Yunisarang

Yunisarang

Rabu, 02 Maret 2011

Cinta Sang Penulis ( part 2 )

Cinta Sang Penulis (2)

           Sejak pagi itu adalah awal aku mengenalnya dengan baik. Dia sangat hangat. Dia sangat membuatku nyaman. Memang aku belum pernah melihat wajahnya, mungkin ini bisa dibilang cinta maya bukan cinta buta lagi. Tapi sungguh aku merasakan rasa yang berbeda. Ingin rasanya aku melhat sosoknya lebih nyata. Sempat aku memberikan nomor Hp ku padanya. Berharap aku bisa lebih mengenalnya lebih jauh dan dekat. Namun apa jawabannya di message itu.
            ”Aku manahan untuk mencatat nomer handphonemu . Aku sebenarnya ingin sekali, tapi aku benar-benar tidak bisa.”
            Aku semakin bingung dengan wallnya itu. Sejenak aku berfikir positif. Mungkin ada sesuatu hal yang tidak aku ketahui dari dirinya.
Aku sangat heran dengannya. Dia sungguh misterius. Banyak kata-katanya yang tidak aku mengerti. Kenapa aku bisa ngomong seperti itu? Dari semua notes yang ia buat, sangat menyentuh hatiku. Setiap kata penuh arti dan makna. Dia ”Sang Penulis Sejati” begitu aku menyebutnya. Lambat laun hubunganku semakin dalam. Mungkin sudah dalam pendekatan yang bisa dibilang cinta. Sebenarnya akupun tidak begitu mengerti apa itu CINTA sebenarnya. Dengan usiaku yang baru saja menginjak 17 tahun apakah ini sudah bisa dibilang cinta? Tapi kalau memang cinta kenapa cinta yang aku dapatkan dari seseorang didunia maya, yang sangat mustahil terjadi sebuah ikatan.        
            Kalau boleh jujur, dia Sang Penulis ku adalah cinta pertamaku. Dia Elfgar Aunitala laki-laki pertama yang menemani hatiku diusiaku yang baru saja menginjak 17tahun ini. Dia yang membuatku berbunga-bunga disetiap notesnya. Salah satu notenya yang paling aku suka adalah ” Sekuntum Mawar Dikamar Hatiku”

Kelopakmu yang merah merona
menginspirasiku akan sebuah makna yang tersimpan dalam warna.
Sedikit duri halus dalam tangkaimu
mentahbiskan realita keindahan.
Seberapa besar arti keberadaanmu ditaman hatiku,
tidak akan pernah aku verbalkan ,
bahkan sebagai puisi sekalipun. Karena tanpa itu semua,
engkau akan tetap bisa merasakan.

            Aku membuka facebook dan kemudian menuju tempat rahasiaku di inbox. Semua obrolanku dengannya hijrah ke inbox, karena si para ms.Jahil, Nyunyun dan Inatul sungguh lebbeh alias lebayy. Semua percakapanku dengannya selalu di comment oleh mereka berdua, si makhluk-makhluk jahil. Banyak juga comment-comment yang bikin aku kaget dan sedikit kesal.
            ”Cieeee Rose nih sekarang panggilannya.”
            ”Siapa da si Elfgar itu?”
            ”Elfgar pacar lw yah? Kayaknya sering banget nongol di wall.”
            ”Da .. prikitiwwww. Hahahaha.”
            Hoaaaaaaaa... bisa gila kalo dicengin terus kaya begitu. Semua wall mereka tidak aku respons, kalo direspons pasti semakin menjadi. Aku biarkan saja.

            Kebetulan hari ini El ( nama panggilannya dariku ) lagi berada di Pekanbaru. Aku ingin tau akh kabarnya. Aku mengambil si Lappy dan langsung membuka message di facebook. ”Lagi apa say? Gimana di Pekanbaru?” kataku di messagenya. Panggilan ”say” yang baru-baru ini saja aku dan El pakai. Rada maksa, tapi happy. Sebenarnya panggilan itu gak sengaja aku lontarkan. Fikirku waktu itu kata ”say” biasa aku berikan pada teman-temanku sekolahku. Mungkin kata ”say” bagiku hanya untuk memperhalus kata. Tapi ini malah beda ditanggapi olehnya. Dan kata itu sampai sekarang kami ucapkan.
            ”Aku lagi makan. Disini baik-baik saja.” kata El di message. Sepertia biasa, kata-katanya baku.
            ”Kamu benar kan lagi di Pekanbaru? Kok gak ada perbedaan waktunya si??” tanyaku kemudian. Saking bingungnya mau nanya apa, akhirnya terlontarlah pertanyaan bodoh itu.
            ”Ahaaaaa.... Pekanbaru kan juga WIB non. Kalau di Papua atau di Bali baru tuh beda. Soalnya WIT sama WITA. Gimana si kamu say. Hahahah.”
            Aku langsung bercermin. Terdiam sejenak. Kemudian ulah gila ku pun keluar. Aku mengucek-ngucek rambutku. Maluuuuu. Adeeeeehhh ketahuan begonyaa dah gue. Sengitku dalam hati. Aku langsung log out dan aku menghindar sementara darinya.


“Cieeeeee.”
“Prikitiwwwww. Ehem ehem…”
Nyunyun dan Natul sudah menggodaku sejak aku menginjakkan kaki kesekolah. Ada apa dengan mereka???
            ”PJ doongg!!!” pinta Nyunyun membuat aku stop jantung.
            ”PJ??? Maksudnya? Gue kan belum tau juara kelas lagi atau enggak.” kataku menyombongkan diri.
            ”Somboonggg. Uhhfff.”
            ”Yaeelaahh gitu aja marah.” Aku tertawa kecil. ”Emang PJ apaan sih?” tanyaku sekali lagi.
            ”Yahhh pura-pura bego dah. Ituuu...”
            ”Itu apa?? Kalo ngomong yang jelas kenapa.”
            ”Ituuu si el el.”
            ”Jadian kan lw sama dia? Pake say say segala. Weeeeehhhh.” goda Nyunyun semakin menjadi.
            Aku pun tertawa terbahak-bahak. Ini anak pada mabok kali yahh. Pagi-pagi udah nanyain gue udah jadian apa gak. Pada stress akh!! Kataku masih menahan tawa. ”Wooo sok tau kaya dukun kalian. Udah akh masuk kelas yuk.” Aku langsung memotong pembicaraan, tujuannya sangat jelas. Menghindari gosip yang berkepanjangan.
            Aku langsung menceritakan semua pertanyaan yang diajukan si manyun tadi pagi sama El. Dia pun tertawa ngakak mendengarnya. Sebenarnya bukan mendengarnya, lebih benarnya membacanya. Membaca inbox ku.
            ”PJ?? Apa itu?” tanya El di inboxnya saat aku menceritakan bahwa si manyun dan si natul minta PJ.
            ”Pajak jadian. Mereka mah sedeng El,,, jadi jangan diseriusin. Hahaha. Kamu lagi apa say?” Aku sengaja memotong pembicaraan, biar tidak menjalar jauh. Yang ada si El malah makin bingung dengan pembicaraanku.
            ”Aku lagi ol aja sama kamu J” kata El sambil memberikan emotion smile.
            Emotion itu menandakan pasti dia baik-baik saja disana. Pikirku saat itu. Yang aku senang dari seorang El adalah selain setiap kata-katanya yang indah dia juga selalu melapor jika teman-temanku ngeadd fbnya atau memberikan wall. Hahaha ( padahal se gak harus gitu juga ).
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar