Kami
sangat berguna untuk semua orang. Khususnya untuk kalangan bawah. Kalangan
bawah? Ya itu menurut kami. Kami sangat murah. Kami sangat empuk. Murah meriah
dan jika kami dipakai tidak akan membuat kaki kapalan dan sangat berguna untuk penyakit
Diabetes tipe basah. Kami takkan terpisahkan. Dimana ada SAN disitu ada DAL.
Kenapa?? Karena kami SANDAL...
Sejak
awal kami memang sudah bersama. Sejak kami dibeli oleh salah satu kakek tua
yang dengan setia memakai kami hingga usia senja saat ini 80 tahun. Tetapi
takdir memisahkan kami ditengah malam. Iya takdir. Tidak ada yang bisa menunda
takdir. Takdir datang dari kehendak-Nya. Kami terpisah tanpa jejak. Kami saling
mencari satu sama lain. “Dimana...dimana...kamuu??”
Tepat
malam takbiran kami dibawa oleh Pak Tua ke Masjid. Langkah Pak Tua sangat
rentan dan hati-hati. Iya karena kami sudah lusuh. Karena karet yang ada dikami
sudah menipis. Tapi Pak Tua setia memakai kami. “Terima kasih Pak Tua
Kami
berbaris rapih diantara deretan sandal-sandal cantik. Kami berbaris rapih
diantara deretan sandal-sandal mahal. Kami sedikit minder. Tidak lama kumpulan
anak laki-laki mendekati kami. Dia mengambil SAN dengan paksa dan tidak
berperasaan. SAN dilempar kedalam selokan. Dan aku ketengah jalan. Mereka menjadikan
kami mainan. Mereka melempar kami ketengah jalan. Kalian jahat. Aku benci
kalian!!!
Aku
segera mencari SAN didalam selokan. Berharap dia tidak terbawa arus air
selokan. Selokan itu bau. Bau busuk dan berwarna hitam. Aku yang disini saja
mau pingsan. Bagaimana dengan dia yang didalam?? Bagaimana??. Harapanku pupus.
Aku sudah mencarinya kesemua sudut. SAN ku menghilang. Pasanganku menghilang
terbawa arus.
“DAAALLLL!!!”
terdengar teriakan mirip SAN. Bukan mirip tapi itu benar-benar suara SAN. Aku
celingukan mencari sumber suara.. Yupp!! Itu dia. SAN terbawa arus air selokan.
Aku langsung mengejarnya. Mengejar sampai nafas penghabisan. Aku mengejarnya.
Aku akhirnya melompat dari atas ke selokan. Badanku sengaja mengikuti arus agar
jejak SAN tidak menghilang. Aku mendengar SAN terus memanggil manggil namaku.
Aku tau pasti dia sangat ketakutan. “SAN tunggu aku. Aku pasti akan
menolongmu.”
Diujung
selokan kamipun TERPISAH. SAN kekanan dan aku kekiri. Saat itu aku tidak bisa
menahan diriku untuk berhenti. Aku terbawa arus tanpa arah. Tanpa ujung.
Begitupula dengan SAN. Semakin jauh jarak kami semakin tidak terdengar suara
SAN. “SAAAN kamu dimana??”
Sekian
menit mataku terpejam. Ternyata aku sudah berada didaratan. Daratannya asing.
Seumur-umur aku belum pernah menjejakkan kakiku disini. Mataku menyebar
kesetiap sudut kampong. Tidak berapa lama anak laki-laki kira-kira berusia 5
tahun mendekatiku. Aku khawatir. Aku takut. Aku takut dilempar seperti saat
itu. Dan aku takut dia akan menjadikanku mainan seperti dulu. Seperti dulu saat
Aku dan SAN masih bersama.
“Umiii...
Enang nemuin sandal Mii.” teriak anak laki-laki itu antusias. Akupun menghela
nafas. Ternyata dia anak baik. Aku dibawa pulang olehnya. Oleh “maaf” pemulung.
Dirumahnya aku diberi lem disetiap sudut badanku. Memang kondisiku saat ini
amat sangat lusuh. Enang nama anak laki-laki yang mengambilku, menaruhku dirak
dekat belakang pintu. Ini waktunya aku istirahat. Terima kasih Enang.
Pagi
ini aku melihat Uminya Enang sangat senang. Wajahnya ceria tidak seperti
biasanya. Aku melihat moment itu masih didalam rak belakang pintu.
“Umi
kenapa senyam senyum sendiri?” tanya
Enang penasaran. Aku terus memperhatikan mereka berdua dibalik pintu. Tangan
Umi yang sedari tadi dibelakang kini dikedepankan. Ditangan kanannya ada
sebungkus kado yang hanya dibungkus oleh koran bekas.
“Umi
ini apa?”
“Buka
saja Nak, Umi cuma bisa ngasih ini ajah sama kamu.” ucap Umi sambil mengelus
kepala Enang. Enang sangat antusias saat menerima kadonya. Enang membuka
kadonya dengan cepat. HOREE!!! Aku kanget ketika mendengar teriakan Enang. Kado
apa yang dia dapat dari Umi?? Mainan? Atau benda yang memang bagus?? Aku sangat
penasaran.
Enang
menghampiriku. Dia mengambilku dari rak. Dia memakaiku dikaki mungilnya? Untuk
apa? Aku hanya sebelah. Pasanganku menghilang. Aku tidak mungkin bisa dipakai
untuk sehari-hari lagi. Aku tidak berguna tanpa San.
“DAL...”
suara itu?? Aku mengenalnya. Sangat amat mengenalnya. Aku mencari sumber suara
suara. Aku tercengang. SAN ada didepanku “saat ini”. Benar-benar didepanku
dengan jarak 5cm. Aku mencubit pipiku. Ternyata kado yang diberikan Umi kepada
Enang adalah SAN. Pasanganku.
“Umi
ini sangat cocok. Terima kasih Umi. Tapi bagaimana Umi bisa menemukannya sama
persis?” tanya Enang penasaran.
“Umi
tidak sengaja menemukannya dikampung sebelah nak saat Umi sedang mencari botol
bekas. Allahamdulillah ternyata cocok. Ini rezeky kamu Nak. Maaf Umi hanya bisa
ngasih ini sama kamu Nang.”
“Tidak
apa-apa Umi. Enang sudah senang sekali. Nanti Enang pakai ke Masjid yah Mi.”
kata Enang sambil memeluk Umi
Kami
yang melihat itu seraya tidak bisa menahan haru. Kami bersyukur dipertemukan
oleh orang yang baik hati. Oleh keluarga yang baik hati. Kini KAMI sudah
bersama lagi. Kini kami sepasang sandal yang siap dipakai kapan saja dimana
saja. Allhamdulillah. Enang menaruh kami kembali dirak yang masih berada
dibelakang pintu. Aku dan SAN saling menatap. Kami benar-benar bersyukur.
Sekarang mereka keluarga baru KAMI.
THE AND .. Thanks for reading my Short Story






