mungkin. Aku terus melirik jam tanganku, sudah lewat 30 menit tapir abut kribo belum menampakkan diri. Aku ragu untuk menelponnya atau sms, aku terlalu ragu dan tinggi ego untuk melakukan itu semua. Aku memutuskan untuk tetap menunggunya sampai ia datang.
Dari kejauhan dengan pandangan yang buram aku melihat sosok laki-laki yang mungkin sangat aku kenal. Persis banget sama Dia, rambutnya kribo,  tapi bedanya ini kribonya gak begitu mekar. Kulitnya sedikit hitam, badannya juga gak terlalu tinggi ataupun pendek. Aku memperjelas pandanganku. Siapa wanita yang disampingnya??? Aku mencoba berfikir positif, sepositif mungkin. Mungkin itu adiknya. Adiknya?? Dia gak punya adik cewek, kakak cewek baru punya. Mungkin sepupunya kali yah?? Akhh masa sii, dia gak pernah cerita kalo punya sepupu cewek. Apa jangan-jangan wanita itu pacarnya?? Ohhhh gak mungkinn dah, dari selentingan aku gak pernah denger kalo dia sudah punya pacar.
Pandangku semakin jelas terlihat. Dia juga sudah mulai mendekat. Entah mendekati aku atau orang yang ada dibelakangku. Tapi sepertinya aku. Dia berjalan kearahku.
“Hai Ki.” sapanya sambil melambaikan tangan.
Benar itu dia, si kribo. Dia sedikit berubah. Yang paling terlihat adalah dari rambutnya yang gak begitu kribo seperti awal aku kenal dengannya. “Haaaiiii.” sapaku agak gugup.
“Maaf yah Ki ganggu. Tadi aku jemput pacarku dulu.”
Gleeekkk !!!!
Pacarku???
Yang mana pacarnya??
Yang ada disampingnya??
Dia pacar barunya si Kribo?

“Kenalin Ki ini Ria. Ria ini Kia. Dia sahabatku paling baik Say.” Adul memperkenalkn Kia dan Ria.
“Ria.” Ria memberikan tangannya.
“Ohhh… Kia.” Kia mencoba membalas jabat tanagn Ria. Senyum yang ku berikan adalah senyum palsu, aku gak mau dibilang cengeng didepan Kribo. Aku berusaha tegar.
“Sayang ayuuk kita kebutik. Mama udah disana katanya.”
“Ki , gue duluan yahh. Oiyaa minggu depan gue tunangan, lo datang yahh. Harus datang. Gue tinggal yahh. Thanks yaah.” teriak Adul yang sudah semakin jauh berlari.
Ini yang dimaksud dia. Ini kenapa dia mau bertemu aku?? AKu bingung harus seperti apa, aku masih berdiri kaku dipinggir taman. Berusaha tegar dan mencoba menyimpan rasa sakitku didepan orang banyak. Aku melangkah pergi dari keramaian. Aku butuh tempat dimana tidak ada seorangpun yang melihatku menangis. Cobaan yang berat yang aku dapat hari ini. Aku sebenarnya gak sanggup untuk menerima kenyataan pahit seperti ini.
Uwaaaaaaaaaa!!!!!! Aku benar-benar harus meluapkan emosiku. Tempat parkir dilantai atas memang paling cocok untukku saat itu. Aku menelungkupkan kepalaku diantar kakiku yang aku lipat. Aku menagis sejadi-jadinya disana. Tertutup tanpa ada orang yang tau.
“Cewek itu memang melankolis banget yah.” terdengar sebuah suara dari arah tangga.
“Lo?? Ngapain lw kesini??” Umpatku pada Adul gadungan yang nama panjangnya Muhammad Aduliansayah.
“Lhaa ini kan tempat umum. Lsagian motor gue juga ada disini.”
Aku menyebarkan semua pandanganku. “Gak ada motor disini.”
“Suka-suka gue dong. Lagian gue denger ada yang nangis tadi, jadi yaudahh gue naik keatas. Lw tau gak siapa yang nangis tadi?”
Aku langsung menghapus air mataku yang sudah melunturkan bedak yang ada dipipiku. “Disini gak ada yang nangis.” Aku bangkit dari dudukku. Aku melewati Adul yang gak kribo tetapi saat kami berpapasan Adul menarik tanganku dengan tiba-tiba. Dia memelukku.
“Gue tau lw yang nangis Ki. Gue juga tau siapa yang bikin lw nangis.”
Aku mencoba untuk melepaskan diri dari pelukannya.
“Gue mau jadi Adul yang lw sayang Ki. Gue bela-belain pake ini rambut kribo-kriboan buat lw, gue mau jadi penggantinya Adul kribo dihati lw Ki. Gue gak mau lw nangis terusss. Gue sebenernya udah ngikutin lw dari lw keluar rumah, dan sampe sekarang gue tau kondisi lw. Gue … Gue… Gue sayang banget Ki sama lw. Sayang sejak kita masih SMP dulu.”
Aku mencoba memutar otak, mencoba mengingat masa lalu. Masa dimana aku masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Aku terus mengingat sosok Adul yang ada didepanku ini. Iya aku mulai mengingatny. Adul yang satu ini memang temanku dimasa SMP , di duduk tepat dibelakangku. Aku memang dulu sempat dekat dengannya, ehm… karena orang tuanya pindah tugas jadi sekolahnya pun harus ikut pindah.
Aku benar-benar gak bisa melepaskan pelukannya. Begitu erat sampai nafasku hampir sesak. Aku terdiam dan kemudian menangis sejadi-jadinya. “Bego lw!!! Bego bangett jadi cowok!!! Gue gak mau lw jadi Adul kribo, gue mau lw jadi Adul yang apa adanya, ya memang Adul dari diri lw sendiri. Hiksss hiksss.”
“Jadi??” tanya Adul sambil melepaskan pelukannya.
“Jadi apaan si?”
“Itu tadi kata-kata lw yang gue gak boleh jadi Adul kribo, gue harus jadi adul diri gue sendiri. Jadi lw mau jdi pacar gue Ki?? Lw udah inget Ki??”
“Udahh akhh gue mau pulang. Anterin gue pulang.” kata Kia meloyor pergi. “Oiyaa satu lagi, gue gak mau lw pake wig wig kribo begituan. Bikin ilfil tau.” sambung Ki yang sudah menuruni anak tangga.


Np : Akhirnya cerpen pesenan temen gue jadi juga. Gak sama persis, tapi intinya seperti itu. Gue harap temen gue ini bisa dapet yang lebih baik lagi. AminMySpace

1 komentar:

  1. senyum senyum sendiri gue bacanya dorothy sayaaaanggg. ngebayangin sii adul (yang gg kribo) pake wig biar sama kaya sii adul kribo. hhahhaa


    nice story :))


    inanda....

    BalasHapus