Yunisarang

Yunisarang

Jumat, 14 Juni 2013

AKU dan TB


Sungguh ironis pemikiran orang-orang jaman dulu yah. Kenapa aku bisa mengatakan hal seperti itu?? Karena Sehari yang lalu aku baru saja mengalaminya. Bertemu orang-orang yang berpemikiran tidak masuk akal dan masih percaya dengan hal-hal yang mungkin bisa bikin kepala kita berputar tujuh keliling. Ini kisahku dengan seorang pasien yang sudah berumur 64 tahun yang didiagnosa dokter dengan TB paru dengan gangguan HEPAR (hati).  Menurut dokter yang merawatnya ini adalah penyakit langka yang jarang ditemui, maksudnya jarang ditemui bukan penyakit TB nya melainnya penyakit pelengkapnya yaitu gangguan pada fungsi Hepar. Mungkin menurut dokternya sendiri , dia baru menemui pasien seperti itu. 











Pagi itu Bapak Momon (nama hanya karangan penulis belaka) datang dengan kondisi yang bisa dibilang sangat memprihatinkan. Nafas sesak, saat bicara terasa berat, dada tampak mengembang dan mengempis sangat berat, berat badan hanya 33 kg dan tidak sesuai dengan usianya, batuk yang sudah dialami selama satu bulan, wajahnyapun pucat pasih. Aku yang menerima Bapak Momo pagi itu membawanya ke ruang Isolasi. Ruangan yang hanya ada DIA saja, tidak ada pasien siapapun. 

(INFO) Untuk pasien dengan penyakit TB memang harus dimasukan kedalam ruang isolasi, karena sangat jelas penyakit tersebut “menular”. Menular melalui Droplet (muncratan saat batuk) makannya si pasien harus selalu memakai masker diluar atau didalam rumah. Tujuannya adalah tidak menularkan ke yang lain. TB atau Tuberculosis paru adalah penyakit infeksi pada paru yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis yaitu suatu bakteri tahan asam. Awalnya kuman masuk kedalam tubuh tidak selalu menimbulkan penyakit Infeksi dipengaruhi oleh virulensi dan banyaknya basil tuberculosis serta daya tahan tubuh manusia.














Tiba diruang isolasi aku baringkan Bapak Momo ditempat tidur yang sedikit memojok kearah jendela. Aku memberikan masker dan menyarankannya untuk selalu memakai masker tersebut dalam kondisi apapun. Setelah mengantar si Bapak, aku kembali ke nurse stasion. Dan sontak aku pun ternganga melihatnya. Disana tampak seorang ibu menggendong anaknya. Yang sakit siapa?? Aku berfikir tadi saat ditelepon hanya ada satu pasien saja. Tetapi kenapa seniorku menyiapkan satu buah baju anak?? Aku memperjelas penglihatanku. Aku menengok kearah si anak. Ciri-cirinya sama seperti Bapak tadi. Tapi aku masih tidak yakin. Aku langsung membuka status si anak. Disana tertulis diagnosa Tuberculosis “juga”. Dan lebih mengagetkan lagi adalah si anak itu anaknya si Bapak Momon yang baru saja aku antar keruang isolasi. OH MY GOD!!! Aku mengelus dada dan menelan ludah. Usianya baru 7 bulan dan berat badannya hanya 4,5 kg !!! Hatiku miris melihat anak seusia itu harus memiliki penyakit dengan presentasi kematian yang tinggi. 

Kali ini bukan aku yang mengantarkan si Anak, tetapi seniorku. Dan aku duduk untuk menulis laporan pasien baru si Bapak Momon dan menyiapkan beberapa berkas untuk pemeriksaan lab selanjutnya.

yyy
 
Selama perawatan dirumah sakit Bapak dan Anak ini ternyata banyak permasalahan. Dari si Bapak yang mempunyai gangguan fungsi hepar dan si anak mempunyai permasalahan pada alat pernafasannya yang sangat banyak terdapat slym atau dahak dan harus dilakukan inhalasi atau penguapan serta sesekali di suction atau di sedot lendirnya yang ada didaerah dinding mulut dan hidung.

Yang bikin aku ingin menangis adalah suara-suara mereka yang sangat berat. Bernafas sepertinya harga mahal untuk mereka. Apalagi si kecil (begitu kami memanggilnya) , dia masih belum mengerti dengan penyakitnya, belum mengerti apa yang harus dihindari, dia belum mengerti dengan kondisinya yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawanya.
“Ibu nanti jam setengah sebelas si adek jangan disusui dulu yah bu, mau diuap jam sebelas.” kataku sambil mengelus kepala si kecil.
“Iya suster, emang buat apaan yak di uap segala?”
“Begini ibu, kalau dilihat didaerah mulut sama hidung itu terdapat dahak bu. Kan kasian dedenya kalo nafas nanti sesak. Makannya kita uap supaya dahak itu encer dan dapat keluar bu.”
Si Ibu mengangguk setelah aku memberikan penjelasan. Aku maklumi kenapa si Ibu sangat detail bertanya. Salah satunya dia sangat menyayangi adek kecil. Dan satu lagi mungkin karena si Ibu didalam lingkungan yang kurang berada (maaf).
Selanjutnya aku menghampiri Bapak Momon yang tertidur dibalik selimut tebalnya. “Bapak sudah mandi belum pak?” tanyaku mendadak saat melihat baju bersih tergeletak dipinggir tempat tidur. Dan aku yakin Bapak Momon belum mandi.
“Belum suster, soalnya dingin. Nanti ajah.”
“Yasudah tidak apa-apa. Kalau begitu dipakai yah pak maskernya. Kasian lho si adek kecilnya nanti. Dipakai yah pak.” pintaku sambil menyodorkan masker kearahnya. Aku sengaja berdiri terus tepat didepan Bapak Momon sampai ia memakai masker. Selang beberapa menit akhirnya di memakai maskernya dan menutup tubuhnya dengan selimut.

yyy

Perawatan yang dilakukan satu keluarga ini sudah masuk hari ke delapan. Banyak perubahan yang signifikan. Untuk Bapak Momon berat badan meningkat, tapi memang tidak terlalu banyak tapi lumayan. Batuk dan sesakpun berkurang. Begitu juga dengan si ade kecil, semakin hari semakin baik. Selanjutnya dokter yang akan memutuskan untu dipulangkan atau tidak hari ini. 

Pagi itu dokter yang merawat Bapak Momon datang. Semua perubahan-perubahan yang dialami Bapak Momon disampaikan semua oleh dokter dan hari ini boleh pulang. Pulang belum berarti “sembuh” tetapi melakukan perawatan jalan kerumah sakit sampai sembuh. Aku melihat raut wajah Bapak Momon sangat pulang. Untuk si adek kecil belum tau karena dokter spesialis anak belum memeriksanya. Dalam hati aku berharap adek kecil juga boleh pulang. 

Keyakinanku salah dan harapanku pudar. Adek kecil belum boleh pulang. Pertama ternyata dahaknya masih banyak. Dan jika dipulangkan dengan kondisi yang belum stabil akan berdampak buruk pada si anak. Yang tadi raut wajah senang kini seisi ruangan menampilkan raut wajah kesedihan. Aku?? Aku jangan ditanya, begitu juga aku. Aku sedih melihat si anak belum dikatakan sembuh, masih perlu perawatan yang intensif lagi. 

Diawal Bapak Momon sempat bersitegang dengan dokter yang merawat adek kecil. Dia hanya ingin anaknya juga ikut pulang dengannya. Tapi kondisi yang tidak bisa. Tetapi setelah diberi beberapa nasehat dan masukan Bapak Momon pun mengiyakan kalau anaknya tidak apa-apa dirawat hingga sembuh.

yyy
Perasaan tenang menyelimuti. Syukurlahh satu persatu pasienku pulang. Apalagi pasien dengan penyakit menular seperti TB. Hari ini yang dinas hanya aku dan seniorku. Biasanya si ada kepala ruangan yang menemani, tapi karena berhubung ada suatu halangan jadilah kami berduaa.
“Nuna, nanti jam 11 jangan lupa inhalasi si dede kecil yah.”
“Iya ka.” Aku mengiyakan. Dan langsung menemui sang ibu. “Ibu nanti jam 11 kita mau inhalasi lagi yah. Seperti biasa jam setengah 11 jangan disusui atau diberi makan yah.”
“Iya sus.”
Aku meninggalkan kamar. Berjalan dilorong dengan menyebarkan mata keseluruh ruangan. Memantau pasien mana yang tenang dan tidak tenang. Memantau infus-infus yang habis.
“Nuuunnn !!!”
Wehh siapa yang berteriak ditengah ketenangan pasien?? Aku mempercepat langkahku. Arah suara dari nurse stasion, aku mempercepat langkahku.
“Kenapa ka?”
“Ituuu… ituuu…”
“Itu siapa ka?? Ayoo coba tarik nafas dalaamm.”
“Itu.. si Bapak Momon belum datang ke rumah sakit. Dia kan harusnya datang buat disuntikin obat!!!” Suara Ka Min meninggi. Mungkin emosi atau malah khawatir.
Aku hanya ber “O” saja. Aku bingung harus mengomentari apa untuk masalah ini. Pengobatan yang dilakukannya selama 2minggu percuma dong?? Dua botol albumin yang harganya tidak murah juga terbuang sia-sia. Obat-obat suntik yang sudah disiapkan untuk satu minggu selama perawatan juga sia-sia belaka. Obat ini sehari saja putus akan diulang kembali dari awal. Kasian ...

Saat itu ada aku dan 3 seniorku. KITA semua terdiam sejenak. Mencari solusi untuk pasien dewasa kami. Mencari solusi agar dia mau melakukan pengobatannya sampai tuntas. Lampu kuning menyala tepat dikepalaku. 
"Kaa gimana kita samperin saja kerumahnya?" celetukku karena memang rumahnya deket dari Rumah Sakit. Dan akupun masih punya waktu untuk itu. Setelah kesepatan, aku dan senior yang dinas pagi langsung berangkat kerumah si Pak Momon, yang sebelumnya aku menanyakan alamat lengkapnya. "CUKUP" rumit.

       Kami kerumah Pak Momon dengan motorku, cuaca saat itu memang lagi ekstrim. Lagi musimnya hujan. Banjir dimana-mana, hujan setiap waktu, kapanpun dan dimanapun. Awan seketika menggelap saat kami ditengah perjalanan. Angin berhembus melewati kami. Daerah yang kami tuju "katanya" masih banjir. Air masih menggenangi rumah mereka. Alamat yang dituju rumah Pak Momon suda didepan mata, tapi benar saja air masih mengenangi rumah mereka. Sekitar sebetis air itu meninggi. Mau gak mau, dan harus kita pun melewati genangan air itu. Aku menggulung celana levisku hinggal selutut. Berharap air tidak membasahi celanaku. Sendal masih dan harus selalu dipakai disaat seperti ini, berharap aku tidak menginjak benda tajam atau benda-benda yang lembek. 

       Untuk kondisi penduduk disana, aku sudah sangat bisa menyimpulkan. Pertama rumah yang terlalu dekat dengan pasar #sangatdekat , setiap rumah tidak ada jarak sama sekali. Semua mepet. Kakiku ragu memasuki genangan air itu, dari bau yang sangat menyengat hidung, dan air yang sudah mulai keruh. Aku menatap Ka Inah sudah menggulung celana levisnya dengan kaki yang sudah memulai langkah melewati genangan air itu. Akupun mengekor dibelakangnya. Langkahku berat melawan arus, langkahku sangat perlahan. Tujuanya hanya satu untuk menghindari aku jatuh akibat licin. Langkah demi langkah masih aman dan langkah berikutnya ... Mimik wajahku berubah seketika. Apa ituu?? Ituu? Ituu yang mengambang??!! Oh My GODD !!! Makhluk itu tepat didepan kakiku. Dia mengambang !!!

     "KA INAAAAHHH ... ituuuuuu." teriakku menunjuk makhluk ituuu. Makhluk apa benda yah?? terserahlahh, yang pasti warnanya KUNING!!! . Ka Inah yang melihatku berteriak segera menggandengku untuk mempercepat langkahku. Aku mengikuti langkah kakinya yang panjang.

yyy

      "Bapak beneran pak gak mau disutik?" tanya Ka Inah saat itu. Kami sudah berada diatap rumah Pak Momon. Saat kami datang ia sedang tidur tak berdaya. Wajahnya pucat pasih, badannya semakin kurus, batuknya?? semakin menjadi. 
       
     Mataku menyebar kesekeliling kamar. Tidak ada ventilasi sama sekali. Jadi gak ada udara yang masuk sama sekali kedalam rumah ini. Gak heran kalau satu keluarga in terkena TB. Sebenarnya aku dan kak Inah daritadi berdebat masalah obat mau disuntikin atau tidak?? Kami dan Pak Momon benar-benar beda pendapat. Dia menyangka kami menyakitinya, dia bilang "Lebih baik kehilangan uang 1 miliar daripada tubuh saya disakitin sama suntikan!!." Aku yang mendengarnya ajah syokk, jadi selama perawatan dirumah sakit dia tidak mempercayai profesi kami??!

      Aku dan Ka Inah sudah kehabisan kata-kata untuk membujuknya. Dia tetap pada pendiriannya dan kami juga tetap pada pendirian kami. Aku dan Ka Inah sudah gak tau harus berbuat apalagi untuk kepala keluarga yang satu ini. Kami pamit dengan perasaan yang kurang. Karena kami tidak mampu membujuk Pak Momon yang kami tau dia membutuhkan kami. Aku pulang dengan cuaca yang lagi-lagi semakin ekstrim. Hujan disertai angin kencang sore itu. Kami pulang dengan kekecewaan.


Singkat cerita, setelah beberapa bulan beliaupun menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit yang sama .... Innalillahiwa'inalillahiraji'un

Cuma mau ngingetin kalo kesehatan itu PENTING !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar