DIA bersetubuh DIDEPANKU
“Aku gak mungkin ninggalin dia karena aku hampir mau jadi bapak buat dia.”
Kata-kata keji nya selalu terlintas dalam benakku. Dalam tidurku. Dalam mimpiku. Lebih dalam lagi, adalah dalam HATIKU !!! Tuhan beri aku kekuatan. Beri aku sebuah nyawa baru untuk menjalani hidupku. TUHAN bantu akuuu
Aku membuka mata dengan semangat. Menyambut hari baru. Menyambut pacar baruuu. Aku tersenyum kegirangan saat tepat didepan cermin.
“Selamat pagi Dimassss.” kataku didepan cermin dengan rambut yang masih berantakan. Wajah yang kucel. Tapi terasa indah saat menyebut nama Dimas. Aku mencium si dear saat itu. Dear adalah nama boneka shaun the sheep ku yang tadi malam baru saja Dimas berikan padaku.
Cukup 5 menit aku sudah siap untuk kekampus. Cusssss.
“Wiiii ,,,, Ada teman kamu datang nih.” teriak Mama dari bawah tangga.
“Iya Mah, Dwi turun sebentar lagi.” sahutku yang langsung mempercepat memasukkan buku kedalam tas. Dengan langkah cepat aku menuruni anak tangga satu persatu. Dianak tangga terakhir kakiku berhenti. Apa yang aku lihat seperti mimpi. Dia berhasil membuat aku terkejut.
“Good Morning Sayang.”
Mama dan Papa yang mendengar itu hanya bisa terdiam. Mereka memang belum tau kalau aku sudah punya pengganti yang terdahulu. Belum sempat bercerita lebih tepatnya. Sorry mom pap.
“Wi, ini siapa?” tanya Mama. Wajahnya berubah sinis padaku.
“Maaf Mah Pah belum cerita. Nanti aku certain yahh. Aku berangkat dulu.” Aku putuskan pembicaraanku dan langsung mencium tangan mereka.
“Tante Om kita berangkat dulu yah.”
Itulah yang aku suka dari Dimas, selain perhatian banget sama pacarnya yang satu ini yaitu aku. Dia juga sangat sopan dengan kedua orang tuaku. Mungkin sampai saat ini itulah kelebihan yang aku temui dalam dirinya. Dimas anak pertama dari tiga bersaudara. Dia bersekolah disalahsatu Universitas Pelayaran di Jakarta. Mungkin bagiku itu sangat luar biasa yah. Pengalaman sekali mendapatkan pacar yang profesinya belum banyak yang diketahui orang lain. Pertemuanku dengannya dari sebuah perkenalan singkat. Saat itu aku diajak sahabatku Nira ke resepsi pernikahan Omnya. Kebetulan lagi Omnya Nira itu lulusan dari sekolah pelayaran. Jadilahhh aku bertemu dengan Dimas disana.
“Nir balik yuk?” katakuu berbisik saat ditengah keramaian.
“Kok pulang si? Acaranya juga baru mulai tau.”
Genggaman tanganku ke tangan Nira semakin erat. “Gak PD gue Nir disini. Liat nohh isinyaa pelaut semua. Pulang ajah si yuk?”
“Popaye kali pelaut. Nanti dulu akh Wi. Soalnya ada yang mau gue kenalin sama lw. Tunggu bentar yah.”
Aku pun menurut dengan semua perkataan sahabatku yang satu ini. Selang beberapa menit aku melihat dua sosok pria datang kearah kita, aku dan Nira. Sambil senyam senyum. Aku melihat Nira tersenyum juga. Tapi pada senyumin siapa si?? Aku terus bertanya tanyaa. Langkahnya pun semakin dekat dan wajahnyapun semakin jelass. Dia DIMAS ,,, dia yang sekarang jadi kekasihku.
“Dim ini Dwi, Wi ini Dimas. Cieee.” sifat jahil Nira kambuh disaat waktu yang tidak tepat
Aku dan Dimas saling berjabat tangan. Belum ada apa-apa. Belum ada tanda-tanda. Belum ada cinta jugaa (baru pertama kali weeyy!!). Nira benar-benar membuat pipiku menjadi seperti tomat. Merah banget malah.
“Yaudah Wi, gue tinggal dulu yah. Kalian ngobrol-ngobrol ajah dulu.” kata Nira yang langsung menarik Mas Wahyu keluar dari wilayahku.
Kataku dalam hati. “Aduhhh mau ngapain nihh. Mau pulanggg nihh. Pulang Pulang Pulang!!!” Aku melamun hampir beberapa menit, lamunanku buyar saat sebuah tangan menghempaskan tepat didepan mataku.
“Cari makanan yuk?” ajaknya padaku.
“Oh..ehm…i..iyaa yuk.” kata-kataku pun sudah tidak teratur.
Dari perkenalan kecil aku bercerita semuaa tentang aku. Begitu juga dia. Dia bercerita tentang masa kecil, sekolahnya, dan sampai seluruh keluarganya. Dan dengan waktu beberapa minggu sejak pertemuan itu pada akhirnya kami pun BERPACARAN.
***
“Mah Dwi pulaaanggg.” sapaku didepan pintu rumah. Aku langsung masuk ketika tidak ada sapaan sama sekali. “Tumben rumah sepi, pada kemana ini yah?” Mataku menyebar keseluruh ruangan. Mencari sosok yang bias buat aku bermanja-manja ria.
“Mamaaah!!” Udah beberapa kali aku memanggil namanya, tapi tidak ada sahutan. “Mungkin pergi kewarung kali yahh.” Aku menutup pintu dan menuju kamarku yang ada dilantai dua. Tepat dianak tangga terakhir aku mendengar suara tawa dari dalam kamarku. Hentakan kakiku aku pelahan. Aku buka pintu dan apa yang dilihatt ….. Mama sedang baca buku diary kuuu. Oh my GOD !!!
“Ohh ternyata Dimas itu…”
“Iyah mah pacar aku. Mama nih baca-baca. Aku malu mah.” Aku menundukkan kepala. “Maaf mah belum cerita ke mama. Tadinya hari ini aku mau cerita, eh Mamah udah tau lewat diary ku.” Aku duduk disamping Mama dan menceritakan semua tentang Dimas. Dari awal aku bertemu sampai hari ini dia menjemputku dirumah. Aku dan Mamah bukan hanya sekedar ibu dan anak tetapi juga sahabat karib. Semua keluh kesahku aku tuangkan ke Mama. Kalau sudah begitu kami sampai lupa waktu.
“Kalau kamu senang, Mamapun ikut senang, Yang penting kamu bisa jaga diri kamu. Mama percaya sama kamu Wi.” Mama mengelus rambutku. Saat itu aku benar-benar merasa Mama sangat menyayangiku.
Sore harinya aku kedatangan dia lagi. Kali ini dia sengaja datang untuk menemui kedua orang tuaku. Aku yang menyuruhnya untuk datang. Dimas datang mengenakan kemeja panjang berwarna biru yang lengannya digulung hingga siku. Dan aku sendiri memakai dress yang tidak terlalu resmi yang penting sopan.
“Malam tante.” sapa Dimas sambil mencium tangan Mama. Papa saat itu kebetulan belum pulang kerja.
“Oh ini Dimas. Lumayan.” celetuk Mama yang membuat pipiku seperti tomat.
Aku mencubit tangan Mama. “Yaudah Ma, aku berangkat dulu yah.” Pamitku langsung ke Mama.
Malam itu kami makan malam, tempatnya tidak mewah juga harganya tidak mahal. Malam itu kami jalani dengan kesan yang sederhana.
“Sekarang kita mau kemana lagi nih yang?” tanya Dimas kepadaku.
“Terserah kamu. Pokoknya aku gak mau pulang cepet-cepet.”
“Yaudah naik.”
Malam itu Dimas benar-benar membawaku keliling kota Jakarta dengan motornya. Dimas membuatku menjadi wanita paling bahagia malam ini. Kami pun berhenti di sebuah pasar malam. Kebetulan, katanya itu penutupan pasar malam. Gak kebayang ramenya seperti apa.
“Tunggu sebentar yah.” kataku kepada Dimas.
Selang beberapa menit aku kembali ke tempat Wedang Ronde, tempat yang dari tadi kami duduki. Aku memberikan bungkusan kotak berwarna cokelat kepada Dimas
“Nih, semoga kamu suka yah.”
Dimas membolak-balikkan bungkusan kotak berwarna cokelat hingga beberapa kali. “Dibuka gak nih?” tanyanya sambil melirikku.
“Ehm… dibuka gak yahh. Boleh gak yahh.” Belum selesai aku meggodanya, bungkusan itu sudah terbuka setengah.
Aku memberikan Dimas sebuah karikatur gambar dirinya. Hanya saja yang terlihat punggungnya. Digambar itu ia sedang duduk didepan papan tulis yang sangat khas dilakukan oleh arsitektur.
“Nih aku juga punya.” kata Dimas memberikan hadiah dengan bentuk yang sama. Bednya ini dibungkus dengan kantong plastik.
“Idihh kok pake kantong plastik si?? Gak kreatif nih kamu.” ejekku padanya sambil tertawa.
“Yee liat dulu dong isinya. Dijamin kamu tersepona dah.”
“Terpesonaaa!!!” Aku membenarkan kata-kata Dimas. Yang dibilang dia ternyata benar. Aku benar-benar terpesona melihatnya. Dia memberiku karikatur wajahku yang tampak depan. Tapi kapan dia bikinnya?? “Ini? Kok bisa??”
“Waktu kamu ninggalin aku, aku juga pergi kali. Cuma bedanya aku ngambil pesananku. Kamu baru pesen. HAHAHAA.” tawanya mengejek.
Untuk malam ini terima kasih sayangg.
Kami berpisah didepan gerbang rumahku
***
Singkat cerita. Lima bulan kami bersama, ternyata Dimas yang sekarang dan Dimas yang dulu aku kenal amatlah sangat berbeda. Dulu setiap jam selalu memberiku kabar. Kini?? Itu pun harus aku duluan yang menghubunginya. Alasan yang sering aku dengar adalah “Aku sibuk dengan kuliahku.” Aku berfikir sejenak, akupun juga sibuk, kita sama-sama sibuk. Tapi aku masih bisa memberikan waktu untuk menghubungimu. Tetapi kenapa kamu tidak bisa?? Dimas aku rindu kamu yang dulu.
Hari ini akupun nekat pergi seorang diri ke Bogor, tempat Dimas tinggal. Jujur hari itu pertama kalinya aku menjejakkan kaki disana. Untuk pertama kalinya juga aku pergi kesana dengan kereta api. Entahlah aku harus naik gerbong yang mana, jam berapa. Yang ada difikiranku adalah saat ini bagaimana aku harus bertemu dengan Dimas. Nasib ku benar benar mirip sama si Ayu Tingting yang mencari-cari alamat kekasihnya. Tapi yang ini pasti ketemu alamatnya. Aku naik kereta yang pukul tiga sore dari Stasiun Gondangdia. Aku menyebarkan mataku keseluruh sudut stasiun. Banyak pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya. Ada yang dipanggul dan ada pula yang didorong dengan gerobak kecil. Selain pedagang, saat itu aku melihat penumpang kereta yang menunggu dipinggir rel. Mungkin karena ini jam pulang kerja jadi stasiun sore itu sangat ramai. Aku melihat satu persatu wajah-wajah beberapa orang yang ada didepanku. Ternyata bukan hanya aku saja yang mempunyai raut wajah lelah dan kecemasan, ternyata merekapun sepertiku. Tersirat dari wajah mereka yang menggambarkan kelelahan, kecewa, kecemasan. Aku tidak jauh berbeda dengan mereka.
Tiba didaerah Bogor, entahlah nama stasiunnya apa. Lagi-lagi aku menyebarkan pandanganku keseluruh sudut stasiun. Aku mencari pintu keluar. Tatapanku berhenti dipojok kanan. “Itu pintu keluarnya!!” teriakku kegirangan. Aku masih memegang secarik kertas yang isinya alamat lengkap. Aku mulai mencari nama jalan yang ada dikertas itu.
“Permisi pak, jalan Melati dimana yah pak?” Aku mencoba bertanya pada Bapak Tukang Ojek.
“Dari sini, eneng naik angkot 44 dulu neng. Terus nanti bilang ajah Gang Melati.” jawab Bapak tukang ojek antusias.
“Terima kasih pak.” kataku yang langsung menuju tempat mangkal angkot 44.
Aku berdiri tepat di gang Melati. Aku mencoba menyamakan tulisan yang ada dikertas dan yang ada diplang. “Benar.” Aku masuk kearah plang yang dituju. Gang yang memang hanya muat oleh dua motor. Gangnya sudah ketemu tinggal mencari nomer rumahnya. Aku celingukan mencari nomer 7B. Melewati lima rumah, aku menemukan nomer 7B. Lagi-lagi aku menyamakan alamat yang kulihat dengan alamat yang kutulis dikertas. “Sama persis.”
“Permisi !!!” Teriakku diluar pagar. Kondisinya saat itu memang sepi. Lebih tepatnya saat itu pukul 6 sore. Aku memberanikan diri untuk masuk. Kulihat ada tangga disebelah kiri. Aku menaiki tangga itu dengan ragu. Saat tiba diatas, aku melihat beberapa seragam yang digantung ditali, seragam itu pernah Dimas pakai, aku sangat mengenalinya. Aku memperjelas pandanganku, ternyata itu seragam Dimas, didekat kantungnya ada nama panjangnya. Keadaannya sudah kering. Aku mencoba masuk lebih dalam. Entah aku berhalusinasi atau fikiranku yang sedikit kotor, aku mendengar suara wanita yang mendesah kesakitan dari satu ruangan yang tepat berada ditengah tengah. Aku memperjelas suara itu, semakin jelas dan semakin aku takut. Selang beberapa menit suara itupun menghilang. Dengan keberanian tinggi aku mencoba mengetuk pintu yang menjadi sumber suara. Belum sempat tanganku menempel daun pintu, pintunya sudah dibuka oleh empunya.
“Dwi??!!” kata Lelaki yang setengah telanjang. Dia berdiri didepanku tanpa dosa, dan mimik wajah yang sangat datar.
Aku menghela nafas dalam. “Dimass??!!!” Seluruh tubuhku bergetar. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Dia bukan Dimas!! Akupun ambruk, aku jatuh duduk. Aku menangis didepannya.
“Wi.” Dimas mencoba menyentuhku. Aku pun tak kuasa menahan amarahku. Aku bangkit dan mengumpulkan tenaga untuk menggampar lelaki bejat yang ada didepanku itu.
“Aaaarrrrggghhhhhhhh.” Aku berteriak semampuku. Aku melirik wanita yang tubuhnya tidak memakai kain sehelaipun diatas ranjang. Aku menatapnya penuh kebencian. “Wanita JALANG !!!” desahku masih dengan tatapan benci kepadanya.
“Wi,,, ma….”
“Anjing lw yahh!!! JIJIK gue ngeliat lw berdua!!! NAJIS lw berdua!!” itu kata terakhirku yang pas untuk mereka berdua.
Hati perempuan mana yang tidak ambruk mengetahui pacarnya bersetubuh dengan wanita lain. Bersetubuh didepan mataku!!! JANGAN tanya gimana rasanya. Sumpah sangat miris sekali. Rasanya saat itu aku ingin berdiri ditengah rel kereta yang langsung menghantamku dari depan. Saat mataku terpejam berharap semua penderitaanku berakhir hari itu juga. Fikiranku terlitas pada minggu yang lalu, saat Dimas menghubungiku via telepon.
“Iya sayang ada apa? Serius banget kamu.”
“Gini yang, ehmm.. itu temanku kemarin suruh aku nanyain ini sama kamu.”
Aku mendengar suara Dimas agak terbata-bata. “Iya, terus??”
“Ehm … ehm… gini yang… Kalo ciri-ciri wanita hamil itu kayak apa sih?”
Percakapanku minggu lalu terlintas tiba-tiba dibenakku. Ternyata pertanyaan itu bukan dari temannya. Melainkan dari dirinya sendiri dan wanita jalang itu. Aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku lagi. Yang aku rasa saat ini benar-benar hanya kebencian. Kebencian yang sangat luar biasa dalamnya.
Dengan langkah gontai aku menaiki satu persatu tangga di stasiun. Fikiranku buyar, entah aku mau kemana saat itu. Pukul Sembilan malam adakah kereta yang menuju Jakarta?? Aku ingin menghilangkan jejak dari kota Bogor. Aku mau pulang. Aku mau pulang. Aku mau membuang semua kenangan tentang Dimas.
Akuu…. Mauu….
Pandanganku jadi sangat gelap.
***
“Aku gak mungkin ninggalin dia karena aku hampir mau jadi bapak buat dia.”
Kata-kata keji nya selalu terlintas dalam benakku. Dalam tidurku. Dalam mimpiku. Lebih dalam lagi, adalah dalam HATIKU !!! Tuhan beri aku kekuatan. Beri aku sebuah nyawa baru untuk menjalani hidupku. TUHAN bantu akuuuu…
“Dwi !!! Bangun sayaanggg. Bangun nakk. Ini Mama.”
Aku merasa Mama memelukku. Aku merasa Mama memanggilku. Mama … Mama … Bangunkan aku Maaaa. Aku mencoba membuka mataku. Berharap suatu perubahan besar menantiku.
“MAMAAAAA !!!” Aku benar-benar ingin menangis dipundak Mama. Aku ingin bebanku sedikit berkurang.
Saat ini. Allah memang tidak tidur dan menunjukan kuasanya kepadaku. Kuasanya kalau Dia bukan lelaki yang tepat untuk masa depanku. Kuasanya agar aku selalu menjaga kehormatanku dihadapan lelaki, lelaki manapun. Bagiku, akulah pemenangnya dalam drama ini, dalam permainan duniawi ini. Biarlah Dimas dan perempuan itu yang menanggung semua dosa-dosanya. Sekarang aku hanya berharap jauhkan aku dari lelaki yang seperti dia. Yang sekarang harus aku lakukan adalah JALANI HIDUPKU YANG BARU tanpa Dia.
Np : Cerpen yang menurut guee bisa ngebawa gue kedalam isinyaaa. Dari seneng-senengnya
, sedih
sampe yang emang bikin gue emosi banget nulisnyaa
Thank you yang udah mau nyempetin bacaaa .. don't forget yohh di comment
Np : Cerpen yang menurut guee bisa ngebawa gue kedalam isinyaaa. Dari seneng-senengnya
Thank you yang udah mau nyempetin bacaaa .. don't forget yohh di comment
Tidak ada komentar:
Posting Komentar