Yunisarang

Yunisarang

Minggu, 10 Agustus 2014

SAN dan DAL



Kami sangat berguna untuk semua orang. Khususnya untuk kalangan bawah. Kalangan bawah? Ya itu menurut kami. Kami sangat murah. Kami sangat empuk. Murah meriah dan jika kami dipakai tidak akan membuat kaki kapalan dan sangat berguna untuk penyakit Diabetes tipe basah. Kami takkan terpisahkan. Dimana ada SAN disitu ada DAL. Kenapa?? Karena kami SANDAL...

Sejak awal kami memang sudah bersama. Sejak kami dibeli oleh salah satu kakek tua yang dengan setia memakai kami hingga usia senja saat ini 80 tahun. Tetapi takdir memisahkan kami ditengah malam. Iya takdir. Tidak ada yang bisa menunda takdir. Takdir datang dari kehendak-Nya. Kami terpisah tanpa jejak. Kami saling mencari satu sama lain. “Dimana...dimana...kamuu??”

Tepat malam takbiran kami dibawa oleh Pak Tua ke Masjid. Langkah Pak Tua sangat rentan dan hati-hati. Iya karena kami sudah lusuh. Karena karet yang ada dikami sudah menipis. Tapi Pak Tua setia memakai kami. “Terima kasih Pak Tua

Kami berbaris rapih diantara deretan sandal-sandal cantik. Kami berbaris rapih diantara deretan sandal-sandal mahal. Kami sedikit minder. Tidak lama kumpulan anak laki-laki mendekati kami. Dia mengambil SAN dengan paksa dan tidak berperasaan. SAN dilempar kedalam selokan. Dan aku ketengah jalan. Mereka menjadikan kami mainan. Mereka melempar kami ketengah jalan. Kalian jahat. Aku benci kalian!!!

Aku segera mencari SAN didalam selokan. Berharap dia tidak terbawa arus air selokan. Selokan itu bau. Bau busuk dan berwarna hitam. Aku yang disini saja mau pingsan. Bagaimana dengan dia yang didalam?? Bagaimana??. Harapanku pupus. Aku sudah mencarinya kesemua sudut. SAN ku menghilang. Pasanganku menghilang terbawa arus.

“DAAALLLL!!!” terdengar teriakan mirip SAN. Bukan mirip tapi itu benar-benar suara SAN. Aku celingukan mencari sumber suara.. Yupp!! Itu dia. SAN terbawa arus air selokan. Aku langsung mengejarnya. Mengejar sampai nafas penghabisan. Aku mengejarnya. Aku akhirnya melompat dari atas ke selokan. Badanku sengaja mengikuti arus agar jejak SAN tidak menghilang. Aku mendengar SAN terus memanggil manggil namaku. Aku tau pasti dia sangat ketakutan. “SAN tunggu aku. Aku pasti akan menolongmu.”

Diujung selokan kamipun TERPISAH. SAN kekanan dan aku kekiri. Saat itu aku tidak bisa menahan diriku untuk berhenti. Aku terbawa arus tanpa arah. Tanpa ujung. Begitupula dengan SAN. Semakin jauh jarak kami semakin tidak terdengar suara SAN. “SAAAN kamu dimana??”

Sekian menit mataku terpejam. Ternyata aku sudah berada didaratan. Daratannya asing. Seumur-umur aku belum pernah menjejakkan kakiku disini. Mataku menyebar kesetiap sudut kampong. Tidak berapa lama anak laki-laki kira-kira berusia 5 tahun mendekatiku. Aku khawatir. Aku takut. Aku takut dilempar seperti saat itu. Dan aku takut dia akan menjadikanku mainan seperti dulu. Seperti dulu saat Aku dan SAN masih bersama.

“Umiii... Enang nemuin sandal Mii.” teriak anak laki-laki itu antusias. Akupun menghela nafas. Ternyata dia anak baik. Aku dibawa pulang olehnya. Oleh “maaf” pemulung. Dirumahnya aku diberi lem disetiap sudut badanku. Memang kondisiku saat ini amat sangat lusuh. Enang nama anak laki-laki yang mengambilku, menaruhku dirak dekat belakang pintu. Ini waktunya aku istirahat. Terima kasih Enang.

Pagi ini aku melihat Uminya Enang sangat senang. Wajahnya ceria tidak seperti biasanya. Aku melihat moment itu masih didalam rak belakang pintu.

“Umi kenapa senyam senyum  sendiri?” tanya Enang penasaran. Aku terus memperhatikan mereka berdua dibalik pintu. Tangan Umi yang sedari tadi dibelakang kini dikedepankan. Ditangan kanannya ada sebungkus kado yang hanya dibungkus oleh koran bekas.

“Umi ini apa?”
“Buka saja Nak, Umi cuma bisa ngasih ini ajah sama kamu.” ucap Umi sambil mengelus kepala Enang. Enang sangat antusias saat menerima kadonya. Enang membuka kadonya dengan cepat. HOREE!!! Aku kanget ketika mendengar teriakan Enang. Kado apa yang dia dapat dari Umi?? Mainan? Atau benda yang memang bagus?? Aku sangat penasaran.
Enang menghampiriku. Dia mengambilku dari rak. Dia memakaiku dikaki mungilnya? Untuk apa? Aku hanya sebelah. Pasanganku menghilang. Aku tidak mungkin bisa dipakai untuk sehari-hari lagi. Aku tidak berguna tanpa San.

“DAL...” suara itu?? Aku mengenalnya. Sangat amat mengenalnya. Aku mencari sumber suara suara. Aku tercengang. SAN ada didepanku “saat ini”. Benar-benar didepanku dengan jarak 5cm. Aku mencubit pipiku. Ternyata kado yang diberikan Umi kepada Enang adalah SAN. Pasanganku.

“Umi ini sangat cocok. Terima kasih Umi. Tapi bagaimana Umi bisa menemukannya sama persis?” tanya Enang penasaran.
“Umi tidak sengaja menemukannya dikampung sebelah nak saat Umi sedang mencari botol bekas. Allahamdulillah ternyata cocok. Ini rezeky kamu Nak. Maaf Umi hanya bisa ngasih ini sama kamu Nang.”
“Tidak apa-apa Umi. Enang sudah senang sekali. Nanti Enang pakai ke Masjid yah Mi.” kata Enang sambil memeluk Umi

Kami yang melihat itu seraya tidak bisa menahan haru. Kami bersyukur dipertemukan oleh orang yang baik hati. Oleh keluarga yang baik hati. Kini KAMI sudah bersama lagi. Kini kami sepasang sandal yang siap dipakai kapan saja dimana saja. Allhamdulillah. Enang menaruh kami kembali dirak yang masih berada dibelakang pintu. Aku dan SAN saling menatap. Kami benar-benar bersyukur. Sekarang mereka keluarga baru KAMI.

 “SAN dan DAL akan selalu bersama selamanya.” Ucap janji KAMI bersamaan.

THE AND .. Thanks for reading my Short Story