Yunisarang

Yunisarang

Rabu, 01 Januari 2014

BEDA ( Ketika KAMI dipisahkan oleh sebuah KEYAKINAN )



BEDA ....
( Ketika KAMI dipisahkan oleh sebuah KEYAKINAN )

Tatapanku lurus memandang kedepan. Memadang luasnya pantai dewata bali. Ombak yang bergelombang indah. Burung-burung yang bertebaran indah diatas langit sore. Ya, aku sengaja berdiri disini untuk melihat matahari terbenam. Aku ingin menjadi saksi betapa indah keajaiban-NYA. Sama seperti aku bersama dia, hari-hariku selalu indah. Iya Dia, dia yang memegang tanganku saat ini. Dia yang tepat berada disampingku. Aku meliriknya untuk kesekian kalinya. Begitupun dia, melirikku dengan tatapan penuh rasa. Dan akhirnya kamipun terhenti dan saling memandang. Cairan bening membasahi pipi kami berdua. Dia memelukku. Memelukku sangat erat.
“Sabar yah.” Dia menenangkanku. Tapi aku masih dikondisi yang dulu. Kondisi dimana aku takut kehilangan kekasihku yang sedang aku peluk ini. Seketika otakku bekerja kemasa lalu. Kemasa dimana kami dipertemukan dengan cinta.

JJJ
Aku sibuk dikamar dengan beberapa barang bawaanku. Materi kuliah, laptop serta beberapa alat tulis yang harus super duper lengkap. Hari ini adalah jadwalku mencari kasus untuk sidangku nanti. Aku harus mencari kasusnya di Puskesmas. Ya aku mahasiswa kesehatan, yang lebih tepatnya aku mahasiswa kebidanan. Hari ini aku harus tiba di Puskesmas pukul 7 pagi. Tidak sarapan serta pamitan dengan Mama Papa sambil teriak-teriakan.
“Mahhh!! Pah!! Ela berangkat yah. Doaiiiin!!.” tanpa menghampiri mereka aku langsung nyelonong pergi. Mobil pribadikuu sudah menunggu dihalteee, cihuyy 213 akuu dating. Diperjalanan aku terus melirik jam tanganku. “Please jangan bergerak dulu yah jarum panjangnya. Biar gue gak telat.” pintaku gelisah.
“Selamat Pagi Kakaaaaaa Irmaa.” sapaku saat tiba di Puskesmas. Kebetulan kepala ruangannya belum datang dan aku wajib mengelus dada “allhamdulillah”. Ketika dipintu masuk puskesmas gak sengaja aku melihat dua lelaki dengan tangan dilaptop dan tas yang lumayan berat berada dipunggung mereka. Wajahnya? Ehmm songong.
            “Kak siapa tuh?” tanyaku memonyong-monyongkan bibirku.
            “Anak Keperawatan, kenapa?”
            “Mukanya belagu yah? Sok kaya yah ka?” celetukku dan diiyakan oleh Ka Irma.
            “Kerjain aja La.” kata Ka Irma dengan efek datar. Dan aku senyum-senyum dengan rencana besar.
            Namanya Constantein Johanes Geruh. Woww banget namanyaa. Aku tau nama itu dari catatan absen yang ada dimeja kepala ruanganku. Aku sengaja tidak menghampirinya. Dan aku sengaja belagak sok jadi senior didepan dia. Rasain kau !!!
       “Kamu sini!!” aku menunjuknya dengan muka jutek. Benar saja dugaanku, dia memanggilku kaka. Hahahaa .
            “Iya Ka kenapa?” tanyanya sambil menunduk.
          Sejak panggilaan kasar itu, dari pagi hingga sore si punya nama panjang aku kerjain habis-habisan. Dari mulai tensi pasien, kasih obat, bahkan memandikan. Semua kerjaan yang harusnya aku yang kerjakan hari ini dikerjakan semua olehnya. Yess!! Berhasil.
            “Nama panggilan lw siapa?” tanyaku saat itu sambil senyum-senyum lucu.
            “Otez ka.”
            “Jangan panggil gue Ka, gue juga mahasiswa juga kok. Sorry buat hari ini. Haha.” Tawaku pun memecah ruangan. Aku semakin tertawa ngakak setelah melihat mukanya Otez yang mirip cecep. Muka kagetnya lucuu bangett. Huahahahahaaa. “Dasar dodol.”

JJJ
            Pertemuan kemarin adalah awal aku dekat dengan Otez. Kurang lebih kami dekat selama 6 bulan. Selama 6 bulan kami berteman, akhirnya pada titik ini kami pun menjauh. Aku menjauhinya karena sebuah alasan yang setelah aku pikir-pikir seperti anak SD. Dia tidak menepati janjinya untuk mengajakku ke DUFAN. Saat itu aku menyesal menjauh darinya. Dan kamipun benar-benar menjauh.  Aku dengan lelaki lain, dan Dia dengan wanita lain. Kami berpisah tanpa jejak.
       “Irwan, aku mau tanya sama kamu.” tanyaku kepada lelaki yang menjadi pacarku saat ini. Saat dimana aku dan Otez saling menjauh. “Kenapa Otez juga ikut jauhin aku?” pertanyaan itupun keluar dari mulutku. Aku melihat wajahnya berubah masam.

          “Kalian gak bisa pacaran. Karena kalian beda agama.”
Kalimat itu terus memutari otakku. Semalaman suntuk  aku memikirkan kalimat kecil itu. Mulut Irwan lancang!! Aku terus mengumpatnya didalam hatiku. Dan kini aku tau kenapa Otez menjauhi akuu. Ini karena agama. Ya!!! Kalo membicaran soal yang satu ini memang cukup sensitive. Dan aku sangat mengerti itu. Yang aku inginni sekarang adalah bertemu dengan Otez lagi. Bagaimana dengan Irwan?? Kami sudah selesai sejak tadi malam. Bukan karena hal semalam saja. Banyak hal-hal negatif yang tidak aku suka.

            JJJ

        Singkat cerita aku dipertemukan kembali dengan Otez. Lelaki yang dulu menjauhiku karena agama kami. Lelaki yang diam-diam aku suka. Lelaki yang mempunyai hati tulus. Iya dia Constantein Johanes Geruh. Kami bertemu kembali dan kami mengikat hubungan kami dengan status “Berpacaran”.  Kini aku tau sejak kapan dia mulai menyukai aku. Dan pada saat dia menjauhi aku, ternyata dia masih menyempatkan diri untuk mencari kabar keberadaanku. Kami menjalani hari-hari tanpa memikirkan status agama kami. Kami menikmati hubungan kami. Yang aku tau adalah. Aku sayang dia dan dia sayang aku.
      Keseharian kami cukup menarik. Kami saling bertoleransi dengan agama kami masing-masing. Dia menghormati agamaku, dan begitu sebaliknya aku menghormati agamanya.
     Kisah cinta kami banyak melewati pasang surut. Putus Nyambung. Tetapi puncakn ya adalah hari ini. Dimana status pacaran kami menginjak usia 2 tahun.
       “Kamu mau kan sayang?” tanya Otez kepadaku.
     “Aku mau menikah dengan kamu tapi aku gak mau pindah dari agamaku.” jawabku dengan penuh keyakinan. Otez mengajakku menikah. Dan dia juga menyuruhku untuk pindah ke agamanya “Nasrani”. Itu tidak mungkin dan tidak akan pernah. Aku masih kokoh dengan keyakinanku. Mungkin begitu sebaliknya, Otez juga akan menolak pindah keagamaku bila aku memintanya. Ini mustahil. Diantara kami tidak akan pernah ada yang mengorbankan agamanya.
      PUTUS!!! Itu keputusan yang tepat untuk saat ini. Kami mengakhiri hubungan ini diusia 2 tahun. Dia dengan agamanya. Dan aku dengan agamaku.
     Sekarang kami berjalan tidak berdampingan. Tetapi berjalan membelakangi. Dia dengan jalannya dan aku dengan jalanku. Aku masih belum bisa memejamkan mata sampai jarum jam menunjukkan angka 1 malam. Perasaanku sakit. Aku belum bisa menerima keputusan ini. Aku masih menyanyangi Dia. Hati ini sebenarnya mengatakan tidak mau berpisah. Hati ini ingin selalu bersamanya. Tapi aku mengingat kembali tentang agamaku. Dalam agamaku melarangku menikah dengan agama yang berbeda.
           
     “Sabar yah... Kita akan tetep jadi sahabat baik kok. Sahabat yang selalu ada kapanpun buat kamu.” Lagi-lagi dia menenangkanku dan lagi-lagi aku menangisi kisah cintaku ini. Aku memegangi dadaku yang mulai terasa sesak.
   “Maaf....” Hanya kata maaf yang bisa aku katakan untuknya saat ini. Maaf untuk semuanya. Maaf untuk keputusanku. Maaf untuk pendirianku. Terima kasih untuk cintamu. Terima kasih untuk kasih sayangmu selama ini. Terima kasih Constantein Johanes Geruh

       Matahari terbenam sangat indah didepan mataku.
      Begitu juga kamu yang benar-benar pergi dan takkan kembali bersama cintaku. Pada akhirnya kisah kamipun dipisahkan oleh sebuah keyakinan.
            

 the and ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar