Sorry baru bisa ngerevisi cerpen ini, duluu duluu jaman gue kuliah, gue dapet cerita ini dari dosen gue. Dia cerita sampe nangis-nangis. Dan kita yang ngedernya juga ikutan nangis. Waktu itu kebetulan hari raya Ibu Kita Kartini. Dan kata dosen gue semoga menjadi inspirasi buat yang baca. Terus cerpen ini "sedikit" gue kembangin dengan beberapa dialog-dialog yang mungkin dapat dimengerti alurnya.
Dewi adalah wanita yang mungkin menurut teman-teman kantornya sangat sempurna. Gimana tidak, wajahnya sangat cantik, dia mempunyai suami yang tampan juga, memiliki anak laki-laki yang berumur 5 tahun bernama "Bayu", karirnya ditempat kerjanya sangat bagus. Setiap tahun dia naik jabatan. Dia memberikan kesuksesan bagi perusahaan tempat ia bekerja. Semua teman-teman dikantornya sangat menyayanginya karena keramahan, kebaikan, dan kinerjanya yang baik dikantor.
"Dewi, gimana sih supaya sperti kamu. Naik jabatan setiap tahun?" tanya salah satu temannya suatu hari. Mungkin pertanyaan itu sering sekali ia dengar. Malah bisa dibilang hampir semua orang yang berpapasan dengannya. Dewi pun selalu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan teman-temannya. Dari A-Z semua ia beritahu.ar
Dari mulai sikap yang harus sopan, rendah hati pada setiap orang. Dan dari segi penampilan yang memberikan aura positif serta setiap perkataan yang menjadi sebuah inspiratif bagi semua orang yang mendengar semua perkataannya.Dan Dewi juga selalu menceritakan kiat-kiat khusus dalam berumahtangga yang sakinah mawadah warohma.
Dari mulai sikap yang harus sopan, rendah hati pada setiap orang. Dan dari segi penampilan yang memberikan aura positif serta setiap perkataan yang menjadi sebuah inspiratif bagi semua orang yang mendengar semua perkataannya.Dan Dewi juga selalu menceritakan kiat-kiat khusus dalam berumahtangga yang sakinah mawadah warohma.
Sore hari Dewi baru tiba dirumah. Wajahnya tampak kelelahan. Ia menjatuhkan tubuhnya kesofa. Sebelum matanya terpejam ia menghela nafas dalam. Disamping sofa terdapat beberapa kertas-kertas yang diberi MAP . Dan leptop yang tergeletak tidak rapih.
"Mama , aku mau main sama mama." kata Bayu anak semata wayang Dewi yang menghampirinya sambil membawa mobil-mobilan. Disamping Bayu ada Bi Ijah yang mencoba mengajak Bayu agar tidak mengganggu Dewi.
"Aduh Bayu!! Main sama Bi Ijah ajah yah. Mama sibuk. Mama capek. Lihat neh mama bawa semua kerjaan ke rumah. Kamu main sama Bi Ijah ajah." kata Dewi langsung keruang kerjanya tanpa menengok kearah Bayu.
Karena kesibukan Dewi yang sangat amat banyak itu, dia hanya tau Bayu sudah ada disekolah, sudah makan pagi, siang dan malam. Dan sudah mandi, belajar dan tidur. Karena dari bayi Bayu hanya diurus oleh Bi Ijah pembantu dirumah yang sudah puluhan tahun bekerja dirumah Dewi. Dewi tidak mempunyai cukup banyak waktu untuk menemui anaknya. Semua kebutuhan Bayu diurus oleh Bi Ijah. SEMUA !!! SEMUANYA !!
cerpen
"Mah, aku mau disuapin mama." pinta Bayu keesokan paginya sebelum ia pergi kesekolah dan sebelum Dewi pergi kesekolah.
"Bayu, sama mba aja yah. Mama sibuk. Kerjaannya masih banyak." lagi-lagi Dewi sibuk dengan pekerjaannya. Ia tidak menghiraukan permintaan Bayu. Matanya fokus sama makanan yang ada didepannya.
"Bayu sama Papa saja yah disuapin?" tanya Bani , ayah Bayu yang memang baru pulang dari luar kota. Bayupun hanya mengangguk dengan mimik wajah yang kecewa dengan sikap mamanya.
"Bayu, sama mba aja yah. Mama sibuk. Kerjaannya masih banyak." lagi-lagi Dewi sibuk dengan pekerjaannya. Ia tidak menghiraukan permintaan Bayu. Matanya fokus sama makanan yang ada didepannya.
"Bayu sama Papa saja yah disuapin?" tanya Bani , ayah Bayu yang memang baru pulang dari luar kota. Bayupun hanya mengangguk dengan mimik wajah yang kecewa dengan sikap mamanya.
Semua teman Dewi tidak tau dengan kehidupan rumah tangga Dewi. Yang mereka tau dan mereka dengar dari semua kata-kata Dewi kalau keluarganya sangat harmonis.
Hingga pada suatu hari. Dewi diberi tugas keluar kota oleh bosnya dikantor. Dia pun meninggalkan Bayu dengan Bi Ijah. Sang Papa juga sedang bertugas diluar kota. Dirumah hanya mereka berdua saja. Di tengah perjalanan Bi Ijah menelpon Dewi.
"Bu Bayu mau bicara." kata Bi Ijah dari sebrang telepon.
"Aduhh ngapain sih?! Saya kan buru-buru Bi. Yaudah kasih teleponnya."
"Aduhh ngapain sih?! Saya kan buru-buru Bi. Yaudah kasih teleponnya."
"Mah, mama kapan pulang?" tanya Bayu di telepon.
"Sayang, anak mama yang ganteng. Baru juga mama pergi. Mama di Bandung 3 harian yah nak. Mama nanti pulang Bayu. Mama nanti bawain oleh-oleh buat Bayu. Udah yah." tuuuutt. Dewi langsung menutup teleponnya tanpa memberi salam pada Bayu.
Beberapa menit kemudian telepon Dewi kembali berderin.
"Bu, Bayu sakit. Badannya panas."
"Yaudah kamu kasih obat. Ada Tempra dilemari obat. Sebentar lagi dokter akan datang. Saya udah telepon Dokternya Bayu."
Setelah dokter memeriksa Bayu. Bayu pun sehat kembali.
Keesokan harinya Bi Ijah mencoba menelpon Dewi. Kali ini Bayu sakit lagi. Demamnya semakin tinggi. Dan telepon Dewi berdering kembali.
"Ibu, Bayu sakit lagi."
Jawaban yg sama terlontar dari mulut Dewi. "Kasih obat aja. Tempra 1 sendok takar tiap 4 jam kalo panas lagi. Udah Bi saya sibuk. Nanti saya telepon lagi.
10menit kemudian.
"Ibu, Bayu masuk UGD."
Dewi yang mendapat telepon itu memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Perjalanannya waktu itu masih ditengah jalan. Kondisi jalan sangat macet.Pekerjaan yang di Bandung pun dialihkan oleh temannya.
Saat Dewi menuju Jakarta, Bayu sudah masuk ruang ICU. Saat Dewi tiba dirumah sakit. Bayu menghembuskan nafas terakhirnya. Dia sudah meninggal. Bayu sudah diambil sang pencipta. Bayu sudah bertem penciptanya.
Dewi berusaha untuk ikhlas. Berusaha air matanya tidak keluar. Tapi apadaya, dia tidak bisa menutupi kesedihannya. Anak satu-satunya telah pergi selamanya.
"Bayu banguun nak, ini Mama. Bayu bangun Yuu. Katanya mau main sama Mama. Bayuu bangun, Mama udah disini sayang.a"
"Dewi yang kuat yah." beberapa kerabat terus memberi dukungan.
"Iya aku sabar. Aku kuat. Aku ikhlas."
Saat pemandian Bayu tiba. Disana ada Dewi, Bani ayah Bayu dan Bi Ijah sang Baby sister dan orang yang memandikan.
Ibu maaf, sebelum Bayu meninggal. Bayu menitip pesan sama ibu." kata Bi Ijah memberikan secarik kertas.
"Apa?" tanya Dewi berusaha untuk tegar. Dewi membuka lipatan kertas yang ia terima.
MANDIKAN AKU SEKALI SAJA mah .... Dibawah tulisan itu Bayu menggambar hati dan tulisan Mama
Dewi yang membaca surat kecil itu tidak bisa menahan lagi air matanya. Dia tidak bisa tabah dan mengikhlaskan Bayu untu pergi
"Bayu ini mamah Nak. Mama mau mandiin Bayu. Bayu bangun Nak." ucap Dewi sambil menyirami Bayu dengan air. Air matanya membanjiri ruang pemandian Bayu. Isak tangis penyesalan tampak terlihat disana.
![]() |
| Thank Mom, you are special for me |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar