Mataku
belum terpejam ketika jarum panjang jam menunjukkan pukul duabelas malam.
Mataku malam itu benar-benar masih ON. Jempolku juga masih hiperaktif dengan
handphone ditanganku. Sambil menahan tawa jempolku terus berjoging tengah malam.
Malam ini DIA menemaniku hingga larut malam. Aku yang memintanya. Dan dia mau,
dan harus mau. Dia pacar dua tahunku. Dia pacar terbaikku. Dia dia dann dia
adalah milikku. Dia INDRA dan aku Dwi.
Drrrttttt Drrttttttt
“Hallo, kok telepon sih? Smsan ajah.
Nanti Ayah dengar.” tanyaku seraya berbisik.
“Aku cuma mau bilang secara langsung
Wi.”
“Bilang apa?” tanyaku antusias
“l love you.”
Tuuuuutttt tuuuutttt. Telepon
langsung terputus. Dan aku??? Aku langsung jumpalitan kesenangan diatas kasur.
Aku berkaca sejenak, kulihat pipiku memerah mirip tomat. Bagaimana kondisi
jantungku?? Tangan kananku spontan memegang daerah jantung. Kalau didengar
pakai stetoskop dan dihitung mungkin sudah Takikardi. Dan malam ini aku sangat
senang sekali. Aku menarik selimut, mematikan lampu, kemudian memejamkan mata
sambil tersenyum. “Good night Indra.” ucapku dalam hati.
***
“Tidur jam berapa kamu tadi malam
Wi?” tanya Ayah saat dimeja makan.
Sontak akuu tersedak mendengarnya.
“Ohhh ituu.. Jam Sembilan aku sudah tidur kok Yah.” Aku bangkit dari bangku dan
langsung pamitan. “Aku berangkatt. Dadaahh semuaaa!!” Aku mempercepat
langkahku. Aku ingin cepat-cepat menjauhi Ayah, karena memang sudah telat
kekampus.
Pagi ini karena berhubung sudah
telat, aku membawa si mio putihku untuk mengantaru kekampus. Yang membuat
semangatku berapi-api pagi ini adalah pesan yang diberikan Indra untukku.
Sebelum berangkat sarapan dulu. Sebelum
belajar berdoa dulu. Hati-hati sayang.
Pesan yang dikirim Indra setiap pagi
itu tidak pernah membuatku bosan sama sekali. Malahan menjadi motivasiku,
menjadi penyemangat untuk memulai hari yang baru. Singkat cerita aku ingin
memperkenalkan sedikit sosok Indra. Yah dia pacar paling lama yang aku sayangi.
Dia sudah bekerja disuatu institusi di Jakarta. Kami dipertemukan dengan secara
kebetulan. Dipertemukan oleh teman sekolahku dulu. Singkat cerita juga setelah
tiga bulan berkenalan dan kami merasa cocok, aku dan Indra memutuskan untuk
berpacaran. Perjalanan cinta kami pun sudah sampai saat ini. Sudah menginjak
angka dua.
Satu hal yang paling aku sesali
adalah tentang hubungan kami yang “Backstreet” dari orang tuaku. Aku takut
kata-kata Ayahku. Aku takut hubungan ini berakhir jika Ayah mengetahuinya. Aku
ingin hubungan ini utuh tanpah ada halangan.
“Pokoknya Ayah mau kamu sama
angkatan. Entah dari angkatan mana. Mau laut atau darat terserah!!” ancam Ayah
setiap Aku dan keluarga berkumpul.
Yang lebih sensitive lagi aku takut
Indra tidak akan betah menjalani hubungan ini. Menjalani hubungan dengan
diam-diam. Apalagi saat hubungan kami menginjak angka satu, aku mengajak dia
kerumah untuk diperkenalkan kepada keluargaku terutama Ayah. Niat awalku baik
saat itu, tapi entah kenapa hati dan mulutku berbeda. Saat tepat dimeja makan,
aku memperkenalkan Indra.
“Ayah…..”
Aku ragu dan terdiam sejenak. Aku melirik Indra dan aku lihat wajah-wajah
keluargaku satu-persatu termasuk Ayah yang lebih aku sering lirik. “Ayah…
Kenalin ini Indra.”
“Ehmm….” Ayah hanya berdehem saja
sambil menikmati makanannya.
“Indra… Indra teman diorganisasi
Yah.” Hanya satu-satunya kata-kata itu yang membuat aku lega. Wajah Ayah pun
tampak lega, Tetapi tidak untuk Indra. Aku yakin pasti Indra marah denganku.
“Iya Om aku teman organisasi
dikampus. Dwi sangat berbakat lho om dikampus.”
Ayah yang mendengar itu hanya
tersenyum. Dia hanya focus dengan makanan didepannya. Begitu juga dengan Kakak
dan Ibu. Mereka tidak berkomentar sama sekali. Keluargaku memang belum menerima
kehadiran Indra, sekalipun aku bilang teman. Dan ujung-ujungnya kamipun
bertengkar.
“Satu tahun kita pacaran Wie, tapi
beginilah hasilnya. Kamu hanya bilang TEMAN??!!!” emosi Indra memuncak.
“Dari awal aku kan bilang, kalau
hubungan kita hanya bisa backstreet Ndra. Kamu tau Ayah kan?? Aku pernah cerita
kan kekamu tentang Ayah??”
“Iyaaaahhh tapi sampai kapan
hubungan kita seperti ini saja?? Sampai kiamat? Sampai aku mati?? Sampai kapan
Wie??!!!”
Lagi-lagi pertanyaan itu muncul dari
mulut Indra. Dan aku hanya tertunduk dan terdiam. Aku bingung mau menjawab apa,
ya memang aku tidak tahu jawabannya. “Sudah malam, aku masuk. Kamu pulang
hati-hati. Kalau sudah sampe rumah kabarin aku.” Aku memotong pertengkaran
malam itu. Aku masuk tanpa menoleh lagi ke Indra.
“Weyyy!!!”
Hempasan tangan melaju cepat tepat
didepan mataku.
“Indra??”
“Kenapa kamu bengong?”
Aku yang mendengar suara Indra
langsung kalap. “Oh gaakk kok gakk. Kita mau nonton apa nih?” Aku melirik
daftar nama film didepan kasir.
“Ehmm … terserah kamu ajah. Aku
ngikut.”
“Step Up Revolution apa Perahu
kertas?? Aku juga bingung nih Yang.”
“Mba step up untuk dua orang yah.”
Aku tidak berkomentar. Indra memang
tau semua tentangku, termasuk jenis film yang aku suka. Indra memilih posisi
bangku huruf D kanan paling pojok.
“Kok pojok banget si?” tanyaku
dengan dahi mengkerut.
Indra tersenyum. “Biar romantis.”
tawa Indra kemudian.
Dipertengahan film pikiranku sudah
berantakan sudah melanglangbuana kemana saja. Aku melirik Indra yang sangat
serius melihat filmnya. Aku melirik Indra sejenak.
“Ndra.” Aku memanggilnya dengan
volume suara kecil.
“Iya. Kenapa?” tanya Indra yang
langsung menoleh kepadaku.
“Tanggal tujuh nanti kamu harus
datang.”
“Kamu berani?”
Lagi-lagi pertanyaan yang tidak bisa
aku jawab. Seketika Indra menggenggam tanganku. “Aku pasti akan datang. Aku
yakin kamu bisa.” Indra langsung menjawab tanpa menunggu jawaban yang dia
tanyakan padaku.
Kepalaku yang sedari tadi lurus
tiba-tiba sedikit bersandar dipundak Indra. “Love you.” ucapku ditelinga Indra.
“Love you to.” Genggaman Indra
semakin keras ditanganku.
***
Usiaku saat ini menginjak ke 21
tahun. Bukan untuk dirayakan tapi hanya makan-makan kecil dan sederhana. Aku
mengundang semua sahabat-sahabat karibku kerumah. Hari ini sangat special
untukku, tetapi ada rasa takut yang menyelinap disudut hati. Bagaimana nanti
dengan Indra?? Bagaimana dengan Ayah yang mendengarnya?.
“Sudah jam lima yah, sekarang ayuk
kita tiup lilin dan potong kue. Mana nih si Dwi??” kata MC sumringah.
Sebelum meniup lilin dan memotong
kue, aku memejamkan mata dan berdoa sejenak. “Semoga semua baik-baik saja.”
Saat membuka mata aku melihat Indra
didepan pintu. Aku sedikit memberikan kode untuk menyuruhnya masuk. Aku juga
melihat Ayah yang sudah berada dibelakangku. Tanpa fikir panjang lagi aku
menarik tangan Indra yang berada diluar. Aku dan dia berdiri tepat didepan
semua teman-temanku. Pandanganku aku sebarkan kesemua sudut ruang. Aku melirik
Ayah. Aku mendekati Ayah. Saat itu bibirku beku, badanku kaku. Aku meyakinkan
diriku kalau aku BISA, kalau aku BISA mengucapkannya.
“Ayah…. Ehm… Ayah, Dia Pacarku.”
Akhirnya aku bisa mengucapkannya didepan Ayah dan didepa teman-teman.
“Ayo
dilanjut makannya yahh.” kata Ayah yang sudah jelas memotong pembicaraanku. Ayah
pergi kekamarnya tanpa menoleh kepadaku. Aku yakin pasti Ayah sangat marah. Aku
membuntuti Ayah dari belakang.
“Maafkan
aku Ayah.”
“Ayah
tetap dengan pendirian Ayah.” tegas Ayah yang masih tidak memandangiku.
Hanya
dengan mendengar nada suara Ayah aku sudah tau pasti Ayah sangat marak
kepadaku. Dan mulutkupun terkunci. Tanpa balasan kata-kata aku keluar dari
kamarnya.
Saat acara selesai Indra mengajakku
keluar. Katanya biar suasananya menjadi enak dan tidak tegang seperti tadi.
Indra pasti tau kondisiku saat ini seperti apa.
“Maaf.” kataku tertunduk.
“Jangan difikirkan. Aku baik-baik
saja.” Indra mencoba menenangkanku. “Aku bangga sama kam Wie. Aku bangga karena
kamu sudah berani.”
“Tapi
hubungan kita?”
“Ya kita
jalani apa adanya.” jawab Indra tersenyum.
“Gak
apa-apa?” untuk kedua kalinya aku bertanya untuk meyakinkan diriku.
Indra
menarikku dan memelukku. “Gak apa-apa yang penting kamu selalu ada buat aku
Wie.”
Sekarang aku
tau betapa dewasanya Indra malam ini. Dan aku menyadari kalau memang Indralah
yang terbaik untukku saat ini. Tidak ada yang lain. Untuk hubungan kita yang
“Backstreet” yah dijalani apa adanya yang Indra katakana tadi. Aku percaya
suatu saat nanti ada suatu perubahan untuk hubungan kami. Semoga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar