Yunisarang

Yunisarang

Senin, 10 September 2012

AYAH, Dia Pacarku


   Mataku belum terpejam ketika jarum panjang jam menunjukkan pukul duabelas malam. Mataku malam itu benar-benar masih ON. Jempolku juga masih hiperaktif dengan handphone ditanganku. Sambil menahan tawa jempolku terus berjoging tengah malam. Malam ini DIA menemaniku hingga larut malam. Aku yang memintanya. Dan dia mau, dan harus mau. Dia pacar dua tahunku. Dia pacar terbaikku. Dia dia dann dia adalah milikku. Dia INDRA dan aku Dwi.
        Drrrttttt Drrttttttt
        “Hallo, kok telepon sih? Smsan ajah. Nanti Ayah dengar.” tanyaku seraya berbisik.
        “Aku cuma mau bilang secara langsung Wi.”
        “Bilang apa?” tanyaku antusias
        “l love you.”
     Tuuuuutttt tuuuutttt. Telepon langsung terputus. Dan aku??? Aku langsung jumpalitan kesenangan diatas kasur. Aku berkaca sejenak, kulihat pipiku memerah mirip tomat. Bagaimana kondisi jantungku?? Tangan kananku spontan memegang daerah jantung. Kalau didengar pakai stetoskop dan dihitung mungkin sudah Takikardi. Dan malam ini aku sangat senang sekali. Aku menarik selimut, mematikan lampu, kemudian memejamkan mata sambil tersenyum. “Good night Indra.” ucapku dalam hati.


***

          “Tidur jam berapa kamu tadi malam Wi?” tanya Ayah saat dimeja makan.
         Sontak akuu tersedak mendengarnya. “Ohhh ituu.. Jam Sembilan aku sudah tidur kok Yah.” Aku bangkit dari bangku dan langsung pamitan. “Aku berangkatt. Dadaahh semuaaa!!” Aku mempercepat langkahku. Aku ingin cepat-cepat menjauhi Ayah, karena memang sudah telat kekampus.

       Pagi ini karena berhubung sudah telat, aku membawa si mio putihku untuk mengantaru kekampus. Yang membuat semangatku berapi-api pagi ini adalah pesan yang diberikan Indra untukku.
      Sebelum berangkat sarapan dulu. Sebelum belajar berdoa dulu. Hati-hati sayang.

     Pesan yang dikirim Indra setiap pagi itu tidak pernah membuatku bosan sama sekali. Malahan menjadi motivasiku, menjadi penyemangat untuk memulai hari yang baru. Singkat cerita aku ingin memperkenalkan sedikit sosok Indra. Yah dia pacar paling lama yang aku sayangi. Dia sudah bekerja disuatu institusi di Jakarta. Kami dipertemukan dengan secara kebetulan. Dipertemukan oleh teman sekolahku dulu. Singkat cerita juga setelah tiga bulan berkenalan dan kami merasa cocok, aku dan Indra memutuskan untuk berpacaran. Perjalanan cinta kami pun sudah sampai saat ini. Sudah menginjak angka dua.

     Satu hal yang paling aku sesali adalah tentang hubungan kami yang “Backstreet” dari orang tuaku. Aku takut kata-kata Ayahku. Aku takut hubungan ini berakhir jika Ayah mengetahuinya. Aku ingin hubungan ini utuh tanpah ada halangan.
     “Pokoknya Ayah mau kamu sama angkatan. Entah dari angkatan mana. Mau laut atau darat terserah!!” ancam Ayah setiap Aku dan keluarga berkumpul.
     Yang lebih sensitive lagi aku takut Indra tidak akan betah menjalani hubungan ini. Menjalani hubungan dengan diam-diam. Apalagi saat hubungan kami menginjak angka satu, aku mengajak dia kerumah untuk diperkenalkan kepada keluargaku terutama Ayah. Niat awalku baik saat itu, tapi entah kenapa hati dan mulutku berbeda. Saat tepat dimeja makan, aku memperkenalkan Indra.
       “Ayah…..” Aku ragu dan terdiam sejenak. Aku melirik Indra dan aku lihat wajah-wajah keluargaku satu-persatu termasuk Ayah yang lebih aku sering lirik. “Ayah… Kenalin ini Indra.”
        “Ehmm….” Ayah hanya berdehem saja sambil menikmati makanannya.
       “Indra… Indra teman diorganisasi Yah.” Hanya satu-satunya kata-kata itu yang membuat aku lega. Wajah Ayah pun tampak lega, Tetapi tidak untuk Indra. Aku yakin pasti Indra marah denganku.
        “Iya Om aku teman organisasi dikampus. Dwi sangat berbakat lho om dikampus.”
    Ayah yang mendengar itu hanya tersenyum. Dia hanya focus dengan makanan didepannya. Begitu juga dengan Kakak dan Ibu. Mereka tidak berkomentar sama sekali. Keluargaku memang belum menerima kehadiran Indra, sekalipun aku bilang teman. Dan ujung-ujungnya kamipun bertengkar.
       “Satu tahun kita pacaran Wie, tapi beginilah hasilnya. Kamu hanya bilang TEMAN??!!!” emosi Indra memuncak.
        “Dari awal aku kan bilang, kalau hubungan kita hanya bisa backstreet Ndra. Kamu tau Ayah kan?? Aku pernah cerita kan kekamu tentang Ayah??”
        “Iyaaaahhh tapi sampai kapan hubungan kita seperti ini saja?? Sampai kiamat? Sampai aku mati?? Sampai kapan Wie??!!!”
      Lagi-lagi pertanyaan itu muncul dari mulut Indra. Dan aku hanya tertunduk dan terdiam. Aku bingung mau menjawab apa, ya memang aku tidak tahu jawabannya. “Sudah malam, aku masuk. Kamu pulang hati-hati. Kalau sudah sampe rumah kabarin aku.” Aku memotong pertengkaran malam itu. Aku masuk tanpa menoleh lagi ke Indra.

            “Weyyy!!!”
            Hempasan tangan melaju cepat tepat didepan mataku.
            “Indra??”
            “Kenapa kamu bengong?”
         Aku yang mendengar suara Indra langsung kalap. “Oh gaakk kok gakk. Kita mau nonton apa nih?” Aku melirik daftar nama film didepan kasir.
            “Ehmm … terserah kamu ajah. Aku ngikut.”
            “Step Up Revolution apa Perahu kertas?? Aku juga bingung nih Yang.”
            “Mba step up untuk dua orang yah.”
         Aku tidak berkomentar. Indra memang tau semua tentangku, termasuk jenis film yang aku suka. Indra memilih posisi bangku huruf D kanan paling pojok.
            “Kok pojok banget si?” tanyaku dengan dahi mengkerut.
            Indra tersenyum. “Biar romantis.” tawa Indra kemudian.

          Dipertengahan film pikiranku sudah berantakan sudah melanglangbuana kemana saja. Aku melirik Indra yang sangat serius melihat filmnya. Aku melirik Indra sejenak.
            “Ndra.” Aku memanggilnya dengan volume suara kecil.
            “Iya. Kenapa?” tanya Indra yang langsung menoleh kepadaku.
            “Tanggal tujuh nanti kamu harus datang.”
            “Kamu berani?”
       Lagi-lagi pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Seketika Indra menggenggam tanganku. “Aku pasti akan datang. Aku yakin kamu bisa.” Indra langsung menjawab tanpa menunggu jawaban yang dia tanyakan padaku.
       Kepalaku yang sedari tadi lurus tiba-tiba sedikit bersandar dipundak Indra. “Love you.” ucapku ditelinga Indra.
         “Love you to.” Genggaman Indra semakin keras ditanganku.

***

       Usiaku saat ini menginjak ke 21 tahun. Bukan untuk dirayakan tapi hanya makan-makan kecil dan sederhana. Aku mengundang semua sahabat-sahabat karibku kerumah. Hari ini sangat special untukku, tetapi ada rasa takut yang menyelinap disudut hati. Bagaimana nanti dengan Indra?? Bagaimana dengan Ayah yang mendengarnya?.
        “Sudah jam lima yah, sekarang ayuk kita tiup lilin dan potong kue. Mana nih si Dwi??” kata MC sumringah.
        Sebelum meniup lilin dan memotong kue, aku memejamkan mata dan berdoa sejenak. “Semoga semua baik-baik saja.”
      Saat membuka mata aku melihat Indra didepan pintu. Aku sedikit memberikan kode untuk menyuruhnya masuk. Aku juga melihat Ayah yang sudah berada dibelakangku. Tanpa fikir panjang lagi aku menarik tangan Indra yang berada diluar. Aku dan dia berdiri tepat didepan semua teman-temanku. Pandanganku aku sebarkan kesemua sudut ruang. Aku melirik Ayah. Aku mendekati Ayah. Saat itu bibirku beku, badanku kaku. Aku meyakinkan diriku kalau aku BISA, kalau aku BISA mengucapkannya.
        “Ayah…. Ehm… Ayah, Dia Pacarku.” Akhirnya aku bisa mengucapkannya didepan Ayah dan didepa teman-teman.
        “Ayo dilanjut makannya yahh.” kata Ayah yang sudah jelas memotong pembicaraanku. Ayah pergi kekamarnya tanpa menoleh kepadaku. Aku yakin pasti Ayah sangat marah. Aku membuntuti Ayah dari belakang.
         “Maafkan aku Ayah.”
        “Ayah tetap dengan pendirian Ayah.” tegas Ayah yang masih tidak memandangiku. 
     Hanya dengan mendengar nada suara Ayah aku sudah tau pasti Ayah sangat marak kepadaku. Dan mulutkupun terkunci. Tanpa balasan kata-kata aku keluar dari kamarnya.

        Saat acara selesai Indra mengajakku keluar. Katanya biar suasananya menjadi enak dan tidak tegang seperti tadi. Indra pasti tau kondisiku saat ini seperti apa.
          “Maaf.” kataku tertunduk.
         “Jangan difikirkan. Aku baik-baik saja.” Indra mencoba menenangkanku. “Aku bangga sama kam Wie. Aku bangga karena kamu sudah berani.”
         “Tapi hubungan kita?”
         “Ya kita jalani apa adanya.” jawab Indra tersenyum.
         “Gak apa-apa?” untuk kedua kalinya aku bertanya untuk meyakinkan diriku.
            Indra menarikku dan memelukku. “Gak apa-apa yang penting kamu selalu ada buat aku Wie.”
                
       Sekarang aku tau betapa dewasanya Indra malam ini. Dan aku menyadari kalau memang Indralah yang terbaik untukku saat ini. Tidak ada yang lain. Untuk hubungan kita yang “Backstreet” yah dijalani apa adanya yang Indra katakana tadi. Aku percaya suatu saat nanti ada suatu perubahan untuk hubungan kami. Semoga.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar